news
ONE CHAMPIONSHIP
Perjuangan Mei Yamaguchi Meraih Kesetaraan di Dunia Seni Bela Diri
08 October 2019 13:37 WIB
berita
Mei “V.V” Yamaguchi menjalani laga seni bela diri campuran pertamanya pada Maret tahun 2007
Ketika Mei “V.V” Yamaguchi menjalani laga seni bela diri campuran pertamanya pada Maret tahun 2007, bayarannya terbilang rendah. Angkanya jauh di bawah atlet pria dengan pengalaman yang sama.

Namun banyak hal berubah sejak saat itu. Atlet berusia 36 tahun ini akan berlaga dalam panggung seni bela diri terbesar sepanjang sejarah saat ia menghadapi Jenny “Lady GoGo” Huang dalam pergelaran bertajuk ONE: CENTURY PART II.




Baca Juga :
- SANRR 2019 Sukses, Dankodiklatad, Super Adventure dan Montesz, Luar Biasa
- James-Davis Bawa Lakers Lakoni Start Hebat di NBA




Satu dekade yang lalu, “V.V” dan juga kebanyakan atlet wanita lainya tidak memiliki kesempatan seperti saat ini. Mereka kesulitan untuk dapat diterima dan dihargai layaknya atlet pria. Dan kini, perjuangan mereka membuahkan hasil. 

“Ketika saya pertama kali bertarung di Jepang, itu adalah turnamen khusus wanita dan ajang lain semacam Smackgirl,” urainya. 


Baca Juga :
- Sepak Bola Indonesia Dikhianati Para Pemiliknya
- Ketua Umum PSSI Iwan Bule Disarankan Rekrut Sekjen dari KPSN


“Saya mulai bertarung di Pancrase dan itulah dimana laga wanita berada di antara [laga] para pria. Saat itu, saya ingat para pria berujar ‘mengapa laga saya ditandingkan sebelum laga wanita?’”

Kala itu, perwakilan dari Riki Gym ini mengalami kesulitan. Wanita masih belum terbiasa dengan konsep bahwa mereka pun bisa menjadi seniman bela diri campuran. Bagi mereka yang sudah berada dalam jalur tersebut, kompetisi yang mereka jalani tidaklah menantang. 

“Para petarung wanita harus [bekerja keras] menunjukkan bahwa pertandingan kami menarik,” tutur Mei. 

“Kami harus menunjukkan agresivitas. Kami harus menunjukkan bahwa laga para wanita juga menarik. Saya pikir banyak petarung yang memandang petarung wanita dengan sebelah mata.”

Mei memperjuangkan dua hal – kemenangan di atas ring dan juga membuat seni bela diri campuran wanita diperhatikan. 

Tingkat eksposur yang ada terlampau rendah serta biaya untuk latihan dan bertanding yang harus dikeluarkan lebih besar dari uang yang ia hasilkan, namun cintanya terhadap olahraga ini membuat terus berjuang. 

“Jika saya harus bersiap menghadapi laga – dan mungkin saat saya mengalami cedera – saya harus pergi ke doktor untuk menerima perawatan. Saya harus mengeluarkan biaya dan angkanya lebih besar dari pendapatan bertarung saya!” kenangnya.  

“Itu gila. Saya benar-benar tak bisa bertarung demi uang. Saya bertarung karena saya menyukainya dan itulah hidup saya.”

Seiring waktu berjalan dan lebih banyak wanita terjun ke dunia seni bela diri campuran, kesempatan bagi Mei dan juga atlet lainnya semakin berkembang.

Pada tahun 2011, ia mencetak sejarah ketika menjadi bagian dalam laga utama promotor Pancrase mengungguli 20 pria yang juga berlaga di pergelaran tersebut. Hal ini membuka jalan bagi pertandingan kelas atas lainnya. 

“Saya berlaga di tajuk utama dengan Tomomi Sunaba,” tuturnya. 

“Dia adalah petarung legendaris yang telah bertanding untuk Pancrase dalam waktu yang lama,” tutup Mei. *

loading...
news
Penulis
Suryansyah
news
news