news
LIGA ITALIA
Di Francesco Ingin Timnya Patuh pada Taktik yang Telah Dipelajari
14 August 2019 13:21 WIB
berita
Skuat Sampdoria mendengarkan instruksi yang diberikan pelatih Eusebio Di Francesco.-Topskor.id/istimewa-
GENOA – UC Sampdoria merayakan ulang tahun ke-73 pada 12 Agustus kemarin. Ribuan ucapan selamat mengalir di akun media sosial klub. Pelatih Eusebio Di Francesco menguntai kata-kata indah untuk klub barunya.

“Kita baru saling mengenal sebentar tapi sudah cukup bagi saya untuk memahami keindahan dan uniknya warna tim ini, pesona sejarah Anda, tifosi yang menakjubkan. Selamat ulang tahun, UC Sampdoria,” kicaunya di Twitter.




Baca Juga :
- Conte Mendapat Teror
- Verona Membangun Bungker Kuat di Seri A




Tak cukup dengan ucapan terbaik, dia harus mempersembahkan prestasi lebih memuaskan dibanding pendahulunya Marco Giampaolo. Saat ini pelatih sedang bekerja keras membentuk sebuah tim tangguh. Uji coba dengan hasil beragam: menang dua kali lawan tim gurem, Pro Patria dan Spezi, lalu takluk dalam dua duel dengan skuat yang setara, AS Monaco dan Parma Calcio, tidak merisaukannya.

Kekalahan dipandang sebagai cara untuk menemukan titik lemah skuatnya. Anak buahnya pun mesti belajar dari kesalahan. Mereka sering ragu dan kurang rapi saat menyerbu ke area lawan. Kualitas atletik pemain perlu ditingkatkan sama halnya dengan agar tidak sering kalah tempo dari lawan. Di Francesco menilai hal itu normal karena mereka belum lama berlatih bersama.


Baca Juga :
- Skuat Napoli Akhirnya Setuju Melakukan Pemusatan Latihan
- Misi Membajak Donnarumma


Di sisi lain, pelatih menggarisbawahi bahwa timnya mampu bersenang-senang di lapangan dan selalu berusaha menerapkan taktik yang dipelajari selama latihan. Ini yang paling penting.

“Beberapa kesalahan teknik masih terlihat, memang perlu diperbaiki. Namun ini adalah sesuatu yang wajar saat tim sedang dalam proses perkembangan fisik. Saya gembira bisa memberikan menit bermain memadai bagi semua pemain. Saya yakin kami akan tiba di pertandingan Piala Italia dengan kondisi terbaik,” ujar eksallenatore AS Roma itu optimistis.

Di Francesco berusaha mengabaikan rasa kecewa akibat tim yang belum lengkap jelang musim baru. Saat ini situasi darurat terlihat di sayap kiri. Gianluca Caprari dan Manolo Gabbiadini sedang memulihkan kondisi pasca cedera.

Gonzalo Maroni, pemain Argentina yang tiba sebagai pinjaman dari Boca Juniors, sedang mengambil peran sebagai pemain sayap (terlahir sebagai trequartista klasik). Dia butuh waktu untuk beradaptasi di dalam sepak bola yang berbeda dari segi irama dan taktik.

Mehdi Leris memang menonjol di AC ChievoVerona, tapi perlu bekerja keras untuk meyakinkan publik Samp. Kemampuannya perlu dipupuk agar tidak berbeda jauh dibanding rekan setimnya. 

Idola Baru

Tepuk tangan membahana ketika nama Emil Audero dipanggil dalam perkenalan tim US Sampdoria untuk musim 2019/20, beberapa waktu silam. Kiper 22 tahun tersebut menjadi idola baru setelah berjibaku mengamankan gawang I Blucerchiati. Wajar saja sebab dia mampu memperbaiki catatan kebobolan di tahun perdananya sebagai pemain tim yang bermarkas di Genoa itu.

Di Seri A 2017/18, ketika masih dikawal Emiliano Viviano, gawang La Samp dirobek 60 kali. Saat Audero, yang kala itu berstatus pinjaman dari Juventus FC, berkuasa di bawah mistar, jumlahnya tinggal 51. Kini pemain yang tidak suka mengekspos kehidupan pribadinya tersebut berstatus permanen.

Kecakapan Audero merupakan buah dari ketekunannya belajar. Dia mencuri ilmu kiper terbaik Italia, Gianluigi Buffon, lalu berproses selama ‘disekolahkan’ ke Venezia FC. “Seri A seperti dunia baru karena saya sebelumnya berkecimpung di Seri B. Saya banyak belajar juga dari kesalahan. Saya jadi paham mana yang boleh dan harus dihindari, ini terkait aspek teknik kiper dan gestur dalam situasi tertentu. Saya ingin menunjukkan lagi aksi hebat yang telah saya lakukan musim lalu dan memperbaiki semuanya,” katanya dalam wawancara dengan Il Secolo XIX.

Pesepak bola keturunan Italia-Indonesia itu siap menyesuaikan diri dengan evolusi permainan Samp setelah terjadi pergantian pelatih. “Saya tahu akan banyak menyentuh bola dengan kaki, taktik seperti ini merupakan bagian dari sepak bola modern,” dia menuturkan.* Dari berbagai sumber

 

loading...
X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news