news
TOP FEATURE FOOTBALL
Sebelum Koscielny, Pemain-Pemain Ini Juga Pernah Jadi Antagonis bagi Klubnya
20 July 2019 16:12 WIB
berita
Bek sekaligus kapten Arsenal Laurent Koscielny bersikap tidak profesional dengan menolak untuk mengikuti tur pramusim tim ke AS./Istimewa
BEK tengah sekaligus kapten Arsenal FC, Laurent Koscielny, tengah menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Pemain asal Prancis ini menolak ikut dalam rombongan tur pramusim The Gunners ke Amerika Serikat. Aksi ini dilakukan sebagai perlawanan terhadap klub London itu karena menolak melepaskannya musim panas ini.

Koscielny adalah salah satu pemain paling loyal di Arsenal dengan masa bakti sembilan tahun. Kini di usia 33 tahun, dia merasa sudah saatnya pulang ke Prancis. Karenanya, Koscielny meminta dilepaskan secara free transfer. Permohonan ini ditolak The Gunners karena sang pemain masih punya sisa kontrak semusim lagi. Tapi, klub itu dikabarkan siap melepas Koscielny jika ada yang mau membayar 10 juta paun.




Baca Juga :
- Jamu Sheffield, Arsenal Malah Dapat Hasil Imbang
- Arsenal Sepakat dengan Bek Kiri PSG Ini




Penolakan Arsenal membuat berang Koscielny sehingga dia melakukan aksi mogok sebagai protes. Aksi seperti ini sudah lumrah dilakukan pemain untuk menuntut dirinya dijual termasuk di Liga Primer Inggris. Berikut ini lima pemain lain yang juga pernah melakukan “pemberontakan” terhadap klub mereka.

Riyad Mahrez


Baca Juga :
- David Luiz Sebut Arsenal Sekarang Bisa Lakukan Banyak Hal Besar
- Arsenal Taklukkan Manchester United, Komentar Arteta Digemakan David Luiz


Gelandang asal Aljazair ini berperan penting dalam sukses Leicester City memenangi gelar Liga Primer 2015/16. Selang dua tahun kemudian, Mahrez ingin pergi. Tapi, The Foxes menolak tawaran Manchester City pada Januari 2018. Sang pemain pun meradang dan mogok latihan selama dua pekan.

Meski membuat Mahrez didenda 240 ribu paun, aksi tersebut terbukti efektif. Terbukti, Leicester akhirnya menjual pemain 28 tahun itu ke City pada akhir musim 2017/18. Keputusan The Foxes juga tidak terlepas dari tingginya uang yang disodorkan The Citizens, 60 juta paun. Angka itu menjadikan Mahrez pemain Afrika termahal.

Carlos Tevez

Striker asal Argentina ini membuat kontroversi saat menolak masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti dalam laga City di Liga Champions lawan Bayern Muenchen pada 2011. Ulah ini membuat berang pelatih Roberto Mancini yang berbuntut konflik antara keduanya.

Tevez bahkan melakukan aksi mogok di pertengahan musim 2011/12 dengan berlibur di rumahnya di Buenos Aires. Aksi tersebut membuat gajinya dipotong hingga lebih dari 9 juta paun. Tevez akhirnya kembali ke City pada Februari 2012 dan membantu klub itu memenangi gelar Liga Primer. Dia bertahan di klub itu hingga Juni 2013.

Diego Costa
Penyerang asal Spanyol ini pernah sukses bersama Chelsea FC sebelum terlibat perseteruan dengan pelatih Antonio Conte pada Januari 2017. Konflik memuncak pada Juni 2017 saat sang pelatih memberi tahu Costa lewat SMS bahwa dirinya tidak punya masa depan di Stamford Bridge.

Pemain 30 tahun itu memilih tinggal di negeri orang tuanya, Brasil, dan tidak mengikuti program pramusim The Blues. Costa akhirnya menuntut dijual kembali ke Atletico Madrid. Tapi, kesepakatan transfernya baru dibuat setelah bursa transfer musim panas 2017 ditutup. Buntutnya, Costa “menganggur” selama enam bulan sebelum bergabung dengan Los Rojiblancos pada paruh kedua musim 2017/18.

Raheem Sterling

Hingga saat ini, Sterling masih jadi musuh bagi publik Anfield. Ini tidak terlepas dari ulah winger timnas Inggris itu saat menuntut Liverpool FC menjualnya kepada City pada 2015. Sterling yang saat itu baru 20 tahun menolak mengikuti tur pramusim The Reds ke Asia dan Australia. Aksi ini membuahkan hasil karena kemudian dia dilepas ke Etihad Stadium pada 12 Juli 2015 dengan nilai transfer 50 juta paun.

Dimitri Payet

Playmaker 32 tahun ini pernah menjadi idola suporter West Ham United lantaran aksi impresifnya di klub itu pada musim 2015/16. Payet juga tampil gemilang bersama timnas Prancis di Piala Eropa 2016 sehingga dirinya jadi incaran sejumlah klub besar.

Sang pemain sendiri mulai tidak betah pada musim keduanya di Inggris dan meminta dijual kembali ke Olympique Marseille. Tapi, tuntutan itu ditolak sehingga Payet melancarkan aksi mogok. The Hammers pun menyerah sehingga akhirnya menjual pemain itu ke Marseille pada 2017.*RIJAL ALFURQON

loading...
I
Penulis
I Gede Ardy E
news
news