news
INFOGRAFIS
Seri A Ladang Profit
29 August 2019 13:11 WIB
berita
Striker Federico Bernardeschi memberi keuntungan besar untuk Fiorentina.-Topskor.id/istimewa-
MILAN – Sepak bola dan finansial, dua hal yang tidak bisa dilepaskan pada era modern. Banyak cara dilakukan klub untuk mendongkrak pemasukan, dari hak siar televisi, sponsor, sampai tiket. Namun, salah satu yang paling diperhitungkan belakangan ini adalah laba penjualan pemain. Di Seri A saja, dalam lima tahun terakhir, total keuntungan dari transaksi tersebut mencapai 2,67 miliar euro (sekitar Rp42,2 triliun).

Dibandingkan dengan empat kompetisi top Eropa lainnya, hanya Liga Primer (2,68 miliar euro) yang bisa menandingi laba transfer Seri A dalam kurun 2013-2018. Bedanya, jumlah operasi di kasta elite Inggris lebih banyak tiga kali lipat. Sementara Bundesliga (2,16) dan La Liga (1,81) tertinggal jauh di belakang. Klub-klub Seri A tampaknya mulai menyadari betapa signifikan imbas laba penjualan pemain terhadap keuangan.




Baca Juga :
- Pelatih Roma Bilang Para Pemainnya Malas Bergerak, Simak Penjelasannya
- Ronaldo, Bentancur, Bonucci Hancurkan Roma




Terlihat pada musim 2016/17, keuntungan total dari transaksi transfer melejit hampir dua kali lipat, dari 383 menjadi 711,3 juta euro. Faktor terbesar yang menyebabkan hal tersebut adalah operasi bintang lima Paul Pogba ke Manchester United FC (menghasilkan profit 96,5 juta euro buat Juventus FC) dan Gonzalo Higuain ke Juve (86 juta bagi SSC Napoli).

Yang menarik, jumlah tersebut terus meningkat pada musim berikutnya, menjadi 738,4 juta euro. Padahal, tak ada transfer mewah yang terjadi. Keuntungan paling besar pada 2017/18 didapat ACF Fiorentina (39,1 juta) ketika melego Federico Bernardeschi ke Juventus. Ini menjelaskan bahwa mengejar laba dari penjualan pemain sudah jadi sistem yang mendarah daging di mercato.


Baca Juga :
- Dybala Bilang Gattuso Gila
- Sarri: Ronaldo Pecahkan 100 Masalah


Dulu, ada cara sederhana untuk mengais keuntungan, yakni kepemilikan bersama pemain oleh dua klub. Namun, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menghapusnya sejak 2015. Kini, mereka coba mengakalinya dengan metode recompra (pembelian kembali) yang diadaptasi dari Spanyol. Sederhananya, Klub A menjual pemain kepada Klub B, dengan memasukkan hak pembelian kembali di masa depan sesuai harga yang mereka tetapkan. Keuntungan dicari dengan risiko, tergantung perkembangan pemain.

Dalam lima tahun terakhir (2013-2018), ada dua klub Seri A yang paling piawai mencari keuntungan dari penjualan pemain. Mereka adalah AS Roma dan Juve, dengan pemasukan masing-masing 331 dan 327 juta euro. Itu belum menghitung kalender 2018/19, di mana I Giallorossi meraup 130 juta dari operasi Alisson Becker hingga Kostas Manolas dan Luca Pellegrini. Sementara Juve mendapatkan lebih dari 120 juta, tapi tanpa mengorbankan pemain bintang.

Jumlah tersebut datang dari penjualan Emil Audero, Alberto Cerri, Rolando Mandragora, dan Stefano Sturaro. Kian ketatnya aturan finansial dari UEFA juga memaksa klub untuk mencari laba. FC Internazionale tahu betul soal ini, terlihat dari penjualan sejumlah pemain pinggiran demi menyeimbangkan neraca. Di samping itu, ada pula klub yang murni melakukannya karena butuh dana tambahan buat transfer. Yang pasti, kontestan Seri A terus beradaptasi dengan keadaan agar bisa tetap kompetitif sembari meraup untung.*** Dari berbagai sumber

loading...
X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news