news
TOP FEATURE FOOTBALL
Taylor Ingin Lebih Banyak Pemain Asia Selatan Tampil di Liga Primer
28 August 2019 14:29 WIB
berita
Bek sayap Aston Villa menjadi satu dari dua pemain keturunan Asia Selatan yang tampil di Liga Primer musim ini./AFP
NEIL Taylor ingin melihat lebih banyak lagi pesepak bola Britania Raya keturunan Asia yang bermain di Liga Primer di masa depan. "Saya berharap publik akan melihat kompetisi ini dipenuhi pemain-pemain dari Asia Selatan atau dari komunitasnya yang ada di Britania Raya," ujar sang pemain.

Taylor, fullback Aston Villa memiliki ayah asal Wales dan ibu dari India. Dia menjadi orang Britania Raya keturunan Asia pertama yang mencetak gol di turnamen besar ketika mencetak gol bersama Aaron Ramsey dan Gareth Bale untuk timnas Wales saat menang 3-0 atas Rusia pada Piala Eropa 2016.




Baca Juga :
- Pep Tak Menyesal Tolak MU demi Man. City
- Sempat Tak Dianggap, Kini Justru Menjadi Sosok Kunci Sheffield




"Itu pertanyaan pertanyaan yang sulit," kata Taylor kepada Sky Sports ketika ditanya penyebab sedikitnya pemain keturunan atau dari Asia Selatan di Liga Primer. Selain dirinya, gelandang Leicester City FC Hamza Choudhury yang berdara Bangladesh adalah satu-satunya perwakilan Asia Selatan di Liga Primer musim ini.

"Saya telah membahas ini dengan banyak orang, mencoba menemukan alasan mengapa tidak ada banyak pemain Asia Selatan di sini. Mungkin faktor utamanya adalah kualitas dan mentalitas. Anda harus punya itu untuk bisa bermain di level tertinggi!" katanya.


Baca Juga :
- Gol ke Gawang Liverpool Tandai Jejak Trezeguet di Liga Primer
- Liverpool Dilanda Dilema soal Fabinho


Taylor telah menunjukkan jika dirinya memiliki dua syarat tersebut. Ia mengantongi 42 caps bersama Wales dan telah menjalani hampir 250 penampilan di dua divisi teratas sepak bola Inggris. Namun, pemain 30 tahun itu tak menganggap diri sebagai anutan bagi pemain Britania keturunan Asia.

“Sulit menyebut diri Anda seorang anutan karena itu orang lain yang menilai. Tetapi dengan level permainan yang di sini, dari tayangannya ke seluruh dunia, setiap pemain di Liga Primer bisa jadi teladan. Jika saya bisa menginspirasi, walau bagi hanya satu orang untuk bisa bermain di Liga Primer, tentu itu sangat positif."

Taylor tumbuh di St Asaph, sebuah kota di Wales Utara. Masa kecilnya berlangsung seperti anak-anak umumnya. Namun seiring perkembangan karier sepak bolanya, dia semakin sering menerima perlakuan rasialisme. Salah satunya kala memperkuat tim U-16 atau U-17 Wales di luar negeri. Semua anggota tim menjadi sasaran diskriminasi.

"Yang menyedihkan, pelakunya justru pelatih, fan, orang-orang di pinggir lapangan. Mereka meneriakkan kata-kata yang tak pantas. Hal tersebut menunjukkan bagaimana mereka seperti orang-orang yang tidak berpendidikan!”

Toh, Taylor mengaku tak bisa mengelak dari situasi yang telah terjadi selama bertahun-tahun. "Saya percaya jika Anda meminta pemain yang dulu berlaga di awal 1990-an atau 80-an, terlebih lagi saat pemain kulit hitam pertama kali masuk dalam sepak bola di 1970-an, mereka akan memberi tahu Anda, situasinya jauh lebih sulit.”

Intinya, menurut Taylor yang menjadi satu-satunya pemain berdarah Asia dalam skuat Inggris Raya pada Olimpiade 2012 London itu, perilaku rasialisme perlu disingkirkan. “Saya pikir sudah ada progres. Fakta bahwa otoritas terkait dan publik telah membahasnya secara serius, bahwa dengan wawancara ini menunjukkan kita peduli."*NURUL IKA HIDAYATI

 

 

loading...
I
Penulis
I Gede Ardy E
news
news