LIGA ITALIA
Leao Dapat Mengikis Ketergantungan Milan Terhadap Piatek.
20 August 2019 13:54 WIB
berita
Krzysztof Piatek dan Rafael Leao diproyeksikan jadi duet maut di lini serang AC Milan.
MILAN – Pelatih Marco Giampaolo dikecam lantaran AC Milan tidak mampu menyuguhkan penampilan indah dan cenderung statis. Namun, dia tak menggubris dan fokus menciptakan permainan elastis dan berkualitas.

Giampaolo memiliki metode yang tepat untuk mempermulus transformasi karakter. Dia membangun kekompakan dan disiplin permainan sehingga ketika berusaha memulai manuver dari berbagai zona, keseimbangan tidak terganggu. Penguasaan bola dan permainan vertikal merupakan unsur penting bagi Milan.




Baca Juga :
- Secercah Asa di Lini Serang Inter
- Update Klasemen Liga Italia Serie A, Senin Dini Hari WIB




Sumber daya berlimpah membuatnya punya opsi strategi yang luas. Para pemain mesti mempelajari segala modul dengan basis empat bek. Alhasil tim mudah melakukan pergantian taktik dalam situasi darurat. Lawan akan dibuat kebingungan karena sulit mendeteksi pesepak bola yang menjadi acuan I Rossoneri.

Wajah barisan belakang lebih baik dengan hadirnya dua komponen baru: Leo Duarte dan Theo Hernandez. Bek yang direkrut dari Real Madrid tersebut memiliki kecepatan yang berguna ketika tim meningkatkan tekanan di area lawan. Sementara kelebihan pesepak bola asal Brasil itu adalah respons bagus, fisik kokoh dan hebat dari segi teknik. Dia merupakan pasangan ideal bagi Alessio Romagnoli di jantung pertahanan. Pelatih membebaskan mereka untuk berkreasi menciptakan serangan balik.


Baca Juga :
- Era Pioli pun Dimulai
- Misi Kembali ke Jalur Scudetto


Ketika pertahanan beres, masalah justru mengemuka di bagian depan, sepekan sebelum Seri A dimulai. Hanya ada dua gol yang berasal dari penyerang, Suso, sisanya masing-masing satu dipersembahkan bek Theo Hernandez, gelandang dalam Fabio Borini dan sebuah gol bunuh diri.

Ketergantungan terhadap Krzysztof Piatek belum bisa dihilangkan sepenuhnya. Akibatnya ketika striker asal Polandia itu mengalami kemarau, ketajaman Milan pun terpengaruh.

Nama Kris tidak pernah muncul di papan skor sepanjang enam laga uji coba. Dia belum mampu mengejawantahkan pergerakan yang berbeda sesuai keinginan Giampaolo. Ketika Suso atau Hakan Calhanoglu melepaskan umpan panjang, eks penyerang Genoa CFC itu kerap terlambat sampai ke area penalti.

Rafael Leao diharapkan dapat memberikan jalan keluar atas problem tersebut. Asalkan pesepak bola berpaspor Portugal itu disiplin pada taktik maka perlahan tim tidak lagi mengandalkan Piatek sepenuhnya. Giampaolo harus mencarikan posisi yang tepat untuk Samu Castillejo karena dia kurang menggigit saat didapuk sebagai penyerang kedua.

Kapten Termuda

Ketika mencintai sesuatu, maka seseorang akan melakukan segala hal untuk sosok yang dicintainya. Ini berlaku pula bagi Alessio Romagnoli. Berawal dari tifoso Alessandro Nesta, dia berhasil mewujudkan impian bermain di tim yang sama dengan idolanya itu.  

Pada 11 Agustus lalu, genap empat tahun Romagnoli berkostum AC Milan. Hebatnya bek muda tersebut diberi kepercayaan mengenakan ban kapten musim lalu atau dalam tempo tiga tahun setelah mendarat di Milanello. Dia merupakan Il Capitano termuda skuat tersebut setelah era Franco Baressi, tepatnya di usia 23 tahun.

Keputusannya menerima tantangan baru di luar AS Roma sungguh tepat. Pergantian pelatih I Rossoneri, justru membuat wawasannya lebih kaya, kapasitas teknik meningkat, sama halnya dengan jiwa kepemimpinan. Dia mengawal benteng Milan dalam 152 laga, memasok 7 gol dan 2 assist.

Romagnoli tetap memegang kunci pertahanan skuat tersebut. Tekad kuat diutarakan difensore pemilik kostum nomor 13 tersebut, “Kami mesti menjalani musim ini dengan lebih baik, target yang menguap tahun lalu dan melakukan segalanya demi sampai ke peringkat keempat.”* Dari berbagai sumber

X
Penulis
Xaveria Yunita