INFOGRAFIS
Maddison Figur Playmaker yang Dibutuhkan Inggris
05 September 2019 15:30 WIB
berita
Gelandang serang James Maddison memiliki potensi untuk menjadi playmaker masa depan timnas Inggris./AFP
LONDON – James Maddison tengah bersiap melakoni debutnya dengan timnas Inggris dalam kualifikasi Piala Eropa 2020, bulan ini. The Three Lions akan bertemu Bulgaria pada Sabtu (7/9) dan Kosovo tiga hari kemudian. Maddison berpeluang tampil dalam kedua laga tersebut. Pasalnya playmaker Leicester City FC ini punya kualitas yang tidak dimiliki pemain lain dalam skuat Gareth Southgate. Ia layak dapat kesempatan untuk membuktikannya.

Pemain terbaik Norwich City FC setelah kampanye sukses di Divisi Dua (Championship) dua tahun lalu tersebut sama sekali tak mengalami kesulitan beradaptasi di Liga Primer 2018/19. Padahal, itu musim perdananya di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Maddison tampil impresif serta mampu menyumbangkan masing-masing tujuh gol dan assist untuk Leicester. Bagi pemain yang baru berusia 22 tahun, catatannya tersebut tentu mengesankan.


Baca Juga :
- The Saints Tidak Terkalahkan di Empat Laga Terakhir Semua Ajang
- Man. City Butuh Laporte




Sejak melakoni debutnya di Liga Primer tahun lalu, Maddison mampu membuat peluang lebih banyak dibandingkan pemain lain. Southgate lantas memanggilnya pada Oktober 2018 jelang pertemuan melawan Kroasia dan Spanyol. Tetapi yang cukup mengejutkan, sang pelatih sama sekali tidak memberikan Maddison waktu tampil semenit pun dalam dua pertandingan Liga Negara-negara Eropa (LNE) tersebut.

Ia juga dilewatkan ketika The Three Lions melawan Belanda dan Swiss di ajang yang sama, tiga bulan lalu. Southgate mengaku memiliki alasan kuat terkait keputusannya. “Saya pikir, ketika itu, ada banyak pemain lain di sektor serangan yang lebih baik dari James (Maddison),” ujarnya mengungkapkan.


Baca Juga :
- Tottenham Tembus Empat Besar
- Gol Tunggal Rashford Cukup untuk Manchester United Raih Kemenangan


Southgate kemudian secara eksplisit menjelaskan bahwa taktik Inggris menjadi penghalang bagi Maddison. “Saat itu, kami melihatnya sebagai pemain No.10. Dan tim tidak terbiasa bermain dengan seorang playmaker,” kata sang pelatih. Meskipun ia sempat melakukan perubahan sistem permainan, Southgate lebih memilih nama-nama yang familier seperti Jesse Lingard, Dele Alli, Marcus Rashford, dan Raheem Sterling sebagai alternatif untuk mengisi posisi playmaker.

Inggris sendiri sudah lama tidak punya pemain dengan bakat alami sebagai pemain No.10 seperti Paul Gascoigne atau Paul Scholes. Saat Southgate sukses membawa The Three Lions menembus semifinal Piala Dunia 2018, absennya sosok playmaker adalah salah satu faktor mereka gagal melangkah lebih jauh. “Tim punya banyak gelandang bertahan dan pemain yang mampu mendribel bola, tetapi tidak ada figur yang bisa menjembatani semua itu,” kata legenda Inggris, John Barnes.  

Untuk meminimalkan efek ketiadaan playmaker, Southgate mengadaptasi pola 3-5-2. Ia memasang dua gelandang box-to-box sebagai poros serangan. Alli-Lingard menjadi pilihan. Selepas Piala Dunia, Southgate memilih skema 4-3-3, memaksimalkan serangan dari dua penyerang sayap. Strategi ini membuat Sterling bisa kembali ke posisi terbaiknya. Dengan pola tersebut, ia juga bisa mengakomodasi Jadon Sancho. Southgate pun masih punya Rashford.

Kehadiran pemain seperti mereka, yang bisa menggiring bola masuk jauh ke wilayah pertahanan lawan dan menerima umpan di posisi sulit, memang selalu penting bagi Inggris. Namun Southgate tetap butuh variasi permainan dan kehadiran playmaker yang bisa mengatur ritme dan menjadi otak permainan tim. Seperti Belgia yang punya Kevin De Bruyne, Kroasia dengan Luka Modric, atau Christian Eriksen di Denmark.

Ini akan menjadi tantangan bagi Maddison. Ia perlu meyakinkan Southgate bahwa dirinya mampu menjadi pemain No.10 The Three Lions. Bersama Leicester musim lalu, Maddison diplot sebagai playmaker, bermain di belakang striker Jamie Vardy dalam skema 4-2-3-1. Begitu Brendan Rodgers datang, pelatih The Foxes itu memberikan peran sedikit berbeda untuk Maddison. Ia memainkannya lebih melebar di sisi kiri.

Namun pergeseran ini tak membuat Rodgers membatasi naluri kreativitas pemainnya itu. Maddison tetap diberikan kebebasan untuk menerobos lewat dalam. “Salah satu yang membuat James (Maddison) spesial adalah fleksibilitasnya. Kebanyakan pemain hanya bisa menjalani satu peran, tetapi dia punya kualitas dan kecerdasan untuk bermain sama baiknya di beberapa posisi di lini tengah dan serangan,” kata Rodgers.

Ini mungkin akan meyakinkan Southgate bahwa ada peran spesifik yang bisa diberikannya kepada Maddison. Visi permainan, kemampuan mendikte pertandingan, serta kreativitasnya akan berguna dalam membongkar pertahanan lawan. Bahwa itu tak selalu harus dilakukan dengan mengandalkan kecepatan. Yang pasti kehadiran Maddison tak hanya memperkaya opsi gelandang, tetapi juga menambah kemungkinan taktik yang bisa diterapkan.***  

 

 

I
Penulis
I Gede Ardy E
news