LIGA INGGRIS
Mantan Pelatih Man. City Kecam Strategi Negatif Guardiola
14 August 2019 15:15 WIB
berita
Pelatih West Ham Manuel Pellegrini frustrasi karena timnya tidak mampu menembus pertahanan Man. City dalam laga di Stadion London, akhir pekan lalu./AFP
LONDON - Pelatih West Ham United FC Manuel Pellgrini menilai, kekalahan telak dari Manchester City FC, 0-5, Sabtu (10/8) lalu, bukan hanya disebabkan kesalahan pemainnya. Pelatih asal Cile tersebut menilai Man. City menerapkan permainan kotor alias menjadikan pelanggaran sebagai taktik (tactical fouls).

“Setiap kali kami berusaha masuk kotak penalti, mereka selalu melakukan pelanggaran. Sementara, kami selalu berupaya bermain bersih,” ucap Pellegrini. “Jika Anda melihat lagi rekaman pertandingan, semua serangan kami pasti berakhir dengan pelanggaran lawan. Statistik menunjukkan Man. City melakukan 13 pelanggaran sedangkan kami hanya lima (sebenarnya, enam bila mengacu statistik resmi).”




Baca Juga :
- Aguero Kecelakaan, Mobilnya Ringsek, Untung Sang Pemain Tidak Terluka
- De Bruyne dan Stones Telah Latihan, Krisis Man. City Mereda




Pellegrini menambahkan, saat mereka merancang serangan dari sayap, para full-back Man. City langsung menyergap dengan agresif. Bila dari tengah, gelandang bertahan seperti Rodri atau Fernandinho akan bertindak sebagai “penjagal”. 

Yang menjadi pertanyaan, apakah benar Guardiola menerapkan tactical fouls saat melawan West Ham? Statistik menunjukkan, delapan dari 13 pelanggaran yang dilakukan Man. City dilakukan di babak pertama. Saat itu, The Hammers memang sedang gencar melakukan serangan. Itu pula yang membuat The Citizens hanya mampu mencetak satu gol di 45 menit pertama.


Baca Juga :
- Foden Perlu Rutin Bermain untuk Bisa Penuhi Potensinya
- Pep Ingkar Janji, Phil Foden Dianjurkan Tinggalkan City Sebagai Pemain Pinjaman di Bulan Januari


Menariknya, dari 13 pelanggaran para pemain Man. City, tujuh di antaranya dilakukan di separuh lapangan West Ham. Sebaliknya, hanya satu pelanggaran yang dibuat Sergio Aguero dan kawan-kawan di area pertahanan mereka, tepatnya di ujung kotak penalti. Dengan begitu, bisa dibilang Guardiola memang meminta pemainnya untuk tetap bermain menekan meskipun tidak sedang menguasai bola.

Rodri, gelandang tengah yang memang bertugas memutus serangan, hanya melakukan tiga pelanggaran dari total 13 yang dilakukan semua pemain Man. City sepanjang 90 menit permainan. Rodri justru lebih banyak menunjukkan kelebihan tekniknya dalam mengolah bola. Dialah pemain paling penting di depan empat bek Man. City pada laga tersebut.   

Peran yang dilakukan Rodri di Man. City saat ini sebetulnya sudah terlihat di era Guardiola dalam beberapa tahun terakhir. Musim lalu, Fernandinho melakukan pelanggaran terbanyak di antara pemain The Citizens, 40. Namun, jumlah kartu kuning gelandang asal Brasil itu hanya lima, satu lebih sedikit ketimbang kolektor terbanyak, Vincent Kompany.

Sebelum bergabung ke Man. City, Guardiola memerintahkan Javi Martinez dan Arturo Vidal untuk melakukan “pekerjaan kotor” di lini tengah FC Bayern Muenchen (2013-2016). Sedangkan saat menangani FC Barcelona (2008-2012), Guardiola sangat mengandalkan Sergio Busquets.

“Saya hanya meminta pemain melakukan satu atau dua sentuhan serta jangan pernah memberi kesempatan lawan bebas mengontrol bola. Itu saja. Sisanya, wasit yang bertanggung jawab,” ucap Guardiola saat disinggung soal tekniknya menekan lawan.*TRI CAHYO NUGROHO

 

I
Penulis
I Gede Ardy E