news
UMUM
Mengapa Malaysia Kerap Jadi Batu Sandungan Timnas Indonesia?
05 September 2019 13:43 WIB
berita
JAKARTA – “Boleh kalah dengan tim lain asal tidak dari Malaysia”. Kata itu menggambarkan panasnya rivalitas antara skuat Garuda dan Harimau Malaya. Laga itu sudah pasti selalu berjalan menarik, membuat jantung suporter berdebar selama 90 menit, dan dapat merasakan euforia lebih ketika Indonesia menang.

Indonesia versus Malaysia kembali dipertemukan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, Kamis (5/9), setelah terakhir kali mereka berjumpa di tempat yang sama pada 2010 silam, pada leg kedua Final Piala AFF 2010.




Baca Juga :
- Komentar Pelatih Timnas U-19 Malaysia Usai Bikin Thailand Tersingkir
- Kontrak Fakhri Husaini di Timnas U-19 Habis, PSSI Belum Bersikap




Kala itu Firman Utina dan kawan-kawan menang atas tim Negeri Jiran, dengan skor 2-1. Tapi hasil itu tidak membuat Indonesia juara, karena mereka kalah agregat 3-4.

“Pertandingan melawan Malaysia itu selalu menarik perhatian, selalu ada gengsi, Malaysia selalu menjadi batu sandungan dan mereka juga selalu menyulitkan Indonesia,” kata Supriyono Prima, pengamat sepak bola Indonesia dan mantan penyerang timnas.


Baca Juga :
- Bakal Debut di Timnas, Ardi Idrus Bertekad Bisa Jadi Starter lawan Malaysia
- Harapan Persis Solo Sebelum Menginak Usia 100 Tahun


Tak bisa dimungkiri pada beberapa tahun belekangan rivalitas itu kerap dimenangkan oleh Malaysia. Bukan lagi dijenjang senior, tapi pada level kelompok umur Harimau Malaya pun kerap menjegal Indonesia.

Terakhir dalam Piala AFF U-18 2019 di Vietnam,  timnas Indonesia U-18 dijegal Malaysia sehingga mereka gagal melaju ke partai puncak. Kala itu skuat asuhan Fakhri Husaini kalah dengan skor tipis 3-4.

Supri menjelaskan mengapa timnas Garuda selalu sulit untuk mengalahkan Malaysia bahkan mereka kerap menjadi batu sandungan skuat Merah-Putih untuk berprestasi. Utamanya soal pembinaan, menurutnya Liga di Malaysia sudah tertata dengan rapi, dari mulai kompetisi pembinaan hingga senior. Namun di Tanah Air kompetisi usia muda baru ada dalam beberapa tahun terakhir.

“Sistemnya dibenarkan dulu, Kami kan tidak punya muara timnas yang memiliki konsistensi lama. Kalau ini kan semuanya serba dadakan, kompetisi Elite Pro Academy juga baru ada sekarang-sekarang ini. Mereka (Malaysia) kan punya itu, setiap klub liga 1 mereka punya tim pembinaan dari usia 13 tahun sampai 20,” kata Supri.

Bukan hanya itu soal menaturalisasi pemain, Malaysia lebih selektif. Nyatanya tiga pemain naturalisasi yang mereka bawa ke Indonesia usianya masih cukup muda, Mohamaduu Sumareh (24), Matthiew Davies (24), dan La’Vere Corbin Ong (28).  Hanya Brendan Gan yang usianya sudah 31 tahun.

Ini jelas berbeda dengan pemain naturalisasi Indonesia yang usianya sudah melebihi angka 30, seperti Osas Saha Mervelous (32), Victor Igbonefo (33), serta Alberto Goncalves (38 tahun).

“Yang menjadi kekhawatiran saya adalah usia pemain yang dinaturalisasi pemain yang itu sudah tidak muda lagi. Osas Saha sudah 30 lebih, Igbonefo pun sama, mampu atau tidak mereka mengantisipasi kecepatan Malaysia, itu saja,” ucap Supri.

Supri mengatakan jika bermain dihadapan masyarakat Indoneia harus bisa dimanfaatkan betul oleh timnas Indonesia. Karena dukungan puluhan ribu suporter di SUGBK merupakan senjata untuk mengalahkan Malaysia.

“Pertama harus pintar, kedua harus sabar yang ujungnya sekecil apapun peluang harus jadi gol. Karena kita kalah lawan Malaysia seperti itu, kami terlalu frontal menyerang, tidak sabar, bisa cetak gol juga dan tiba-tiba lengah,” ujar Supri.

Charis Yulianto, mantan bek timnas era 2004 hingga 2010 sangat merasakan rivalitas Indonesia-Malaysia di lapangan hijau. Menurutnya energi kerap bertambah dua kali lipat saat melawan Harimau Malaya di kandang sendiri.

“Memang kalau lawan Malaysia itu situasinya berbeda sekali. Itu yang saya bilang tadi, ini laga pertama di SUGBK, keuntungan sebagai tuan rumah ini harus dimanfaatkan sekali. Saya berharap pemain bisa bermain kompak dan punya semangat tinggi untuk mengalahkan Malaysia,” ucap Charis.*SUMARGO PANGESTU

 

 

R
Penulis
Rizki Haerullah
news
news