INFOGRAFIS
Zidane Kacau, Belum Menemukan Pakem di Madrid
13 August 2019 13:09 WIB
berita
Pelatih Madrid, Zinedine Zidane memperlihatkan gambaran tidak jelas terkait performa skuatnya sepanjang pramusim 2019.-Topskor/Ist
ROMA – Berakhir sudah pramusim Real Madrid, dan tampak masih ada persoalan yang mesti diselesaikan sebelum La Liga bergulir, akhir pekan ini. Mereka baru saja kembali merasakan kekalahan 4-5 adu penalti dari AS Roma setelah seri 2-2, Minggu (11/8) atau Senin dini hari WIB. Di markas lawannya Stadion Olimpico, tim ibu kota Spanyol terlihat kacau.

Keraguan masih menyelimuti Madrid pasca memainkan tujuh pertandingan uji coba sepanjang musim panas ini. Tim berjuluk Los Merengues bermasalah di pertahanan yang serius, sebab sudah ada 18 gol kebobolan yang diterima. Meski demikian, problem dasarnya berada pada sistem permainan, yang berpengaruh ke rapor gol: mencetak dan kemasukan.


Baca Juga :
- Daftar Panjang Cedera Penantang Juara
- Bale Dulu Terbuang Kini Kembali Jadi Andalan




Terlihat jelas ada yang tidak beres pada duel menghadapi Roma. Pelatih Zinedine Zidane masih bermasalah soal skema yang diterapkan di timnya. Ia sepertinya belum menemukan pakem yang akan digunakan musim ini. Padahal La Liga akan segera dibuka pekan ini. Strategi yang berhasil memberi kejutan di pertandingan sebelumnya lawan RB Salzburg kembali diulang (tapi dengan komposisi lain). Namun itu tak lagi berjalan baik dan tiba-tiba diberi perubahan kontras.

Pada duel yang lalu, Zizou –pelatih Madrid–mengejutkan banyak orang dengan meninggalkan pola empat bek dan menerapkan formasi 3-5-2. Hasil manis pun dipetik atas tim asal Austria, sebab Madrid sukses menghentikan kebocoran di pertahanan. Clean sheet (laga tak kemasukan) pertama diraih; menang 1-0, setelah sebelumnya ada 16 gol kebobolan di lima laga.


Baca Juga :
- Perputaran dalam Skema Permainan Real Madrid
- Uji Coba Terakhir Jelang Serie A Italia, AS Roma dan Juventus Menang, AC Milan Seri


Pada laga lawan Roma, Raphael Varane dan Diego Militao tak bermain bersama Sergio Ramos di jantung pertahanan, melainkan Nacho Fernandez. Perubahan lainnya terjadi di lini tengah yakni posisi Toni Kroos dan Isco Alarcon digantikan oleh Federico Valverde dan Luka Modric. Alhasil, Los Merengues tampil dengan tujuh pemain karakter bertahan.

Akan tetapi hasilnya tak sesuai harapan. Meski menerapkan pertahanan berlapis, tim lawan tetap mampu terus menciptakan peluang. Sebelum gol Marcelo Vieira, Roma sudah mengancam lewat Cengiz Under, Alessandro Florenzi, dan Diego Perotti. Usai unggul, Edin Dzeko meneror dan pada peluang kelimanya terjadilah gol balasan melalui Perotti.

Secara keseluruhan, lawan bisa melancarkan 15 tembakan (enam tepat sasaran) dan ada gol tambahan dari Dzeko, meski Madrid juga sempat kembali unggul melalui Carlos Casemiro. Madrid yang “berantakan” kemudian dipertegas saat melakoni babak kedua. Perubahan kontras dilakukan Zidane, sebab Los Merengues bermain dengan empat penyerang.

Pola pertahanan dikembalikan menjadi empat bek. Nacho ditarik keluar untuk memasukan Luka Jovic, yang menemani Karim Benzema sebagai ujung tombak. Sedang Valverde (gelandang bertahana kedua setelah Casemiro), digantikan dengan Vinicius Junior, yang menemani Eden Hazard sebagai sayap (kiri-kanan) yang menopang dua striker.

Sekali lagi, hasilnya pun tak sesuai harapan. Madrid tidak mampu menambah gol meski mencatat berbagai peluang, dan sudah ada penyegaran; Benzema diganti Gareth Bale dan Casemiro ke Kroos. Akhirnya, trofi La Liga Serie A Cup harus ditentukan adu penalti. Marcelo yang mencetak satu gol satu assist di waktu normal gagal sebagai eksekutor.

“Kami tidak bermain dengan lima pemain bertahan. Yang ada adalah tiga bek dan dua lainnya berada di jalur permainan yang lebih tinggi,” kata Zidane, pasca laga. “Satu hari kami bisa melakukannya (pola itu) sangat baik, tapi kadang tidak. Kami mengubah tim (jadi banyak penyerang) karena kami memiliki banyak pemain dan bisa melakukan banyak hal.”***TAUFANI RAHMANDA DARI BERBAGAI SUMBER

D
Penulis
Dini Wulandari
news