news
POMNAS
Jatim Raih Emas Estafet, DKI Diskualifikasi
25 September 2019 19:05 WIB
berita
Tim estafet putra Jawa Timur.
JAKARTA – Tim estafet 4 x100 meter Jawa Timur (Jatim) berhasil meraih emas Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XVI/2019 Jakarta, Rabu (25/9). Pada lomba yang berlangsung di Stadion Madya, Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Joko Kuncoro Adi dan kawan-kawan mencatat waktu 41,41 detik.

Capaian ini jauh meninggalkan Hadi Nur Ehsan dan kawan-kawan asal Jawa Tengah (Jateng) yang finis kedua dengan 42,31 detik. Sedangkan perunggu jatuh ke tangan Ajat Supriajat dan kawan-kawan dari Jawa Barat (Jabar) dengan 43,54 detik.




Baca Juga :
- POMNAS 2019 Berakhir, DKI Juara Umum
- Basket Putranya Taklukkan Jateng, Banten Kawinkan Medali Emas POMNAS 2019




Joko yang berstatus pelari keempat Jatim mengaku tak menyangka dengan keberhasilan timnya meraih emas. Menurutnya, persiapan nomor estafet Jatim menghadapi POMNAS sangat minim. Mereka baru berlatih bersama setibanya di Jakarta.

“Tim estafet Jatim terpecah-pecah, saya di pemusatan latihan nasional (pelatnas) sedangkan yang lain di Kediri dan Surabaya. Bahkan, Wisnu (panggilan untuk Wresniwira Wisnu), mengalami cedera lutut dan sekarang belum sembuh,” ujar Joko.


Baca Juga :
- Basket Putri Banten Raih Medali Emas POMNAS 2019
- Patahkan Prediksi, Basket Putra Jawa Tengah Kalahkan DKI Jakarta!


Lebih lanjut, Joko berharap, kesuksesan meraih emas POMNAS bisa membuka peluangnya tampil di SEA Games XXX/2019 Filipina. Bisa membela Indonesia dalam pesta olahraga se-Asia Tenggara itu merupakan ambisinya dalam waktu dekat.

Statusnya sebagai pelari terakhir atau penentu kemenangan, diharapkan menjadi nilai plus untuk pelatih. “Soal peluang tampil di SEA Games, mudah-mudahan. Yang terpenting, sekarang sudah di pelatnas. Jadi, langkah ke SEA Games seharusnya bisa,” katanya.

Namun, Joko menyerahkan sepenuhnya kepada Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). “Memang, entry by name (SEA Games 2019) sudah hampir tutup tapi peluang saya untuk turun di (nomor) sprint masih ada,” ia mengungkapkan.

Sedangkan untuk nomor putri, DKI Jakarta berhasil menyabet emas. Jenny Nuraini dan kawan-kawan membukukan catatan 43,49 detik. “Lawan kami di POMNAS kali ini memang luar biasa. Jadi, menurut saya, pencapaian di POMNAS patut disyukuri,” tuturnya.

Untuk diketahui, cabang olahraga (cabor) atletik berakhir, kemarin. Kontingen tuan rumah keluar sebagai juara umum dengan torehan 11 emas, 10 perak, dan sembilan perunggu. DKI mampu memecundangi Jatim yang selama ini berstatus musuh bebuyutan.

Hebatnya, DKI juga mampu melampaui target. Awalnya, mereka hanya mencanangkan delapan emas dalam pesta olahraga dua tahunan itu. Namun, berakhir dengan 11 emas.  Capaian ini layak diapresiasi karena persaingan dalam atletik tergolong ketat.

Manajer tim atletik DKI untuk POMNAS, Deddy Kusdinar, menyebut ini sudah sesuai dengan keinginan KONI Provinsi DKI. Menurutnya, KONI DKI memang ingin kontingen ibu kota meraih lebih dari delapan emas sebagaimana mereka targetkan.

“Target dari BAPOMI DKI memang delapan emas tapi KONI ingin lebih. Mereka berharap POMNAS jadi tolok ukur (kekuatan) Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2020 Papua. Saya berharap kehebatan di POMNAS ini menular ke PON 2020 Papua,” kata Deddy.

Sebagai catatan, atlet yang turun di PON 2020 mayoritas tampil dalam POMNAS. DKI menganggap POMNAS ajang yang cocok untuk persiapan menuju pesta olahraga terbesar nasional tersebut. Namun, khusus untuk estafet akan ada evaluasi.

Ini karena dalam lomba kemarin, tim DKI didiskualifikasi. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta meminta tim atletik ibu kota kembali jadi yang terbaik di PON. Sayang, banyak peraih emas DKI di PON 2016 Jawa Barat yang sudah pensiun.

Sebut saja, Dedeh Erawati dan Rini Budiarti. Bahkan, keduanya juga menyumbangkan medali untuk Indonesia di kancah internasional. “Untuk itulah, kami bibitkan lagi atlet dari kampus,” ucap Ketua PASI DKI, Mustara Musa.*KRISNA C. DHANESWARA 

 

L
Penulis
Lily Indriyani Sukmawati