TOP FEATURE FOOTBALL
Bek Inggris Sempat Tak Yakin dengan Karier sebagai Pesepak Bola
06 September 2019 14:37 WIB
berita
Bek timnas Inggris Tyrone Mings mengungkapkan dirinya harus melalui jalan yang sangat berat untuk mencapai kesuksesannya saat ini./AFP
MEI lalu, dia membantu Aston Villa FC promosi ke Liga Primer 2019/20. Pekan ini, bek tengah 26 tahun itu berpeluang bermain untuk timnas Inggris di laga kualifikasi Piala Eropa 2020. Tetapi saat masih kecil, Tyrone Mings tinggal di penampungan tunawisma bersama ibunya, Dawn dan tiga saudara perempuannya, selama satu tahun.

Mings tak ingat berapa usianya saat itu terjadi, namun kesulitan yang dia hadapi sebagai seorang anak saat keluarganya jadi gelandangan, masih membekas kuat. Dia duduk di sekolah dasar ketia mereka harus pindah ke tempat penampungan. Berlima, mereka berbagi kamar dengan dua tempat tidur susun dan sofa.


Baca Juga :
- Firmino Spesial dan Komplet
- Mantan Bek Chelsea Tetap Profesional dalam Usia 33 Tahun




“Ibu saya baru saja keluar dari hubungan yang tidak baik dan kami tak punya tempat lain untuk pergi," kata Mings kepada Telegraph. "Kami tinggal bersama seorang pria di Chippenham dan tidak ada alternatif lain. Suatu hari kami harus bangun dan pergi, dan itulah (penampungan) satu-satunya tempat kami bisa pergi.”

Mings masih ingat dengan jelas, betapa mengerikan tempat penampungan itu. Area cuci komunal, kamar mandi bersama. Dan yang terpenting, orang-orang di tempat itu tidak selalu yang terbaik. "Kami tinggal di sana untuk waktu lama, enam bulan hingga satu tahun. Ketika Anda masih di sekolah dasar, itu bukan pengalaman menyenangkan."


Baca Juga :
- Kehadiran Sancho Membuat Dimensi Serangan Inggris Semakin Luas
- Sterling Layak Sejajar dengan Ronaldo, Messi, dan Neymar


Sepak bola jadi penyelamat Mings. Tetapi, meski kini berpostur besar, Southampton FC menganggapnya terlalu kurus dan ringan. Dia dirilis pada usia 15 tahun. Seketika mimpinya bisa bermain di Liga Primer hancur. Usaha lanjutan di Cardiff City FC, Swindon Town FC, Portsmouth FC dan Bristol Rovers FC juga diakhiri penolakan.

Pada 2009, Mings mendaftar untuk mendapatkan beasiswa sepak bola di sekolah mandiri, Millfield di Somerset, tempat ia menghabiskan waktu berjam-jam di gym untuk membentuk fisiknya. Dia lulus dengan nilai layak, berencana cari beasiswa lagi di Amerika Serikat (AS), sebelum akhirnya memilih bergabung ke Chippenham Town FC.

Untuk bertahan hidup dengan gaji 45 paun per minggu di Chippenham, Mings bekerja sebagai pelayan di sebuah pub. Dia mengendarai Citroen Saxo x-rega – warna hijau, setir putih, rem tangan rusak ke pub lokal The White Hart untuk melakukan sebanyak mungkin shift. Karena tidak banyak yang mempekerjakan pesepak bola part time.

Mings pun mulai serius memikirkan kehidupan di luar sepak bola. "Beberapa kali dalam karier sepak bola, membuat saya berpikir: 'Apa ini? Hanya sejauh ini yang saya tuju?',” ujarnya kepada podcast Football Daily. “Selalu ada saat di mana saya tidak yakin dengan karier ini.”

Tetapi, setelah melewati perjalanan karier berliku hingga kini diakui sebagai salah satu pemain paling dermawan di negeri ini, Mings tak pernah lupa masa lalunya. Dia justru “memeluknya”. Ketika dia berusia 20 tahun di Ipswich Town FC, dia mengorbankan waktu bersama keluarganya pada Hari Natal untuk memberi makan para tunawisma.

Mings juga membeli tiket untuk penggemarnya yang tidak mampu membayar di masa lalu, serta menawarkan diri untuk membeli baju baru untuk para penggemar yang memiliki nomor skuat lamanya yang tertera pada kit baru mereka di Twitter. Untuk itu Mings bersyukur memiliki seorang ibu yang membantunya menyadari potensinya.*NURUL IKA HIDAYATI

 

 

I
Penulis
I Gede Ardy E
news