news
UMUM
Soal Dana Swadaya, CdM SEA Games Minta Cabor Tenang
11 October 2019 13:02 WIB
berita
Ilustrasi pertandingan gulat.
JAKARTA – Keputusan yang diambil Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terkait tujuh cabang olahraga (cabor) SEA Games XXX/2019 Filipina yang masuk jalur pemberangkatan mandiri, menuai reaksi. Mereka berharap mendapat dukungan dana dari Pemerintah. 

Sekadar informasi, ketujuhnya cabor yang dimaksud: bola tangan, layar, anggar, gulat, tenis meja, floorball, dan hoki bawah air. Kurang lebih satu bulan sebelum berlaga di Filipina, kenyataan pahit harus mereka terima. Atlet-atlet yang sudah dipersiapkan terancam gagal berlaga di SEA Games.




Baca Juga :
- Beto Terancam Batal ke SEA Games
- Unggul Dulu, Timnas U-22 Indonesia Harus Puas Ditahan Imbang Iran




Bukan hanya tak mendapat jatah anggaran Pemerintah, KOI belum melakukan enrty by name untuk ketujuh cabor tersebut. Padahal, Panitia Pelaksana SEA Games Filipina (PHISGOC) menentukan 7 Oktober 2019 sebagai tenggat pendaftaran. KOI berdalih sudah melobi agar dapat kelonggaran.

Manajer tim nasional (timnas) layar, Teddy Nanang, berharap ada perubahan kebijakan. “Kami sangat berharap masuk hitungan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). KOI sudah memasuki periode baru dan saya optimistis Bapak Raja Sapta Oktohari akan membantu,” ujarnya, Kamis (10/10).


Baca Juga :
- Timnas U-22 Malaysia Berpeluang Diperkuat Pemain MLS Amerika Serikat
- Preview Indonesia U-23 vs Iran U-23, PR dan Target yang Diinginkan Indra Sjafri


Terhitung sejak SEA Games XXVII/2013 Nay Pyi Taw, cabor layar memang tak kunjung menyumbangkan emas untuk Indonesia. Bahkan, SEA Games XXIX/2017 Kuala Lumpur seolah menjadi titik nadir bagi prestasi layar nasional karena tak satu pun medali yang berhasil mereka bawa pulang.

Ya, Indonesia nirmedali dari National Sailing Center, Langkawi, Malaysia, lokasi pertandingan layar SEA Games 2017. “Kami juga meminta KOI untuk bisa mendaftarkan atlet-atlet layar (ke entry by name). Sampai sekarang, kami masih melengkapi data-data atlet,” Teddy menambahkan.

Kepala Penelitian dan Pengembangan (Kabid Litbang) Pengurus Besar Asosiasi Bola Tangan Indonesia (PB ABTI), Edy Nurinda, mengatakan daripada berangkat mandiri, bola tangan baiknya tak tampil di SEA Games 2019. Harus diakui, sebagai olahraga tim, dana yang dibutuhkan ABTI tak sedikit.

Meski begitu, Edy memahami jika keputusan KOI dan Kemenpora tersebut didasarkan pada potensi medali. “Kecuali, misalnya, Pemerintah menjamin kalau (bola tangan) bisa mendapatkan medali, dana yang sudah kami (ABTI) keluarkan bakal diganti. Itu tidak masalah,” ujarnya kepada wartawan.

Chef de Mission Indonesia untuk SEA Games 2019, Harry Warganegara Harun, meminta pengurus cabor tetap tenang terkait wacana pemberangkatan mandiri. Masih ada peluang untuk dapat suntikan dana dari APBN. Untuk diketahui, dana yang diberikan Pemerintah untuk kontingen, Rp 47 miliar.

“Kami akan lihat dulu seperti apa hitung-hitungannya. Mereka bisa saja mendapat pembiayaan dari dana Pemerintah. Atau, sebenarnya ada dana sekitar Rp 2,5 miliar untuk timnas sepak bola. Namun, PSSI sepertinya tak akan menggunakan. Itu bisa dialihkan untuk cabang lain,” kata Harry.

Keputusan untuk memasukkan tujuh cabor dalam jalur pemberangkatan mandiri memang layak memunculkan kegelisahan di kalangan pengurus cabor. Utamanya untuk lima di antaranya karena berstatus sebagai cabang Olimpiade, yang notabene jadi fokus Kemenpora dalam beberapa tahun terakhir.

Ya, sudah sejak lama Pemerintah menjadikan Olimpiade sebagai muara terakhir pembinaan nasional. Kemenpora ingin agar Indonesia tak melulu mengandalkan bulu tangkis dan angkat besi dalam pesta olahraga terbesar dunia tersebut. Indonesia harus memperbesar peluang lewat cabang lain. 

Hal tersebut tentu tak serta merta diwujudkan, melainkan harus melalui proses panjang. Yang juga perlu digarisbawahi, pembinaan berjenjang dari usia dini. Jika kesempatan tampil di SEA Games saja tak dimiliki bola tangan, anggar, layar, tenis meja, dan gulat, bagaimana mereka bisa menggapai jenjang lebih tinggi.*KRISNA C. DHANESWARA

loading...
L
Penulis
Lily Indriyani Sukmawati
news
news