LIGA INGGRIS
Dipermalukan MU, Lampard Coreng Rapor Pelatih Chelsea
13 August 2019 14:55 WIB
berita
Pelatih Chelsea Frank Lampard (kiri) menghibur bek sekaligus kapten tim Cesar Azpilicueta usai kalah telak dari MU di Old Trafford akhir pekan lalu./AFP
MANCHESTER – Frank Lampard menandai debut kompetitifnya sebagai pelatih Chelsea FC dengan hasil yang sangat menyakitkan, takluk 0-4 dari Manchester United FC (MU) di Old Trafford, Minggu (11/8). Kekalahan memalukan tersebut pun membuat The Blues sementara ini terbenam di zona degradasi Liga Primer untuk kali pertama sejak 30 September 2000 lalu.

Lampard ditunjuk sebagai pengganti Maurizio Sarri pada musim panas lalu, meskipun pengalaman manajerialnya masih sangat terbatas. Apa daya, mereka langsung bertemu MU pada laga pembuka 2019/20, dan hasilnya tentu tidak terbayangkan sebelumnya. Ini menjadi kekalahan terbesar Chelsea dari Setan Merah setelah 54 tahun.




Baca Juga :
- Giroud Frustrasi dan Ingin Tinggalkan Chelsea, Abraham: Saya Banyak Belajar dari Dia
- Lampard Tak Mau Penyerang Terlupakannya Hengkang dari Stamford Bridge




Lebih parahnya lagi, ini merupakan hasil terburuk yang dialami pelatih Chelsea di laga debutnya sejak Danny Blanchflower kalah 2-7 dari Middlesbrough pada Desember 1978. Tak pelak kampanye #LampardOut menjadi trending topic di Twitter seusai laga, yang bukan pertama kalinya dialami Lampard dalam beberapa pekan terakhir.

Meski kecewa, Lampard bersikeras timnya tidak pantas menelan kekalahan memalukan dari MU. “Empat kesalahan berujung gol untuk lawan, walaupun kami mendominasi pada babak pertama. Dua peluang kami membentur tiang gawang. MU tim dengan serangan balik luar biasa, kami gagal mengantisipasi kekuatan mereka itu,” ujarnya.


Baca Juga :
- Atletico Bersiap Membawa Mantan Bintang Barcelona
- Update Klasemen Liga Primer Inggris Pekan 9, Minggu Dini Hari WIB


Padahal statistik dari Old Trafford memperlihatkan hal menarik. Chelsea memiliki lebih banyak penguasaan bola, lebih banyak sepak pojok, lebih banyak tembakan ke gawang. Dan lebih banyak tembakan tepat sasaran. Tetapi justru gol-gol Anthony Martial, Marcus Rashford, dan Daniel James yang bersarang di gawang Kepa Arrizabalaga.

Lampard memasang susunan awal yang berisi tiga pemain lulusan akademi Chelsea: Mason Mount, Tammy Abraham, dan Andreas Christensen. Sebaliknya, sang pelatih justru baru memasukkan Christian Pulisic di pertengahan babak kedua. Karena, kendati bermain bagus, penyelesaian akhir Mount dan Abraham tidak pernah tepat sasaran.

Masalahnya adalah ketika Mount memiliki kesempatan yang pasti untuk menembak ke arah gawang De Gea, dia justru bergerak untuk mendapatkan umpan. Lalu, ketika Abraham melayangkan tembakan setelah menit keempat, hanya membentur tiang. Yang berikutnya, giliran tendangan Kovacic yang kembali membentur mistar gawang.

Kala pers mempertanyakan alasan Pulisic tidak starter, Lampard memberikan jawaban: “Christian baru 20 tahun. Dia akan menjadi pemain yang fantastis untuk klub. Punya skill hebat. Tetapi saya punya pilihan lain di tengah. Ini salah satu pertandingan dimana, saya merasa lebih baik mulai dengan Ross dan Mason, yang bagus di pramusim.”

Selang sehari kemudian, para penggemar Chelsea menilai kekalahan dari MU ini sama konyolnya seperti ketika Abraham dan kawan-kawan dipaksa bermain 1-1 oleh klub Liga Irlandia, Bohemians dalam penampilan pertama Lampard sebagai pelatih pada Juli lalu, dalam pertandingan pramusim.*NURUL IKA HIDAYATI

 

I
Penulis
I Gede Ardy E