TOP INTERVIEW
WAWANCARA: Teemu Pukki, “Saya Datang dengan Keyakinan Mampu Mencetak Gol”
19 September 2019 14:51 WIB
berita
Striker Norwich City, Teemu Pukki jadi sorotan di Liga Primer berkat penampilan impresif dan ketajamannya./AFP
NORWICH – Teemu Pukki menyapa publik Liga Primer layaknya badai tornado. Striker Norwich City FC itu telah mengoleksi enam gol di lima laga pertamanya sejak promosi musim lalu: melawan Liverpool FC (1), Chelsea FC (1), Newcastle United FC (3), dan Manchester City FC (1). Terakhir, ia menyabet trofi Pemain Terbaik Bulan Agustus.

Sebelum kemenangan bersejarah atas Man. City (3-2), Chris Sutton, eks striker timnas Inggris, bersama Sportmail, berangkat ke Carrow Road di Norwich, untuk bertemu Pukki, berusaha mengorek kehidupan pemain asal Finlandia itu bersama The Canaries, tentang hattrick pertamanya di Liga Primer, Celtic, dan Ronaldo yang diidolakannya….




Baca Juga :
- Liverpool Spesialis Pemecat Pelatih Lawan
- Laga Pembuktian Dua Bek Termahal




Teemu, luar biasa! Kini Anda jadi sorotan di Liga Primer. Pernah terpikirkan oleh Anda saat gabung ke Norwich?

Saya datang ke Norwich dengan keyakinan saya mampu mencetak gol di Liga Primer. Di awal musim lalu di Championship, kami tidak meraih hasil yang diinginkan, menang sekali di enam laga awal. Tapi, dari cara tim bermain saya tahu saya akan dapat peluang, saya akan mencetak gol. Walau saya tak menduga akan dapat 29 gol di akhir musim!


Baca Juga :
- Belanja Manchester United Belum Sesuai Ekspekstasi
- Rapor Rashford Lebih Baik dari Trio Liverpool


Anda akhirnya membawa Norwich ke Liga Primer. Berbeda ketika Anda di Celtic lima tahun lalu, jadi bagaimana Anda bisa percaya diri lagi?

Sebelumnya, saya bermain empat musim bersama Brondby di Denmark, dan itu momen krusial dalam karier saya, secara mental. Dua musim awal, saya mencetak sembilan gol, lalu sembilan gol lagi. Lalu datang pelatih baru, Alexander Zorniger, dari Jerman. Dua musim berikutnya, saya mencetak 20, lalu 17. Alex bisa menarik perhatian dari pemain, membuat kami fit, membuat saya sadar bahwa tugas defensive juga cocok buat saya.

Kami lihat itu lawan Newcastle. Anda hattrick, tapi ada juga ketika Anda muncul di ujung lain lapangan, melakukan tackle pada Joelinton untuk menghentikan serangan mereka. Saya hampir jatuh dari kursi….

Saya tidak tahu! Saya hanya senang. Coach Daniel Farke sangat baik, dia kalem, tapi dia bisa berteriak jika dia pikir saya tidak bisa bekerja. Dia mengenal saya dengan sempurna, bagaimana saya. Dia percaya pada saya dan saya berkembang di bawahnya.

Ini masih awal musim, saya harus terus melakukan pekerjaan saya. Berikutnya, Chelsea. Kami siap. Kami dapat poin pertama kami di kandang lawan Newcastle. Sangat bodoh jika kami tidak percaya kami bisa mendapatkan sesuatu melawan Chelsea.

Jujur, melihat Anda lawan Liverpool, bermain seperti ketika di Championship, saya sempat pesimistis. Tapi Anda tunjukkan bisa menang di level ini….

Begitulah cara kami bisa sampai di sini. Para pemain yang kami miliki dibuat untuk gaya sepak bola ini. Kami tahu Liga Primer lebih keras. Kami hanya perlu percaya diri. Sulit melawan Liverpool di Anfield, tetapi kami masih ingin melakukannya dengan cara kami.

Anda harus mencintai ini. Di usia ke-29, dua laga, empat gol, nama Anda di daftar top scorer. Apakah adil mengatakan Anda muncul sangat terlambat?

Cukup adil. Baru dua tahun terakhir saya bersama Brondby, saya mulai mencetak gol. Tumbuh di Finlandia, hoki es adalah olahraga utama. Tapi saya tidak pernah memainkannya. Saya memilih sepak bola. Saya tak pernah punya hobi lain. Sejak masih kecil, saya hanya ingin bermain sepak bola, selalu jadi striker, tak pernah posisi lain.

Jadi, siapa pemain yang menginspirasi Anda? Tim yang Anda ikuti sewaktu kecil?

Tim favorit saya selalu Barcelona. Ketika saya masih muda, saya pergi menemui mereka, pertandingan besar pertama saya. Jari Litmanen sedang bermain di sana saat itu. Di Finlandia, Litmanen pahlawan besar bagi kami semua. Tetapi Ronaldo, dari Brasil, dia idola saya. Piala Dunia 1998 pertama kalinya saya ikuti dia, saat umur delapan tahun.

