news
UMUM
Tujuh Cabor Berangkat ke SEA Games Pakai Dana Pribadi
09 October 2019 07:24 WIB
berita
JAKARTA – Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengubah kebijakan soal pemberangkatan kontingen ke SEA Games XXX/2019 Filipina. Selasa (8/10), KOI memastikan cabor yang tak diberangkatkan Pemerintah tetap bisa berlaga namun lewat jalur mandiri.

Padahal, sebelumnya, KOI bersikukuh jalur mandiri seperti SEA Games XXVIII/2015 Singapura dan SEA Games XXIX/2017 Kuala Lumpur, ditiadakan. Ketua KOI, Erick Thohir, menyatakan pihaknya punya alasan kuat mengapa cabor diperbolehkan memberangkatkan atlet secara mandiri.




Baca Juga :
- Jika Serius, Luis Milla Minta PSSI Kirim Surat Resmi
- Masuk Pot Unggulan, Calon Lawan Inter di 32 Besar Tidak Berat, Peluang Lolos Besar




Menurutnya, SEA Games 2019 jadi kesempatan atlet untuk mengasah mental tanding. Yang juga perlu dicatat, dua tahun lalu, atlet dari jalur mandiri mempersembahkan perunggu. Stevanus Wirahardja dari ice skating menjejak podium ketiga nomor short track speed skating 3.000 meter putra.

Kendati demikian, masih ada peluang pihaknya mengubah kebijakan. Syaratnya, KOI mendapat tambahan anggaran atau uang yang disediakan Pemerintah, cukup untuk memberangkatkan lebih dari 45 cabor ke Filipina Sekadar informasi, budget yang ditetapkan Pemerintah ada di angka Rp47 miliar.


Baca Juga :
- Profesor Djoko Pekik: Hasil SEA Games Belum Memuaskan, Tapi Patut Diapresiasi
- SEA Games 2019 Resmi Ditutup, Sampai Jumpa di SEA Games 2021 Vietnam


Kemarin, KOI memastikan ada 673 atlet dari 45 cabor yang tampil dengan biaya Pemerintah. Tujuh lainnya berpartisipasi secara swadaya: bola tangan, layar, anggar, gulat, tenis meja, floorball, dan hoki bawah air. Hal ini dikemukakan Erick di sela-sela pelepasan kontingen ke ANOC Beach Games.

Ironisnya, lima di antaranya berstatus sebagai cabang olahraga Olimpiade, bola tangan, tenis meja, anggar, layar, dan gulat. “Untuk cabang-cabang yang masuk daftar Kemenpora juga bisa menambah atlet namun lewat jalur mandiri,” ujar Erick kepada wartawan di Wisma Kemenpora, Jakarta, Selasa (8/10).

Erick mengatakan, potensi medali jadi dasar Pemerintah dan KOI dalam menentukan. “Jadi, kami juga melakukan monitoring dan evaluasi (monev). Hasilnya, ada 45 cabor yang kami berangkatkan dengan 670-an atlet. Target di SEA Games 2019 adalah 45 emas dan lebih baik dari SEA Games 2017,” katanya.

Chef de Mission SEA Games 2019, Harry Warganegara Harun, mengatakan ketujuh cabor yang masuk klasifikasi jalur mandiri belum didaftarkan entry by name. Padahal, input data atlet dan ofisial ditutup, Senin (7/10). Namun, KOI mengaku sudah komunikasi dengan Panitia Pelaksana SEA Games Filipina (PHISGOC).

Mereka meminta agar PHISGOC memberi waktu tambahan untuk pendaftaran atlet. Erick pun optimistis, penyelenggara akan mengabulkan permintaan tersebut. “Prinsipnya adalah PHISGOC senang jika yang ikut (SEA Games 2019) semakin banyak. Jadi, hal seperti ini bukan masalah,” ia menegaskan.

Masih Optimistis

Salah satu cabang yang masuk jalur pemberangkatan mandiri, mengaku belum mendengar kabar tersebut. Dalam waktu dekat, Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bola Tangan Indonesia (PB ABTI), Dody Usodo Hargo, akan mengonfirmasi kebenaran berita ini kepada Kemenpora dan KOI.

Namun, Dody menuturkan, sangat aneh jika tim nasional (timnas) bola tangan berangkat ke Filipina secara swadaya. Pasalnya, ini adalah cabang yang dipertandingkan dalam Olimpiade. Mereka juga akan berjuang untuk mengibarkan Merah Putih di negeri orang.

Sekadar informasi, timnas bola tangan pantai putra menjalani pemusatan latihan di Jepara. Selama masa persiapan, mereka dapat dana dari Pemerintah. “Berjuang untuk negara namun biaya sendiri? Saya rasa, mustahil bola tangan tidak masuk kontingen yang dibiayai negara,” kata Dody.*KRISNA C. DHANESWARA

loading...
L
Penulis
Lily Indriyani Sukmawati
news
news