TOP FEATURE FOOTBALL
Maddison Tak Bisa Mencetak Gol Tanpa Andil Orangtuanya
05 October 2019 13:47 WIB
berita
Gelandang serang Leicester City James Maddison melakukan selebrasi usai mencetak gol dalam sebuah laga./AFP
JAMES Maddison tak pernah ingin tampil angkuh. Ada garis tipis antara percaya diri dan sombong. Jika dia berdiri di sisi yang salah, sang ibu akan langsung mengkritiknya. Gelandang serang Leicester City FC itu merasa perlu optimistis karena tak akan ada yang mau melakukan untuknya. Kepercayaan diri harus dimulai dari diri sendiri.

“Saya selalu berusaha menunjukkan kemampuan dan bakat saya. Namun saya juga orang yang rendah hati karena itu cara orangtua membesarkan saya. Mereka selalu mengatakan bangga dengan saya, setiap hari, jadi saya pasti sudah melakukannya dengan benar,” kata Maddison.




Baca Juga :
- Mundur dari Timnas Inggris, Playmaker Leicester Ini Kedapatan Berjudi
- Pemain Ini Diprediksi Mampu Menjadi "Game Changer" Timnas Inggris




Jika sang ibu yang mengajarinya nilai-nilai hidup, maka sosok ayah yang menjaga mimpi Maddison menjadi pemain profesional. “Saya tidak akan bisa mencetak gol di Liga Primer tanpa dedikasi mereka. Menemani saya bepergian ke Cardiff pada Minggu pagi karena tidak ada perjalanan dengan bus mini,” lanjutnya.

Steven Pressley adalah sosok lain yang membentuk karier Maddison. Ia yang membawa pemain kelahiran 23 November 1996 itu ke Coventry City FC pada usia 16 tahun, memberinya kesempatan debut pada 2014. Dan Pressley punya gaya melatih yang unik. Setiap hari dia meminta Maddison mencuci mobilnya hingga bersih.


Baca Juga :
- Juergen Klopp Mengecam Tackle Hamza Choudhury yang Menyebabkan Salah Cedera
- Menjadikan Masa Kepemimpinan di Liverpool sebagai Kurva Pembelajaran


Pemain muda itu pun melakukannya walau heran dengan instruksi tersebut. “Di hari pertama, saya mencuci mobilnya selama 1,5 jam. Cuaca cukup dingin. Pressley keluar, memeriksa mobilnya, dan mengatakan itu atap mobil tidak cukup bersih!” Belakangan Maddison baru menyadari sang pelatih mengajarkan perihal detail dan disiplin.

Menariknya atlet yang diidolakan Maddison ternyata bukan dari kalangan sepak bola. Dia justru fan kriket yang loyal, dan meyakini kepahlawanan Ben Stokes sepanjang musim panas menunjukkan kepercayaan diri dan ketenangan yang ia miliki di bawah tekanan, yang dia yakini bisa diterapkannya dalam permainan sepak bola.

Maddison teringat menonton Ashes 2005, usianya delapan atau Sembilan tahun. Juga di tahun 2009 ketika Andrew Flintoff berdiri dengan tangan terentangnya. Momen itu begitu kuat tertanam dalam benak Maddison hingga kini. Dan setelah itu dia tak pernah absen menonton kepahlawanan Graeme Swann dan Kevin Pietersen bersama Inggris.

Satu hal yang agaknya masih sulit diadaptasi Maddison adalah popularitas. Sekarang dia langsung bisa dikenali di depan umum. Tetapi gelandang 22 tahun itu selalu berusaha memahaminya dari kedua sisi. Dia mengaku tak akan pernah menolak permintaan foto atau tanda tangan dari para penggemar sepak bola. Asalkan dengan sikap santun.

“Saya tidak akan pernah mengatakan tidak. Saya selalu siap untuk itu karena saya juga akan bersikap sama; jika saya melihat Ed Sheeran, saya akan meminta fotonya! Terkadang Anda lupa sopan santun jika melihat tokoh terkenal. Saya tak cocok dengan sikap itu. Siapapun lawan bicara Anda, sekalipun dia pelayan, jagalah sopan santun!”*NURUL IKA HIDAYATI

 

 

I
Penulis
I Gede Ardy E