TOP OPINI FOOTBALL
Tak Indonesia di Saigon
09 August 2019 14:22 WIB
berita
SEJAK 2013, ketika pertama kali saya liputan keluar negeri, baru kali ini yang terasa berbeda. Rasanya asing. Benar-benar asing. Sebenarnya masih familiar dengan situasi, iklim, penampilan, juga kebudayaannya, namun atmosfernya jauh berbeda.

Yang saya maksud adalah atmosfer di dalam stadion sepak bola. Dalam liputan ke kota Binh Duong, Ho Chi Minh, Vietnam kali ini, saya belum bertemu orang Indonesia. Tentu saja selain pemain timnas bersama pelatih dan ofisial, panitia pelaksana pertandingan dari AFF, serta jurnalis.


Baca Juga :
- Kualifikasi Piala Dunia 2022, Daftar Pemain Timnas Malaysia untuk Lawan Indonesia
- Piala AFF U-18, Reaksi Fakhri Husaini Usai Indonesia Pastikan Peringkat Ketiga




Kota Binh Duong memang cukup sunyi. Kota ini sedang membangun, menuju perkembangan. Ibaratnya, Binh Duong itu Cikarang, Bekasi, tiga tahun lalu atau Bintaro 15 tahun lalu. Sepi tetapi pembangunan di mana-mana. Tanda-tanda modern terpampang jelas di sepanjang jalan yang saya lewati.

Anehnya. Ya, saya merasa aneh. Tak ada suporter Indonesia di tribune Stadion Go Dau, saat Indonesia bertanding melawan Timor Leste, Kamis (8/8) sore. Ini anomali sebab biasanya, selalu ada satu, dua, tiga, sekelompok, hingga segerombol orang Indonesia yang datang ke stadion saat Indonesia berlaga.


Baca Juga :
- Piala AFF U-18, Reaksi Pelatih Myanmar Setelah Dibantai Indonesia 0-5
- Peringkat Ketiga Piala AFF U-18, Indonesia Bantai Myanmar 5-0


Dua tahun lalu misalnya, saat timnas Indonesia U-15 yang ketika itu ditangani Fakhri Husaini bertanding dalam Piala AFF U-15 2017, belasan orang datang ke kota Chonburi, Thailand. Padahal, secara geografis, jika dikomparasi, Chonburi dan Binh Duong sama jauhnya dari pusat kota.

Contoh lainnya, suatu ketika pada 2013, di Nay Pyi Daw, ibu kota baru Myanmar, ada bendera Indonesia di Stadion Wunna Teikhdi. Nay Pyi Daw ini sangat sepi. Sepi sekali. Ibu kota rasa desa. Ketika itu stadion ini baru dibangun. Saat timnas Indonesia bertanding, ada satu bendera dari seorang warga. Hanya satu.

Bahkan, dalam turnamen sepak bola usia muda Gothia Cup di Swedia, yang jaraknya jauh sekali dari Indonesia, setiap ada tim Indonesia bertanding, tiga hingga lima orang datang bersorak-sorak. Saking riuhnya, biasanya suporter tuan rumah kalah ramai dengan segilintir yang berisik tersebut.

Rekan saya, wartawan foto Kantor Berita Antara sampai bertanya, “Bener nih gada orang Indonesia di tribune?” Ia sama herannya dengan saya dengan kenyataan bahwa tak ada suporter Indonesia di stadion. Namun, tersiar kabar di media sosial, segelintir fan akan menggeruduk Ho Chi Minh.

Saya merasa aneh, sebab selama ini bangga atau bahkan pongah, bahwa suporter Indonesia paling gila di Asia Tenggara bahkan Asia. Yang pasti, Garuda Muda tak akan melempem meski tanpa suporter. Sebab, satu yang dperjuangkan tim ini adalah membawa bendera Indonesi berkibar di tiang tertinggi.*ABDUL SUSILA

 

R
Penulis
Rizki Haerullah
news