UMUM
Uston Nawawi Angkat Bicara Soal Lini Tengah Timnas
12 September 2019 13:25 WIB
berita
JAKARTA - Lini tengah timnas Indonesia hanya mampu memperlihatkan permainan terbaiknya selama 45 menit babak pertama saat menghadapi Malaysia dalam laga perdana Pra-Piala Dunia 2022, 5 September lalu. Selebihnya, di babak kedua maupun saat melawan Thailand, lagi-lagi lini tengah timnas tidak mampu bekerja maksimal.

Mantan gelandang andalan timnas Indonesia Uston Nawawi pun menilai ada yang salah pada lini tengah timnas saat ini.  Dalam laga pertama melawan Malaysia, Evan Dimas dipasangkan dengan Zulfiandi untuk mengontrol permainan di sektor tengah. Hasilnya positif.




Baca Juga :
- Duel Barito vs PSIS, Tekad Perpanjang Tren Positif
- Timnas Futsal Indonesia Fokus hadapi Vietnam untuk Merebut Tiket Semifinal




Tapi, petaka muncul di babak kedua setelah Zulfiandi tiba-tiba digantikan Rizky Pellu yang lebih berkarakter bertahan. Akibatnya, kekuatan lini tengah Indonesia melemah dan tidak

ada lagi kreasi serangan dari lini kedua tersebut. Akibatnya, Malaysia mampu memenangi lini tengah dan terus menggempur pertahanan Indonesia hingga akhirnya tim Garuda menyerah 2-3 di pengujung laga.


Baca Juga :
- Waktunya Garuda Revans atas Malaysia!
- Jateng Juara Gala Siswa Indonesia 2019, Mendikbud RI Muhadjir Effendy Menilai GSI Tahun Ini Lebih Berkualitas


Lalu, saat menghadapi Thailand, Evan Dimas dan Manahati Lestusen coba dipasangkan di lini tengah. Tapi nyatanya Indonesia tetap kalah di lini tengah. Manahati kuat dalam memotong bola, namun lemah dalam membangun serangan. Sementara, Evan tak bisa leluasa menguasai bola karena mendapat pressing ketat dari lawan. Dan, ia pun lemah dalam bertahan. Evan justru lebih banyak terjatuh saat duel dengan pemain tengah lawan.

“Kalau menurut saya pembagian di lini tengah itu harus jelas, karena yang kami lawan itu tim kuat, Thailand dan Malaysia kan bagus mainnya. Kalau menurut saya di dua laga kemarin itu seharusnya pelatih menggunakan dua holding (gelandang bertahan). Terus kami itu hanya bisa mengimbangi babak pertama saja, babak kedua lini tengah kedodoran,” kata eks gelandang timnas era 1997 hingga 2004 itu.

Ya, menduetkan Manahati dan Zulfiandi sebagai gelandang bertahan seperti patut untuk dicoba. Sementara, Evan Dimas bisa lebih sedikit didorong ke depan sebagai playmaker.

“Mungkin karena main di kandang coach Simon ini ingin mainnya offensive, jadi hanya pakai satu holding untuk memutus serangan. Tapi yang Indonesia lawan ini bukan tim biasa, seharusnya pelatih juga bisa mengetahui bagaimana cara mengantisipasinya atau belajar dari kekalahan dari Malaysia. Semoga coach Simon dan para pendamping lebih tahu bagaimana agar tidak kebobolan lagi,” ucap pria yang kini melatih Persebaya U-20 itu.

Uston juga menilai transisi yang dilakukan pemain timnas Indonesia masih lemah. “Ya yang penting transisi menyerang ke bertahan atau sebaliknya itu harus lebih cepat. Kalau jarak antarlini dekat dan rapat itu sudah pasti susah untuk ditembus. Kayak babak pertama itu jarak antarlini-nya bagus, babak kedua malah longgar, ya gampang ditembus,” ujar Uston.*SUMARGO PANGESTU

 

 

 

R
Penulis
Rizki Haerullah