UMUM
Demi Menjaga Keutuhan KOI, Oegroseno Mundur dari Pencalonan Ketua Umum KOI
06 October 2019 20:19 WIB
berita
Oegroseno  tak ingin suasana seperti Pilpres kemarin terulang dalam pemilihan Ketum KOI.
JAKARTA -  Mantan Wakapolri, Komjen Pol (Purn) Oegroseno SH, MH, memilih lebih baik mundur dari rencana pencalonannya dalam konstelasi pemilihan Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) periode 2019-2023.

Kabar mundurnya Oegroseno tentu mengejutkan. Pasalnya Kongres akan berlangsung pada 9 Oktober 2019 atau tiga hari sebelum pertarungan.  Oegroseno menyatakan mundur melalui juru bicaranya, Umbu S. Samapatty, SH, MH setelah keduanya tiba di KOI di Gedung FX lantai 11 GBK untuk mendaftarkan diri sebagai calon pada Minggu (6/10/2019) petang. 




Baca Juga :
- Awalnya Berjalan Tentram, Kongres KOI Bersifat Tertutup dan Sempat Ricuh
- Ini Target KOI di Bawah Kepemimpinan Raja Sapta Oktohari




Oegeoseno bersama Umbu Samapatty mesti datang hari itu ke KOI sebab batas waktu pendaftaran adalah Minggu 6 Oktober dan ditutup pada pukul 20.00 WIB. "Tepat pukul 17.15 WIB, atau setelah 15 menit tiba di KOI  di lantai 11 Gedung FX, Pak Oegroseno menyatakan mundur untuk tidak menimbulkan kubu-kubuan di antara kedua calon. Tidak baik seperti itu," tutur Umbu Samapatty menirukan ucapan Oegroseno yang adalah juga Vice Presiden Tenis Meja Asia ini. 

"Saya tidak bisa memaksa Pak Oegroseno untuk tetap maju, karena saya melihat niat baik Pak Oegroseno untuk melakukan perubahan pada dunia olahraha Indonesia. Ia memikiki kapasitas, dan kapabilitas, untuk mengurai carut-marut olahraga Indonesia bila dalam statusnya sebagai Ketua Umum KOI dan sebagai pemegang salah satu stakeholder olahraga Indonesia. Tetapi yang bertutur pada saya adalah suara hati Pak Oegroseno, dan saya tak mungkin bisa melawan suara hati itu," jelas Umbu, pengacara yang sudah 30 tahun malang melintang di organisasi olahraga Indonesia ini.


Baca Juga :
- Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2032 Menjadi Tugas Pertama Kepengurusan KOI Baru
- Maju Memperebutkan Kursi Ketua Umum KOI, Oegroseno Siap Tantang Raja Sapta Oktohari


Dia mengatakan dari tata cara deklarasi yang dilakukan oleh salah satu calon, Oegroseno melihat situasi itu akan persis sama membawah ke suasana polarisasi atau terbelahnya dua kubu besar seperti pada waktu Pilpres kemarin. 

Sebagai mantan pejabat tinggi Polri, apalagi mantan Wakapolri, menurut Umbu, Oegroseno  tak ingin suasana seperti Pilpres kemarin terulang kembali. Apalagi itu terjadi di dalam dunia olahraga. Lebih baik mundur dan menyerahkan pekerjaan besar itu pada yang lebih muda dan lebih energik sebut Umbu Samapatty. 

Apa yang salah dengan deklarasi yang dilakukan oleh Raja Sapta Oktohari? Menurut Umbu, bila baru bakal calon sudah menyeret cabor-cabor lewat sebuah deklarasi dengan membawa bendera (petaka) cabor itu sudah pasti cabor-cabor akan terseret dalam perpecahan, terbelah dalam kubu-kubu yang tidak perlu, dan itu yang tidak diinginkan oleh Oegroseno. 

Satu lagi sebut Umbu yang keliru dalam deklarasi adalah Cabor tenis meja, bendera/petakanya turut terpajang dalam deklarasi calon. Padahal ketua umum tenis meja yang di akui KOI adalah PP PTMSI pimpinan Oegroseno. Apapun alasannya tidak boleh KOI melakukan seperti itu.  

Satu lagi menurut Umbu tentang tidak fairnya tim penyaringan. Coba cek siapa mereka dalam tim penyaringan itu, kedua, tidak memberi kesempatan yang luas agar lebih banyak calon yang maju dalam pencalonan. Kalau banyak pasti bagus dan berkualitas.*

news
Penulis
Suryansyah