Sejak kapan Anda ingin menjadi pemain profesional? Saya tidak tahu seperti apa fasilitas di kota asal Anda, Kotka, tetapi saya tahu sangat dingin di sana....

Cuaca di Finlandia berbeda dengan di sini. Di musim dingin, Anda tidak bisa bermain di luar, hanya di aula. Hanya setelah trial pertama saya untuk bergabung dengan skuat junior Finlandia, saya mulai berpikir, "Oke, ini bisa jadi hidup saya, lebih dari sekadar hobi." Saya melakukannya dengan baik saat kecil, dan di situlah Sevilla melihat saya.

Anda baru 17 tahun saat itu. Bagaimana Anda mengatasi pindah ke negara lain yang lebih hangat dari Finlandia dan tidak berbicara bahasa itu?

Saya bawa ibu saya! Dia ambil cuti setahun. Dua orangtua saya banyak berkorban. Ayah saya, Tero, selalu mendorong saya untuk berlatih tiap hari. Ibu, Teija, datang ke Sevilla, melakukan segalanya untuk saya. Itu tempat yang besar untuk remaja 17 tahun. Bahkan jika Anda bisa berbahasa Inggris, tak masalah. Karena mereka tak bisa bahasa Inggris.

Saya memiliki awal baik di Sevilla. Saya masuk ke tim kedua, mencetak beberapa gol, lalu berlatih dengan tim pertama, dan tiba-tiba saya di bangku cadangan melawan Real Madrid di Bernabeu. Saya berumur 18 tahun.

Itu pasti pengalaman yang membuka mata….

Oh ya! Duduk di bangku cadangan di Real Madrid. Saya ingat pelatih Manolo Jimenez meminta melakukan pemanasan. Tapi bek kiri cedera, jadi saya tidak pernah dapat kesempatan bermain. Lalu saya cedera ringan. Pelatih juga ganti. Saya lalu kembali ke Finlandia, mulai awal yang baru di HJK Helsinki. Tapi saya belajar banyak di Spanyol.

Tak lama di Helsinki, Anda membuat langkah besar ke Jerman bersama Schalke. Negara baru lain, bahasa lain yang tidak Anda kenal. Bagaimana itu terjadi?

Saya bermain di kualifikasi Liga Europa untuk Helsinki melawan Schalke dan mencetak dua gol. Dua hari kemudian, mereka memanggil saya dan berkata, 'Kemarilah'. Ralf Rangnick pelatihnya saat itu. Dia mengontak saya. Dua minggu kemudian, dia berhenti karena capek. Di bawah pemain baru, Huub Stevens, saya bermain di beberapa laga, mencetak beberapa gol. Tapi pindah itu mungkin terlalu cepat buat saya.

Lalu, Celtic. Musim pertama Anda di sana, Anda banyak dikritik. Anda mencetak tujuh gol dalam 25 laga di Liga Utama Skotlandia. Sejujurnya, apakah Anda berharap Skotlandia akan lebih mudah daripada sebelumnya?

Ya, benar. Saya mendapat telepon, 'Celtic ingin Anda. Dan saya tahu Celtic tim teratas. Saya pikir itu akan jauh lebih mudah daripada sebelumnya. Namun, sepak bola mereka lebih cepat dari yang saya kira. Ketika Anda mendapatkan bola, selalu ada bek di depan Anda. Ketika Anda berpikir bisa melakukan lebih baik, hal-hal tidak berjalan baik.

Anda mencetak 20 gol di 2016/17, lalu 17 di 2017/18. Jadi, bagaimana Norwich begitu beruntung mendapatkan Anda dengan transfer gratis?

Beberapa tim mencoba merekrut saya sebelumnya. Brondby ingin saya bertahan. Tetapi saya ingin mengalami sesuatu yang baru. Itulah alasan saya pergi, dan saya datang ke Inggris.

Kapan pertama kali Anda pernah mendengar tentang Norwich?

Musim panas (2018) itu! Ketika saya mencari mereka di Google untuk pertama kalinya, saya tahu tentang Alex Tettey, karena dia bermain untuk Norwegia. Adapun kotanya, saya tidak tahu. Sejauh ini saya dan keluarga betah. Semua orang sangat baik di sini.

Putri Anda, Olivia, berusia dua tahun pada Desember nanti. Anda sudah 29 tahun, jadi bisakah Anda terus mencetak skor pada level ini cukup lama untuknya?

Ya, Anda harus percaya. Dia sudah pernah menonton di Carrow Road. Ikut tepuk tangan, meski saya tak yakin dia bersorak untuk saya atau karena orang lain bersorak. Ketika saya di TV, dia tahu itu saya. "Itu Daddy!" Saya memberinya bola hattrick lawan Newcastle, dan dia selalu memainkannya. Ayah saya sebenarnya ingin membelikannya bola yang sama, sehingga dia bisa menyimpan bola itu untuk dirinya sendiri (tertawa).

Terakhir, Teemu, dan ini pertanyaan banyak orang: dapatkah Norwich bertahan di Liga Primer jika Anda tetap pada gaya permainan yang sama yang membuat kalian promosi?

Sangatlah bodoh untuk mengubah sesuatu yang berhasil.*NURUL IKA HIDAYATI

 

I
Penulis
I Gede Ardy E