news
MOTOGP
Dovizioso: Marquez Sulit Dianalisis
01 October 2019 14:10 WIB
berita
Andrea Dovizioso (Istimewa).
BOLOGNA – Andrea Dovizioso menegaskan Desmosedici GP19 lebih baik daripada GP18. Padahal, tahun ini, pembalap Mission Winnow Ducati itu kerap kesulitan dan tak mendapat hasil yang diharapkan. Sejauh ini, dirinya baru meraih dua kemenangan, masing-masing di Grand Prix (GP) Qatar dan Austria.

Tahun lalu atau saat mengendarai GP18, Dovizioso meraih empat kemenangan. Bahkan, ia bersaing ketat dengan Marc Marquez dalam perebutan gelar juara dunia. Sayang, kondisi sebaliknya terjadi, musim ini. Dovizioso tak mampu menandingi pembalap Repsol Honda tersebut saat mengendarai RC213V.




Baca Juga :
- Hasil Balapan MotoGP Australia: Marquez Menang Lagi, 5 Rider Gagal Finis
- Ternyata Marquez Disuruh Juara di Thailand Oleh Presiden Honda




“Rival bekerja sangat keras untuk membuat motor kompetitif dan konsisten. Jadi, kami harus melakukan hal sama agar lebih baik daripada sebelumnya. Tapi, situasi sekarang,  benar-benar sulit. Kami tak bisa mengatakan lebih buruk atau baik daripada tahun lalu,” kata Dovizioso via Speedweek.com.

Saat ini, Ducati baru meraih tiga kemenangan yang disumbangkan Dovizioso dan Danilo Petrucci. Namun, mereka harus bekerja ekstra jika ingin memperbaiki catatan di sisa musim. Meski peluang meraih gelar pembalap sangat sulit, mereka berpeluang meraih gelar juara dunia tim MotoGP 2019.


Baca Juga :
- Sudah Juara, Marquez Tetap Akan Berikan yang Terbaik di Sisa 4 Balapan
- Quartararo Disebut-sebut Mengendarai Motor Yamaha Layaknya Lorenzo


“Rasanya tak mungkin mengetahui detail motor rival. Anda juga harus membandingkan setiap motor dan pembalapnya, untuk mengetahui perbedaan. Jadi, Anda tak akan pernah tahu sepenuhnya apa yang mereka miliki. Saya rasa, ban juga menjadi salah satu faktor penting untuk sukses,” kata Dovizioso.

Tahun ini, pemasok ban tunggal MotoGP, Michelin menggunakan komponen baru. Kondisi ini memaksa setiap tim untuk menemukan setelan terbaik agar motor dapat bekerja dengan baik. Misalnya, Yamaha, yang masih kesulitan dengan ban hingga berujung pada performa kedua pembalapnya.

“Michelin selalu membawa ban dengan komponen berbeda di tiap lomba. Jadi, Anda harus mendapatkan setelan terbaik agar ban cocok dengan trek dan motor mengeluarkan potensi terbaik. Itu berlaku untuk semua motor. Yamaha, di Aragon mereka cepat pada latihan bebas tapi kesulitan saat lomba,” katanya.

Soal persaingan dengan Marquez, Dovizioso mengaku sulit bertarung dengan sang rival. Menurutnya, level GP19 belum mampu menyamai RC213V yang seolah tak mengalami kesulitan di sirkuit mana pun. Honda juga meningkat di sektor trek lurus yang sebelumnya menjadi keunggulan Ducati.

“Hal yang paling aneh dalam kejuaraan adalah Marc karena sulit dianalisis. Ia selalu berada di depan dan bertarung untuk meraih kemenangan. Rasanya benar-benar sulit ketika harus bertarung dengannya. Ya, ia selalu bisa membuat perbedaan saat lomba berlangsing,” ujar pembalap asal Italia tersebut.

Ducati juga pernah mengalami kesulitan dengan ban belakang yang terlalu cepat habis pada musim-musim sebelumnya. Namun, tahun ini, mereka berhasil menemukan solusi agar ban lebih bersahabat saat balapan. Tapi, Dovizioso menegaskan, hal itu juga bergantung pada gaya balap pembalap.

“Saya yakin kami sedikit lebih baik dibandingkan tahun lalu. Tapi, ban jauh berbeda, begitu juga dengan aspal di setiap sirkuit. Sayang, di sisi lain, lawan-lawan kami semakin kuat. Hal ini berimbas pada pertarungan di tiap lomba yang selalu berbeda,” ujar Dovi yang harus puas jadi runner-up pada 2017 dan 2018.*MUHAMAD FADLI RAMADAN DARI BERBAGAI SUMBER

L
Penulis
Lily Indriyani Sukmawati
news
news