LIGA INGGRIS
Lampard Punya Alasan Jadikan Pemain Ini sebagai Epitome Chelsea
20 August 2019 14:59 WIB
berita
Gelandang muda Chelsea Mason Mount tampil impresif saat menghadapi Leicester City, akhir pekan lalu./AFP
LONDON – Bukan tanpa sebab pelatih Chelsea FC Frank Lampard sangat percaya kepada Mason Mount. Bukan semata-mata karena keduanya telah bekerja sama di Derby County FC musim lalu. Alasan terbesar adalah bahwa Lampard ingin menjadikan Mason sebagai epistome atau pemain yang mewakili karakter permainan The Blues di masa depan.

Dan, gelandang 20 tahun tersebut sejauh ini sukses membayar kepercayaan sang pelatih. Mason membuktikan diri tidak hanya mampu tampil impresif pada pramusim, tetapi juga dalam kompetisi sesungguhnya. Pemain lulusan akademi sepak bola Chelsea ini selalu turun sebagai starter dan tampil penuh dalam dua laga perdana The Blues di Liga Primer 2019/20.  




Baca Juga :
- Crystal Palace Siap Bujuk Olivier Giroud Tinggalkan Chelsea
- Giroud Frustrasi dan Ingin Tinggalkan Chelsea, Abraham: Saya Banyak Belajar dari Dia




Meskipun belum mampu memberikan kemenangan bagi tim, performa individu Mason telah membuat banyak pihak terkesan. Ia mungkin sosok junior dalam skuat Chelsea, namun Mason adalah sosok yang paling paham keinginan Lampard setelah tampil dalam 44 laga bersama Derby pada 2018/19. Sang pelatih ingin menerapkan sepak bola menekan yang intens. Mason membantu Lampard menerjemahkan itu.

Hal tersebut terlihat saat The Blues menjamu Leicester City FC di Stadion Stamford Bridge, Minggu (18/8) lalu. Sejak awal pertandingan, pasukan Lampard menekan dengan lima pemain: Pedro Rodriguez, Olivier Giroud, Christian Pulisic, N’Golo Kante, dan Mason. Dan permainan agresif itu berbuah pada menit ketujuh. Mason berhasil mencuri bola dari Wilfried Ndidi dan membawa Chelsea unggul.


Baca Juga :
- Lampard Tak Mau Penyerang Terlupakannya Hengkang dari Stamford Bridge
- Determinasi Jadi Kunci Chelsea Raih Lima Kemenangan Beruntun


Jika ia gagal melepaskan bola, Kante telah siap mengambil alih karena keduanya menekan hingga jantung pertahanan lawan. Lampard sendiri menerapkan skema 4-3-3 dan tetap memplot Jorginho sebagai gelandang jangkar seperti yang selalu digunakan mantan pelatih Maurizio Sarri. Bedanya, dua bek sayap The Blues juga berfungsi sebagai gelandang tambahan saat menyerang.

Ini berbeda ketika masih diasuh Sarri. Bek kiri dan kanan Chelsea akan meninggalkan Jorginho sendiri mengover pertahanan. Namun taktik Lampard ini bukan tanpa celah. Permainan menekan yang intens tentu sangat menguras energi. Kecuali The Blues mampu mendominasi penguasaan bola seperti yang dilakukan Manchester City FC atau Liverpool FC.  

Di sinilah peran Mason sangat krusial. Lampard ingin memplotnya sebagai pengatur ritme bersama Kante dan Jorginho. Ketiganya memang belum terkoneksi dengan sempurna, tetapi mereka sangat prospektif. “Mason membuktikan dirinya sangat siap bermain di level tinggi. Dia bisa menjadi pembeda bagi Chelsea musim ini,” kata eks gelandang Liverpool dan timnas Inggris Jamie Redknapp.

Menurutnya, Mason adalah metronom baru The Blues era Lampard. “Saat gelandang Chelsea menguasai bola, mereka siap menekan dan Mason akan memimpin dalam proses tersebut,” lanjut Redknapp. “Dalam dua laga awal Liga Primer, dia menjalani peran itu dengan baik, dia paham kapan harus bergerak.”

Mason sendiri senang bisa mencetak gol perdana untuk Chelsea dalam laga kompetitif. Namun ia kecewa karena torehannya itu tidak cukup untuk membawa The Blues meraih tiga poin pertama di liga domestik musim ini. “Mimpi saya telah menjadi kenyataan, mencetak gol dalam laga debut Liga Primer di kandang. Saya harap bisa melakukannya secara konsisten dan tentu membawa tim meraih hasil maksimal,” kata Mason.*  

Statistik Mason Mount vs Leicester City
(18 Agustus 2019)
Menit bermain: 90
Menyentuh bola: 62
Operan (akurasi): 31 (83,9%)
Umpan kunci: 1
Tembakan: 5
Gol/Assist: 1/0
Tekel: 3
Intersep: 2

 

 

I
Penulis
I Gede Ardy E