INFOGRAFIS
Fakta Sejarah Untungkan Persija
22 July 2019 11:25 WIB
berita
JAKARTA – Selangkah lagi mimpi Persija mengawinkan gelar pramusim, kompetisi, dan kejuaraan, akan menjadi kenyataan. Itu setelah Macan Kemayoran menaklukkan PSM dengan skor 1-0, dalam laga final leg pertama Piala Indonesia 2018/19, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Minggu (21/7).

Sejarah membuktikan, Persija selalu bisa menjadi pemenang setelah mengamankan laga kandang. Dari 12 pertandingan Piala Indonesia sejak 2005, ketika sistem laga sudah kandang-tandang, di mana Persija bertindak sebagai tuan rumah pada leg pertama, sembilan kesuksesan dibukukan, dengan tiga lainnya gagal.


Baca Juga :
- Kalahkan Kalteng Putra, Persija Putus Rekor 5 Laga Tanpa Kemenangan
- Demi Akhiri Paceklik, Persija Kembali Memakai Jasa Bruno Matos




Tiga kegagalan itu tercipta saat melawan Persipura, Deltras Sidoarjo, dan Persik Kediri. Pada 2006, Persija ditahan 1-1 oleh Persipura di kandang, lantas takluk 2-0 di Stadion Mandala, Jayapura. Sedangkan saat menjamu Deltras pada 2008, Persija takluk 0-1 di kandang dan bermain imbang 3-3 di Stadion Delta Siadoarjo.

Sementara saat menjamu Persik pada 2010, Persija sejatinya unggul 4-3. Sayangnya, saat tandang ke Kediri tak bisa berbuat banyak, takluk 0-2. Inilah satu-satunya kemenangan di kandang yang berakhir dengan kegagalan. Lantas bagaimana dengan peluang sukses di Makassar pada 28 Juli mendatang?


Baca Juga :
- Ada di Zona Degradasi Jelang Lawan Kalteng Putra, Begini Komentar Pelatih Persija
- Percuma jika Persija Tak Menang


Statistik memperlihatkan, Juku Eja sangat digdaya di kandang. Tim asuhan Darije Kalezic itu terakhir kali menelan kekalahan di depan pendukung setianya pada 6 April 2018 lalu. Tim yang berhasil berpesta di Stadion Andi Mattalatta, Mattoangin tersebut adalah Persela, yakni unggul dengan skor 3-2.

Namun, tim terakhir yang bisa menahan PSM di Kota Angin Mamiri itu adalah Persija. Hasil imbang itu terjadi dalam Liga 1 2018 lalu, tepatnya pada 11 November, lewat skor 2-2. Sebab Persija hanya membutuh hasil imbang untuk memastikan status juara Piala Indonesia 2018/19, hal tersebut tak mustahil.

Asal mentalitas pemain Persija masih terjaga, gelar juara di Makassar bisa terwujud. Mentalitas juara ini diperlihatkan Ryuji Utomo saat masuk menggantikan Maman Abdurrahman yang cedera. Hanya tujuh menit setelah main, Ryuji langsung membuat GBK bergoyang dan bergemuruh.

Namun yang pasti, laga leg kedua di Makassar akan lebih sulit. Bahkan, pelatih Persija Julio Banuelos mengakui PSM sebagai lawan terberatnya sejak menangani Persija. “Kami banyak peluang tapi tidak bisa cetak gol. PSM bertahan, sementara kami terus mencari gol. Semestinya gol itu datang lebih cepat,” kata Banuelos.

Psywar Klok

Adapun Kubu PSM, sama sekali tak memerlihatkan mental pecundang. Saat jumpa pers seusai laga, Kalezic dan Marc Klok malah melempar psywar. Menurut keduanya, Persija tak akan bisa berpesta di Makassar. Buktinya, kemenangan terakhir Persija di Makassar terjadi pada 25 Januari 2004 silam.

“Hari ini Persija tampil dominan. Tetapi itu sama sekali tidak membuat kami gugup, karena itu yang kami inginkan. Saya kira kami juga mengontrol pertandingan,” kata Kalezic. “Semoga Persija memiliki penerbanganan yang baik ke Makasar. Kami sudah tak sabar untuk pertandingan kedua,” ia menambahkan.

Sedang Klok langsung ngegas. “Persija lebih bagus untuk saat ini, dan selamat untuk itu. Saya tidak senang, sebab saya pikir hasil 0-0 lebih pas buat PSM. Saya berharap minggu depan kami yang menang dan ambil piala. Minggu depan adalah ‘perang’ dan kami harus percaya bisa meraih gelar juara,” kata pria Belanda ini.*** Furqon Al Fauzi 

news
Penulis
Abdul Susila
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
news