TOP FEATURE FOOTBALL
Menjadikan Masa Kepemimpinan di Liverpool sebagai Kurva Pembelajaran
04 October 2019 15:23 WIB
berita
Pelatih Leicester City Brendan Rodgers siap menjadi penghambat bekas klubnya, Liverpool di Liga Primer musim ini./AFP
PELATIH Leicester City FC, Brendan Rodgers mengakui pengalamannya mengasuh Liverpool FC adalah “sebuah hak istimewa”. Hal tersebut diungkapkannya jelang kembali ke Stadion Anfield, kandang The Reds pada Sabtu (5/10) sore. Namun kali ini Rodgers akan datang sebagai lawan.

Pelatih asal Irlandia Utara itu menghabiskan tiga tahun di Anfield antara 2012 hingga 2015. Ia terbilang sukses, membawa Liverpool finis sebagai runner-up Liga Primer di belakang Manchester City FC pada 2013/14. Dan, Rodgers selalu memuji bekas klubnya, menggambarkan masanya di Merseyside sebagai kurva pembelajaran dalam kariernya.




Baca Juga :
- Mundur dari Timnas Inggris, Playmaker Leicester Ini Kedapatan Berjudi
- Moh Salah Dirangkul Model Cantik Brasil, Warganet Malah Baper




“Saya benar-benar berharap untuk kembali. Saya memiliki hak istimewa ketika melatih di sana. Banyak momen pembelajaran yang saya dapat di Liverpool. Saya selalu mengambil hal-hal positif ketika saya menganalisis waktu saya di sana,” ujar Rodgers.

Ia melanjutkan, “Awalnya berjalan dengan baik dan bahkan kami nyaris merebut gelar. Tahun ketiga lebih sulit tetapi ada pembelajaran besar bagi saya sebagai pelatih. Musim keempat tidak bertahan lama."


Baca Juga :
- Sosok Vital MU untuk Hadapi Liverpool
- Penyuka Komedi Satire dan Ingin Mengubah Stigma terhadap Pesepak Bola


Rodgers pun tidak sabar untuk melihat mantan anak asuhnya seperti Jordan Henderson. “Dia sosok pemain dengan jiwa kepemimpinan yang nyata dan Anda dapat melihat bagaimana Hendo (Henderson) tetap menjadi pemain vital bagi Liverpool,” ucap Rodgers lagi.

Liverpool telah memenangi tujuh pertandingan awal Liga Primer mereka dan kini kokoh di puncak klasemen. Sementara Leicester berada di urutan ketiga, tertinggal tujuh poin dari The Reds. Yang menarik, Rodgers memuji penggantinya di Anfield, Juergen Klopp, yang berusaha membawa tim meraih gelar Liga Primer pertama mereka.

“Juergen telah melakukan pekerjaan fantastis. Dia mampu membawa keharmonisan dan kebersamaan yang nyata bagi tim dan fan. Konsistensi juga membantu. Ada area-area yang ia perkuat dengan pemain top, Virgil (Van Dijk), Alisson Becker, mereka pemain talenta muda, yang meningkatkan kualitas skuatnya,” ujar Rodgers.

Rodgers juga berbicara soal Celtic FC. Dia meraih tujuh penghargaan domestik utama berturut-turut di Parkhead dan berada di ambang treble yang belum pernah terjadi sebelum memutus kontraknya. Leicester memecat Claude Puel pada Februari lalu untuk kemudian mengangkat Rodgers sebagai pelatih mereka hanya dua hari kemudian.

Sebagian besar fan Celtic kecewa dengan keputusan Rodgers. Delapan bulan kemudian, The Foxes berada di posisi ketiga di Liga Primer. “Saya menjalani mimpi saya mengelola Celtic, klub yang saya dukung,” ujarnya. “Tapi setiap pelatih dan pemain punya tujuan yang ingin mereka capai. Saya pikir (tawaran) Leicester terlalu bagus untuk ditolak.”

Celtic akhirnya menjuarai liga domestik dan Piala Skotlandia dengan Neil Lennon sebagai penggantinya, menyelesaikan treble bersejarah, sementara Rodgers membawa Leicester ke posisi kesembilan di Liga Primer 2018/19. Sedangkan untuk pasukannya di King Power, Rodgers merasa dia memiliki atribut untuk berkembang.

“Pemain seperti James Maddison, lebih baik dari yang saya kira saat melihatnya di Aberdeen dan Norwich. Lalu ada bakat muda seperti Ben Chilwell dan Harvey Barnes. Pemain senior, Wes Morgan, Kasper Schmeichel, Jamie Vardy, dan Marc Albrighton, juga luar biasa. Saya bisa bilang tim ini memiliki mental pemenang,” kata Rodgers.*NURUL IKA HIDAYATI

 

 

 

I
Penulis
I Gede Ardy E