ONE CHAMPIONSHIP
Atlet Bela Diri Campuran Indonesia Berbicara Tentang Ground Game
14 August 2019 17:12 WIB
berita
Rudy “The Golden Boy” Agustian mengatakan bahwa tiap atlet wajib menguasai dasar-dasar pergerakan di atas kanvas
JAKARTA - Permainan bawah dalam seni bela diri campuran, atau sering disebut juga sebagai ground work, ground fight, atau ground game, adalah aksi yang umum terjadi selain serangan pukulan atau tendangan yang diperbolehkan.

Ground game ini mengkondisikan para atlet untuk berada dalam jarak yang sangat rapat saat mereka berada dalam posisi terbaring di atas kanvas, atau saat berusaha menyeret lawannya ke bawah – yang dikenal dengan istilah takedown.


Baca Juga :
- Apa Yang Dipertaruhkan Dalam ONE: MASTERS OF DESTINY?
- Catatan KO Terbaik dari Petarung di ONE: MASTERS OF DESTINY




Aplikasi dari ground game ini adalah berbagai teknik grappling, melalui Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ), gulat, judo, sambo dan beberapa seni bela diri lainnya.

Serangan dan pertahanan oleh kedua petarung di atas kanvas menjadi sangat penting, dimana atlet yang berada diatas badan lawan biasanya lebih diuntungkan dalam serangan.


Baca Juga :
- Pengalaman Atlet ONE Championship Berbelanja dari UKM Indonesia 
- Atlet MMA Asal Indonesia Serukan Perang Terhadap Narkoba


Hal ini dikarenakan mereka dapat menciptakan jarak dan pergerakan untuk berbagai serangan yang efektif. Hal ini pun dijabarkan oleh dua atlet Indonesia yang tergabung dalam ONE Championship, yaitu Anthony “The Archangel” Engelen dan Rudy “The Golden Boy” Agustian.

Anthony mengatakan bahwa ground game tidak dapat dikuasai hanya dengan menguasai satu teknik tersendiri, karena hal ini akan berbalik melawan atlet tersebut. “Tidak ada jawaban sederhana di sini,” kata atlet yang berlatih di Bali MMA ini.

“[Penguasaan teknik] ini semua terkait dengan kerja keras dan dedikasi, apapun yang terjadi. Tidak ada satu jawaban solid untuk hal ini.”

Menurutnya, hal ini berlaku pada seseorang yang memiliki kemampuan ground terbaik dalam dunia bela diri campuran, seperti salah satu atlet yang bertanding dalam salah satu promosi di dunia Barat.

“Menurut saya, atlet dengan skill ground paling baik adalah Demian Maia, seorang petarung yang terkenal akan teknik grapplingnya,” sebut Anthony. “Atlet ini seperti seorang penyihir di atas kanvas.”

“Menurut saya, tidak seorangpun dapat menunjukkan tingkatan jiu-jitsu seperti Demian, saat sedang bertarung di kancah MMA. Kemampuan yang ia tunjukkan sangat luar biasa.”

Rudy Agustian membahas hal ini dengan lebih mendetil, seperti apa yang harus ditekankan dalam ground game di sebuah pertandingan. “Kontrol dan tekanan merupakan dua elemen paling penting dalam ground game. Kerapatan jarak dengan lawan, serta kemampuan untuk mengontrol dari segala posisi merupakan kunci dari serangan menuju submission ataupun sweep,” katanya.

“Beberapa atlet favorit saya yang memiliki ground game hebat adalah Shinya “Tobikan Judan” Aoki, atlet Evolve MMA asal Jepang yang sempat menyandang gelar Juara Dunia ONE Lightweight, dan Gunnar Nelson.”

Bagi para pemula yang ingin mengembangkan teknik mereka, Rudy mengatakan bahwa tiap atlet wajib menguasai dasar-dasar pergerakan di atas kanvas, melalui seni bela diri yang terkait.

“Semua elemen fundamental adalah yang terpenting, seperti berbagai posisi dasar dan teknik untuk melancarkan tekanan pada lawan,” jelas atlet divisi flyweight ini.

“Setelah itu, barulah [seorang] atlet dapat belajar tentang kuncian-kuncian untuk menghentikan lawan.”

Setelah itu, Anthony menambahkan bahwa yang dibutuhkan hanyalah kerja keras dan determinasi tinggi.

 “Tidak ada trik, tidak ada jalan pintas. Jika anda ingin berkembang, anda harus bekerja keras. Habiskan berjam-jam berkeringat di atas kanvas, setiap hari. Inilah satu-satunya cara untuk berkembang,” kata atlet divisi lightweight ONE ini.

“Tidak ada trik dalam bela diri yang sesungguhnya. Ini berbeda dari jika anda menonton Kung Fu Thai Chi Master, yang dapat memutar tubuh lawan dengan dua jari saja,” kata Anthony.

“Semua orang harus memulai sebagai sabuk putih atau pemula, dan hal itu tidak menyenangkan.”

“Saya pun pernah melaluinya. Saya dikalahkan oleh pemuda berusia 16 tahun. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, saya meningkatkan diri dan dapat membalas kekalahan.”

news
Penulis
Suryansyah
news