INFOGRAFIS
Penyerang Tengah atau Sayap, Rashford selalu Efektif
19 September 2019 12:45 WIB
berita
Penyerang Manchester United, Marcus Rashford, siap membawa timnya meraih kemenangan saat menjamu Astana dalam ajang Liga Europa, Kamis (19/9).
MANCHESTER – Tidak banyak pemain bintang yang lahir dari situasi krisis. Di Manchester United (MU), sejumlah pemain besar muncul ketika tim ini dalam situasi yang ideal seperti saat Tim Setan Merah di bawah kepelatihan Alex Ferguson.

Marcus Rashford adalah contoh sebagai pemain muda bertalenta ketika masa transisi di tim ini justru belum berakhir. MU masih mencari identitas ketika mereka pernah merajai kompetisi domestik dan Eropa. Dalam situasi tersebut, sejumlah pelatih pun datang silih berganti. Dari David Moyes, Ryan Giggs, lalu Louis Van Gaal, Jose Mourinho, dan hingga kini Ole Gunnar Solskjaer.




Baca Juga :
- Update Klasemen Liga Primer Inggris, Senin Dini Hari WIB
- Hadapi Liverpool, MU dalam Tekanan, tapi Statistik Solskjaer Lebih Baik Ketimbang Klopp




Di antara pelatih itulah Rashford muncul, tepatnya saat MU di bawah kepelatihan Van Gaal. Arsitek asal Belanda tersebut memberikan kesempatan kepada Rashford yang ketika itu baru berusia 18 tahun masuk tim senior pada Desember 2018.

Namun baru dua bulan kemudian, dia berhasil menjadi magnet ketika menorehkan dua gol ke gawang Midtjylland dalam ajang Liga Europa, tepatnya 25 Februari 2016. MU menang 5-1 pada pertandingan tersebut dan Rashford menjadi perhatian besar khususnya oleh pers dan publik sepak bola Inggris.


Baca Juga :
- Rapor Rashford Lebih Baik dari Trio Liverpool
- Zidane Bertemu Pogba, Begini Reaksi Solskjaer


Seorang calon bintang besar telah lahir dalam ajang Liga Europa. Begitu kira-kira beberapa pujian yang diberikan untuk Rashford, Van Gaal, dan tentu juga MU. Namun demikian, situasi MU yang naik dan turun plus sejumlah pergantian pelatih, membuat Rashford menghadapi situasi yang cukup sulit untuk secara konstan memperlihatkan kemampuan terbaiknya.

Kondisi tersebut kemudian ditambah dengan isu terkait posisi sang pemain yang kini berusia 21 tahun tersebut. Penyerang tengah atau penyerang sayap. Rashford sendiri pernah menyatakan bahwa dirinya lebih nyaman dan senang jika ditempatkan sebagai penyerang sayap kiri.

Ketika MU di bawah kepelatihan Mourinho, Rashford lebih sering ditempatkan sebagai penyerang sayap. Situasi tersebut tidak terlepas dari pembelian MU ketika itu yang mendatangkan Romelu Lukaku.

Musim ini, Solskjaer bahkan menempatkan Rashford sedikit lebih ke tengah dengan perannya sebagai penyerang dengan pergerakan yang bervariasi. Peran ini membuat Rashford terlihat banyak beralih fungsi, tengah dan sayap. Solskjaer mengkombinasikannya dengan Anthony Martial yang musim ini lebih banyak bermain sebagai penyerang.

Dalam lima musim terakhir, termasuk musim baru ini, Rashford telah bermain 7.959 menit sebagai penyerang tengah dalam semua ajang baik untuk MU dan timnas. Total, dia menorehkan 43 gol dan memberikan sembilan assist. Kontribusinya rata-rata setiap 153 menit atau rata-rata mampu mencetak gol dalam setiap dua pertandingan. Rashford juga tampil 6.257 menit dari sayap kiri dan juga sayap kanan.

Total, dia menorehkan 21 gol dan memberikan 14 assist dari kedua posisi tersebut. Atau satu gol setiap 179 menit. Dari statistik tersebut sudah bisa terlihat bahwa Rashford tetap efektif jika bermain sebagai penyerang sedangkan sebagai sayap, daya ledaknya dalam mencetak gol terlihat lebih kecil tapi memiliki kontribusi besar dalam menciptakan assist untuk rekan setimnya.

Jadi, sebenarnya, Rashford memiliki fleksibilitas yang sangat baik dalam memberikan kontribusi bagi timnya di mana pun dia ditempatkan. Khususnya sebagai penyerang tengah maupun penyerang sayap kiri.

Lawan Astana dalam penyisihan grup Liga Europa, Kamis (19/9) atau Jumat dini hari WIB, Solskjaer kemungkinan akan tetap memberikan peran Rashford sebagai penyerang sayap kiri dalam pola 4-2-3-1. Absennya Martial karena masih cedera membuat peran Rashford sangat dibutuhkan khususnya dalam memberikan dukungan kepada penyerang belia, Mason Greenwood yang bakal bermain sebagai penyerang tunggal.

Seperti Rashford, Greenwood merupakan produk akademi MU. Dari delapan laga bermain di tim senior, Greenwood memang belum menorehkan gol. Karena itulah, ini kesempatan bagi sang pemain untuk menunjukkan ketajamannya kepada publik Old Trafford.

Greenwood diyakin merupakan pemain masa depan yang potensial. Aksinya terlihat dalam ajang Liga Primer kategori U-18 pada musim lalu saat dirinya menorehkan lima gol dari 15 laga. Solskjaer juga bisa menurunkan bintang muda MU lainnya yang berusia 21 tahun, Daniel Owen James. Pemain asal Wales ini sudah tampil dalam lima laga Liga Primer dan menorehkan tiga gol.

Dengan potensi sejumlah bintang muda MU ini pula, Solskjaer idealnya tidak perlu khawatir terkait absennya Martial. Pelatih asal Norwegia ini juga bisa berharap kepada Fred untuk menjaga lini tengah timnya setelah Paul Pogba kemungkin tidak fit untuk tampil.

Ketika mengalahkan Leicester City dalam ajang Liga Primer pekan lalu, Fred memperlihatkan permainan terbaiknya. Pendukung MU bahkan menilai bahwa Fred seharusnya menjadi pemain yang kerap mendapatkan tempat dalam starter di setiap laga Tim Setan Merah.

Yang harus diperhatikan oleh Solskjaer tentu lini pertahanannya karena mereka akan menghadapi tim yang memiliki ambisi besar untuk membuat kejutan. Astana, klub asal Kazakhstan memiliki penyerang asal Kroasia yang produktif: Marin Tomasov. Penyerang sayap 32 tahun ini memiliki pengalaman dalam ajang ini. Sepanjang 2019, Tomasov total telah menorehkan 19 gol untuk pasukan Roman Hryhorchuk.

Tomasov menjadi kunci sukses Astana lolos ke fase grup lewat serangkaian gol yang diciptakannya dalam fase kualifikasi. Total, dari tujuh laga kualifikasi Liga Europa 2019/20 ini, dia menorehkan tujuh gol, termasuk hattrick yang diciptakannya ke gawang Santa Coloma dalam kemenangan 4-1, 1 Agustus lalu, atau dua gol yang dilesakkannya ke gawang Valetta, 16 Agustus lalu.

Barisan bek MU harus mewaspadai penyerang ini. Apalagi, Solskjaer belum benar-benar mampu membangun pertahanan timnya. Dari 20 laga Liga Primer termasuk musim lalu, hanya dua kali gawang MU mengakhiri laga dengan clean sheets.*

I
Penulis
Irfan Sudrajat