news
UMUM
Kisah Perjuangan Pemain Terbaik EPA U-16 2019, Berlari ke Stasiun Mengejar KRL
07 October 2019 11:03 WIB
berita
Pemain Terbaik EPA U-16 2019 Althaf Indie - TopSkor/Sri Nugroho
PERJUANGAN itu tak kenal jarak. Demi cita-cita, jarak hanyalah bagian dari proses menuju sukses. Itulah yang ditanamkan Althaf Indie Alrizky. Sebagai contoh, Althaf harus bersaing dengan jadwal kereta setiap pulang sekolah. Terlambat semenit saja, ia sudah pasti telat mengikuti latihan.

Sebab, bocah kelahiran 6 Januari 2003 ini tinggal di Bekasi dan berlatih di Bogor, markas PS Tira Persikabo U-16. Terbentang jarak sekitar 70 kilometer. Hanya ada satu akses paling ekonomis, yakni Kereta Rel Listrik (KRL) untuk sampai di Bogor. Dengat sepeda motor terlalu, sedang mobil tak punya.




Baca Juga :
- Daftar Pemain Timnas Malaysia untuk Hadapi Thailand dan Indonesia
- Persaingan Grup X Liga 2 2019 Kian Panas, Mitra Kukar Ogah Pulang Cepat




“Saya tinggal di Bekasi. Sepulang sekolah, saya harus berburu waktu agar tidak ketinggalan kereta api menuju lokasi latihan atau pertandingan. Misalnya kalau latihan di Bogor, sering kali saya dan teman-teman harus berlari ke stasiun agar tidak ketinggalan kereta,” kata Althaf kepada TopSkor.

Perjuangan itu, kiranya tak terbayar tuntas pada Minggu (6/10). Bertempat di Stadion Sultan Agung, Bantul, tim yang ia bela berhasil menjadi juara Elite Pro Academy (EPA) U-16 2019, setelah menaklukkan Bhayangkara FC U-16 dengan skor 2-1. Manisnya lagi, Althaf ditetapkan sebagai pemain terbaik.  


Baca Juga :
- Sudah Empat Kali Bertemu Selama 2019, Persija Kudu Waspada Semangat Revans Borneo FC
- Daftar Pemain Borneo FC untuk Menghadapi Persija


Sepanjang musim  ini, pemain yang beroperasi sebagai penyerang sayap dan mengenakan nomor punggung 15 itu tampil konsisten dan spartan. Namun, Althaf sangat kaget saat namanya disebutkan sebagai pemain terbaik EPA edisi kedua ini. Ia sama sekali tak pernah membayangkan hal tersebut.

“Saya tidak menyangka sama sekali akan terpilih sebagai pemain terbaik,” ucapnya dengan haru. “Ya karena memang ada banyak pemain-pemain lain yang tampil bagus. Yang pasti saya sangat bersyukur dengan penghargaan ini,” kata pemain yang pernah membela tim TopSkor Indonesia dalam ajang Gothia Cup Swedia 2016 ini.

Ini adalah gelar pertamanya di pentas internasional. Karenanya, ia persembahkan gelar ini untuk kedua orang tuanya. “Memang orang tua saya tidak bisa hadir di Bantul menyaksikan final kali ini. Namun ini semua berkat doa orang tua saya juga tim bisa juara dan saya jadi pemain terbaik,” ucapnya.

Terlepas dari itu, gelar ini semakin memacu andrenalinnya untuk berlatih lebih giat dan keras lagi. Gelar usia dini hanya pencapaian semu jika tidak dibarengi pencapaian lebih baik pada usia selanjutnya. Salah satunya, Althaf ingin kembali membela timnas Indonesia kategori usia pada tahun-tahun mendatang.

“Saya tentu ingin kembali membela timnas Indonesia. Terakhir kali saya dipanggil membela timnas itu pada 2017, yakni dalam ajang Piala AFF U-15 2017 di Thailand. Semoga kesempatan buat saya kembali terbuka,” kata Althaf. Untuk itu, Althaf harus terus berjuang dengan baik dan benar.* Sri Nugroho

loading...
news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news
news