TOP FEATURE FOOTBALL
Terusir dari Donetsk Gara-gara Perang
18 September 2019 13:24 WIB
berita
Pemain Shakhtar menjalani latihan jelang laga perdana Liga Champions menjamu Manchester City./AFP
JAM 10 malam lewat beberapa menit, tetapi tak ada satu pun langkah kaki terdengar di trotoar Donetsk. Itu padahal masih 60 menit sebelum jam malam militer dimulai. Namun tidak ada yang berani mengambil risiko. Seluruh kota tak akan bergerak lagi sampai pukul 4 pagi keesokannya, setelah jam malam dicabut.

Donetsk dulu kota yang dipenuhi janji. Terletak di timur Ukraina, dekat ke perbatasan Rusia, kini menjadi arena konflik. Sekitar 13 ribu orang terbunuh. PBB memperkirakan setidaknya 1,3 juta warga telah meninggalkan rumah mereka. Termasuk FC Shakhtar Donetsk, juara Ukraina, yang terakhir bermain di kota ini pada Mei 2014 lalu.




Baca Juga :
- Fergie dan Noktah yang Menghantuinya
- Sterling Kembali Trengginas




Pertempuran pecah pada bulan April, kala separatis pro-Rusia bersenjata berat merebut sebagian besar wilayah di Donbas, termasuk Donetsk. Republik Rakyat Donetsk (DPR) pun memproklamirkan diri. Lalu, pemerintah Ukraina menuding Rusia mempersenjatai kelompok separatis tersebut, dan juga mengirim pasukan mereka ke wilayah tersebut.

Donbass Arena menggelar semifinal Piala Eropa 2012 ketika Spanyol mengalahkan Portugal lewat adu penalti di depan kerumunan kapasitas dan ratusan juta orang penonton TV. Kini tak ada lagi sepak bola di stadion itu. Satu-satunya tanda kehidupan sebelumnya adalah papan penanda bertuliskan ‘jangan injak rumput'.


Baca Juga :
- Spurs Bangkit atau Kian Terpuruk?
- Winger Argentina Ini Jadi Salah Satu Pengganti MCN


Markas Shakhtar itu rusak parah dua kali – saat sebuah shell menabrak arena, memicu api, lalu ketika roket Ukraina meledak di dekat situ. Kuatnya ledakan meruntuhkan sebagian atap tribune. Saat Shakhtar menjamu Manchester City FC di Liga Champions tahun ini, duel itu tak akan digelar di sana, tetapi di Kharkiv, 100 mil ke barat.

Shakhtar dipaksa pergi oleh situasi keamanan ketika separatis mengambil alih kota. Mereka tidak bisa kembali. Melakukan hal tersebut berarti memberikan pengakuan kepada para pemberontak. Selain itu, tidak mungkin bagi tim-tim melakukan kunjungan dengan melewati garis kontak militer antara pejuang DPR dan Ukraina.

Sikap pemilik Shakhtar, Rinat Akhmetov menuai respons dari Nikolai Tarapat, menteri olahraga DPR. "Terserah Tuan Akhmetov. Kami tak bisa mengomentari keputusannya. Untuk alasan bisnis apa pun ia memilih mengorbankan Donetsk dan memindahkan klub itu. Siapa tahu? Mungkin di masa depan, Shakhtar bisa menjadi kunci perdamaian!”

Bahkan jika mereka telah meninggalkan kota asal mereka, tak ada cara bagi Shakhtar menghindari konflik. Mereka memilih Stadion OSC Metalist di Kharkiv sebagai markas. Sebelumnya, mereka berkemah di Kota Lviv, sarang nasionalisme Ukraina, di mana mereka dibenci karena kedekatan Donbass dengan pemerintah Rusia.

“Kami ingin membantu mereka (Shakhtar) merasa di rumah,” kata Anton Ivanov, Direktur Metalist. “Tak ada yang menganggap Shakhtar (tim) pengungsi. Mereka adalah korban perang dan kami merasakan itu karena kami masih satu negara. Kami senang karena Shakhtar membawa Liga Champions ke sini."

Satu lagi, pemerintah Ukraina membuat sebuah situs web yang memuat daftar mereka yang dituduh melakukan terorisme walau tak punya kaitan dengan pemberontak separatis. Termasuk mereka yang dulunya sangat dihormati di Ukraina, di antaranya mantan kapten Shakhtar, Zvyaginstev, yang kini bekerja sebagai aparat setempat.

“Sepak bola menyatukan semua orang di Donetsk,” katanya di antara kabut asap rokok. “Ini bukan mimpi. Saya percaya, kami akan melihat sepak bola di Donbass Arena lagi. Shakhtar lama dari era Soviet. Sama seperti Sir Bobby Charlton yang tak akan melupakan hari-harinya di Manchester United. Walau entah kapan itu akan terjadi.”*NURUL IKA HIDAYAT

 

 

I
Penulis
I Gede Ardy E