news
INFOGRAFIS
Miralem Pjanic Bisa Menjadi Kunci Sukses Juventus
01 October 2019 07:33 WIB
berita
Gelandang Juventus Miralem Pjanic makin berkilau belakangan ini.-Topskor.id/istimewa-
TURIN – Gagal memetik poin penuh pada laga pembuka Grup D Liga Champions, dua pekan lalu, Juventus FC bertekad menebusnya di kandang sendiri, saat menjamu Bayer Leverkusen, Selasa (1/10) atau Rabu dini hari WIB. Bermodal kepercayaan diri tinggi—setelah memetik tiga kemenangan beruntun di Seri A—pasukan I Bianconeri yakin bisa mendulang hasil positif di Stadion Allianz.

Sejak tertahan di markas Atletico Madrid pada pertengahan September, Juve sudah melakukan pembenahan dalam tim. Mulai dari skema hingga komposisi pemain, semua dilakukan Maurizio Sarri untuk mengangkat prestasi anak asuhnya. Buah yang didapat adalah kemenangan di liga domestik atas Hellas Verona FC, Brescia Calcio, dan SPAL 2013.




Baca Juga :
- Dybala Bilang Gattuso Gila
- Sarri: Ronaldo Pecahkan 100 Masalah




Taktik permainan berganti dari 4-3-3 jadi 4-3-1-2, kemudian juga ada penyesuaian starter. Namun, salah satu sosok yang selalu dipercaya Sarri adalah Miralem Pjanic. Bagi sang pelatih, gelandang internasional Bosnia & Herzegovina itu adalah nyawa Juve. Dia bukan hanya mampu memberi kesimbangan dalam permainan, tapi kadang mengambil peran sebagai pemecah kebuntuan.

Buat Mire, Sarri memberikan target khusus, yakni memainkan 150 bola perlaga. Inilah cara agar pria 29 tahun itu mampu mengendalikan area secara sempurna, memudahkan dirinya dalam distribusikan umpan. Jumlahnya terus meningkat, dari 125 kali saat mengalahkan Brescia, jadi 129 ketika memukul SPAL. Jika mampu menjaga konsistensi permainan, bukan tak mungkin Pjanic bisa memenuhi tugas dari Sarri.


Baca Juga :
- Ronaldo Borong 2 Gol Lagi, tapi Akui Parma Tangguh
- Liverpool Terdepan Berburu Pemain Muda Jerman Ini, MU, Barcelona dan Muenchen Juga Berminat


Tapi yang terpenting bukanlah jumlah, melainkan bagaimana sang pemain mengeksekusi peran di lapangan. Saat ini, Pjanic sudah sangat memuaskan Sarri dengan caranya memimpin orkestra Juve. “Dia terus bergerak mencari ruang, menyalurkan bola, Mire mulai memperlihatkan diri sebagai pemain ideal. Kemudian, dia juga lebih sering memberi operan vertikal. Saya sangat senang,” ujar Sarri.

Lalu juga ada cerita soal dua gol dalam dua laga terakhir. Ini bukan kebetulan, tapi hasil kerja kerasnya mengasah kemampuan dan memahami irama tim. Terakhir kali Pjanic mencatat prestasi macam ini adalah Oktober 2017, di era sebelum kedatangan Cristiano Ronaldo. Semua tercipta lewat tembakan jarak jauh, keahlian terbesarnya. Sekitar 63 persen gol dalam karier Mire memang lahir dari luar kotak penalti, sebuah senjata yang bisa dimaksimalkan saat menjamu Leverkusen.

Pjanic akan kembali berada di barisan tiga gelandang sentral Juve, mendukung Aaron Ramsey yang melakoni peran trequartista. Kejelian Pjanic melepas umpan sangat dinanti Ronaldo dan Gonzalo Higuain, pasangan berpengalaman di Liga Champions yang diandalkan mendulang gol. Jika keduanya kesulitan, itulah saatnya Pjanic muncul melakukan keajaiban dari lini kedua.

“Selain kualitas fenomenal, dia juga memiliki karakter kuat. Saya tak tahu apakah semua ini turunan dari orang tuanya,” ujar Sarri sedikit bercanda. “Leverkusen? Laga nanti akan sangat sulit. Mereka adalah tim dengan penguasaan bola terbaik di Bundesliga, juga didukung kekuatan fisik dan teknik dribel.”

Leverkusen Siap

Dari kubu tamu, juga ada hasrat menebus kekecewaan. Maklum, pada laga pertama, Leverkusen tumbang 1-2 oleh FK Lokomotiv Moscow di kandang sendiri. Namun, seperti Juve, tim asuhan Peter Bosz itu juga menjawabnya dengan dua kemenangan beruntun di Bundesliga. Mental Kai Havertz dan kawan-kawan sudah pulih, kini siap membuat kejutan di Turin.

“Kami menghormati Juve sebagai tim besar Eropa. Tapi, di sisi lain juga sangat termotivasi untuk meraih hasil bagus. Tak ada kekhawatiran, kami hanya akan berusaha melakukan yang terbaik,” ujar penyerang Kevin Volland. Satu hal yang perlu diwaspadai Leverkusen adalah fakta bahwa mereka tak pernah menang dalam lima kunjungan terakhir ke Italia: empat kekalahan dan sekali seri melawan wakil Seri A sejak November 1999.*** Dari berbagai sumber

 

JUVENTUS (4-3-1-2)
1 Szczesny; 16 Cuadrado, 19 Bonucci, 4 De Ligt, 12 Sandro; 25 Rabiot, 5 Pjanic, 14 Matuidi; 8 Ramsey;
21 Higuain, 7 Ronaldo;
Cadangan: 77 Buffon, 28 Demiral, 24 Rugani, 30 Bentancur, 6 Khedira, 33 Bernardeschi, 10 Dybala;
Pelatih: Maurizio Sarri

LEVERKUSEN (4-2-3-1)
Hradecky; 8 L. Bender, 4 Tah, 5 S. Bender, 18 Wendell; 15 Baumgartlinger, 20 Aranguiz; 29 Havertz, 11 Amiri, 31 Volland; 13 Alario;
Cadangan: 28 Ozcan, 6 Dragovic, 23 Weiser, 7 Paulinho, 10 Demirbay, 17 Pohjanpalo, 19 Diaby;
Pelatih: Peter Bosz

loading...
X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news