news
LIGA ITALIA
Sassuolo Mencari Kado Peringatan 100 Tahun
12 August 2019 13:46 WIB
berita
Domenico Berardi (kiri) memeluk Francesco Caputo setelah membawa kemenangan Sassuolo atas Alessandria, 1-0.-Topskor.id/istimewa-
SASSUOLO – US Sassuolo akan berusia seabad pada 17 Juli 1920. Tentu saja mereka tidak ingin mendapatkan mimpi buruk, terdegradasi setelah prestasi yang diraih di era Roberto De Zerbi. Kado terindah adalah peringkat yang lebih baik.

Ini akan jadi misi utama pengganti Eusebio Di Francesco tersebut di tahun keduanya menangani Sassuolo. Reputasinya sebagai salah satu pelatih muda bertangan dingin dipertaruhkan.




Baca Juga :
- Milan Temukan Komposisi Ideal
- Roma Mesti Belajar dari Kesalahan di Liga Europa




Hilangnya beberapa pemain unggulan, seperti Merih Demiral, Pol Lirola, Stefano Sensi dan Kevin-Prince Boateng, tentu membuat pekerjaan De Zerbi kian berat. Namun di sisi lain, dia cukup bangga bisa menghasilkan para pemain muda brilian yang menarik bagi klub-klub raksasa. “Kami sangat bangga telah mengantarkan para pemain  muda seperti Lirola, Demiral dan Sensi ke klub yang sangat penting,” ujarnya. “Kami harus siap mengganti  mereka dengan orang-orang penuh motivasi. Saya tak sabar memulai musim ini. Kami harus lebih baik dalam muslihat, struktur fisik dan lebih agresif.”

Pengorbanan ini berbuah masuknya dana sebanyak 46 juta euro (sekira Rp738 miliar) yang bisa diinvestasikan untuk menggaet elemen baru bermutu. Pedro Obiang dan Francesco Caputo menjadi simbol baru di sektor belakang dan depan.


Baca Juga :
- Fiorentina Sasaran Empuk Inter
- Allan Dimusuhi De Laurentiis, Dibela Gattuso


Sementara itu, Khouma Babacar tampaknya tidak masuk dalam rencana pelatih untuk lini depan. De Zerbi ingin membangun tridente BBC yang berbahaya bagi benteng lawan. Caputo yang baru bergabung diproyeksikan mengisi celah di tengah sektor serangan. Dia akan beraksi di antara Domenico Berardi yang memotong bola dan Jeremie Boga sebagai penyedia umpan dan operan.

Perbaikan pertahanan menjadi fokus utama. Sebab mereka bertengger di peringkat keempat klasemen tim paling menderita di Seri A. I Neroverdi kebobolan 60 kali dan melepaskan 53 gol. Ini akibat para bek yang saling berjauhan sehingga tak sempat menutup ruang ketika lawan memberikan tekanan kuat.

Bek sentral Obiang atau Francesco Magnanelli bertanggung jawab memajukan barisan pertahanan sehingga jarak dengan playmaker lebih dekat dan memudahkan manuver serangan balik. Ini solusi terbaik ketika lawan berusaha mematikan pergerakan Sassuolo dengan duel individu.

Terlambat Bersinar

Terlemparnya Empoli FC ke kasta kedua mendorong Francesco Caputo mencari pelabuhan baru. US Sassuolo membuka pintu karena membutuhkan penyerang untuk menutup lubang di barisan depan.

Pertolongan tersebut membuat Caputo bertekad memproduksi banyak gol untuk I Neroverdi dan lebih sering mencuri panggung. Maklum saja, dia termasuk terlambat bersinar.

“Tahun lalu, secara pribadi merupakan musim yang sangat penting, meski ada penyesalan dengan bagian akhir. Saya tiba di Seri A sangat terlambat, tapi tidak ada yang perlu disesali. Sekarang saya di sini, ingin bangkit dengan motivasi besar dan antusiasme. Bermain dengan tim-tim ofensif menguntungkan tapi harus berusaha untuk siap dan mau membantu rekan-rekan. Seorang penyerang dapat mencetak gol dengan bantuan tim,” katanya.

Caputo bisa jadi komponen utama dalam mesin gol Sassuolo. Di Seri A 2018/19, bersama Empoli, striker 32 tahun tersebut duduk di peringkat keenam klasemen capocannoniere mengumpulkan 16 gol dari 38 laga. Terbanyak di antara para penyerang milik Roberto De Zerbi saat ini.

Pelatih  memiliki ide untuk menggenjot produktivitas Caputo. Pemain harus menyerang ruang kosong dan gawang dengan memanfaatkan cross.* Dari berbagai sumber

loading...
X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news