news
MOTOGP
Inilah Penyebab Marquez Susah Dikejar
11 September 2019 15:29 WIB
berita
Juara dunia MotoGP dari Tim Repsol Honda, Marc Marquez, musim ini tidak hanya matang dari sisi teknik namun juga mentalitas.
MISANO – Para pembalap tim pabrikan MotoGP mungkin sudah berpikir bagaimana menyiapkan motor untuk 2020. Kejuaraan Dunia Balap Motor kelas MotoGP masih menyisakan tujuh lomba. Tetapi, gap yang begitu besar antara pemimpin klasemen, Marc Marquez, dengan pembalap terdekat, membuat para rival berpikir realistis.

Pembalap Tim Repsol Honda itu kini sudah unggul hingga 78 poin dari Andrea Dovizioso. Dengan gap sebesar itu, pembalap Tim Mission Winnow Ducati tersebut harus mampu unggul 12 poin atas Marquez di setiap lomba tersisa (tujuh kali). Simpelnya, Dovi harus menyapu bersaih sisa tujuh lomba seraya berharap Marquez gagal naik podium.  




Baca Juga :
- Musim Terbaik Marc Marquez
- Jatuh Saat Berusaha Salip Marquez, Vinales Merasa Bangga




Kendati begitu, melihat kecepatan Marquez di atas Honda RC213V, rasanya sangat sulit memaksa pembalap Spanyol itu tidak finis podium di tujuh lomba tersisa. Tahun ini, strategi dan kematangan mental Marquez jauh lebih baik. Dari 12 lomba yang sudah belangsung, ia baru sekali tidak finis, di GP Amerika Serikat. Lainnya, Marquez enam kali memenangi lomba dan lima kali naik podium kedua.

Dari enam kemenangan itu, gap terkecil The Baby Alien dengan pembalap kedua hanya 1,654 detik di Sirkuit Jerez, GP Spanyol. Sisanya? Marquez rata-rata unggul hampir empat detik saat memenangi lomba. 


Baca Juga :
- Hasil Balapan MotoGP Australia: Marquez Menang Lagi, 5 Rider Gagal Finis
- Marquez Wajib Pangkas Jarak dari Ducati


Dari lima kali finis kedua, selisih terbesar adalah 0,213 detik, tepatnya dari Dovizioso di Red Bull Ring, GP Austria. Di Losail (Qatar), Mugello (Italia), dan Silverstone (Inggris), ia hanya terpaut kurang dari 0,05 detik. Gap terbesar Marquez terjadi saat dipecundangi pembalap Tim Monster Energy Yamaha MotoGP, Maverick Vinales, di Assen, GP Belanda. Saat itu ia tertinggal lebih dari lima detik.

Dari sisi kematangan teknik balap, Marquez sudah banyak belajar dari musim 2015. Saat itu, ia berusaha memenangi setiap lomba tetapi justru lebih sering gagal finis. Apa yang terjadi di GP Inggris menjadi bukti kematangan mental Marquez. Awalnya, ia mencoba lepas tetapi gagal menjauh dari Alex Rins, pembalap Tim Suzuki Ecstar. Pada akhirnya, Marquez hanya berkonsentrasi memaksimalkan poin jika gagal menang.

“Startegi saya bukan hanya selalu untuk menang. Itu hanya soal bagaimana membuat grup depan lebih sedikit agar kemungkinan Anda kehilangan poin semakin kecil. Target sejak awal adalah mengambil poin sebanyak mungkin,” kata Marquez usai dikalahkan Rins.

Upaya Marquez untuk merebut gelar MotoGP keenam – atau keempat beruntun – tahun ini sebenarnya tidak mudah. Tetapi, para tim pabrikan rival juga bukan tanpa kendala teknis. Kecepatan Suzuki GSX-RR yang meningkat tidak terlalu mengherankan karena itu sudah terlihat sejak pertengahan musim lalu.

“Sasis GSX biasa saja tapi bisa mengatur manajemen ban dengan baik. Mesin mereka juga bukan yang terbaik meskipun tidak buruk juga,” ucap Jack Miller, pembalap Tim Pramac Racing-Ducati. “Hebatnya, Rins mampu membuat motor berperforma sesuai keinginannya.”

Dari Yamaha, Valentino Rossi menyebut sasis M1 versi 2019 lebih baik ketimbang 2018. Namun, penambahan berat crankshaft membuat akselerasi M1 tahun ini berkurang. Karakter mesin pun sangat mudah menghabiskan ban. Tenaga M1 memang meningkat di putaran atas tetapi kecepatan puncak justru menurun. Bila Suzuki GSX-RR tertinggal 3-4 km/jam dari Ducati Desmosedici GP19 dan Honda RC213V, Yamaha YZR-M1 kalah hingga 10 km/jam. Itulah mengapa musim ini kecepatan M1 di tikungan juga tidak bagus.*** MUHAMAD FADLI RAMADAN DARI BERBAGAI SUMBER

 

loading...
T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho
news
news