LIGA ITALIA
Inter Paling Royal Beri Komisi untuk Agen Pemain
20 July 2019 06:28 WIB
berita
Mino Raiola merupakan salah satu agen terkaya di dunia.-Topskor.id/istimewa-
TURIN - Musim panas menjadi musim panen komisi bagi para agen pemain. Salah satunya adalah Mino Raiola, yang baru saja meraup 10,5 juta euro (sekira Rp164 miliar) untuk jasanya membantu merampungkan transfer Matthijs De Ligt. Inilah yang membuat biaya perpindahan bek remaja tersebut dari Ajax membengkak jadi 85,5 juta euro: bagian 75 juta euro untuk kampiun Eredivisie dan 10,5 biaya ‘aksesoris’.

Mungkin Juve adalah satu-satunya klub Seri A yang masih mampu memberi bonus tinggi kepada manajer pemain. Seiring dengan banyaknya pemain berkualitas yang datang ke Continassa, mungkin akan membuat si Nyonya Besar mendapat cap royal kepada agen pesepak bola tahun ini.


Baca Juga :
- Uji Coba Terakhir Jelang Serie A Italia, AS Roma dan Juventus Menang, AC Milan Seri
- Dzeko Perpanjang Kontrak dengan Roma, Berpengaruh ke Inter, Napoli, Juventus, PSG




Predikat tersebut disandang FC Internazionale tahun lalu. Berdasarkan data Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) pada 2018, klub milik Suning menyisihkan 24,9 juta euro untuk komisi agen. Sementara Juve di belakang mereka dengan selisih 600 ribu euro, diikuti AS Roma 23 juta euro, AC Milan 16,7 juta euro, SSC Napoli 14,2 juta euro dan seterusnya. Secara keseluruhan klub di Seri A telah menggelontorkan 172 juta euro (meningkat 34 juta euro dari sebelumnya).

Sejatinya gaji tinggi para agen merupakan sebuah fenomena global, seperti yang didokumentasikan oleh laporan FIFA 'Intermediaries in International Transfers 2018' (Perantara dalam Transfer Internasional 2018). Dalam lima tahun terakhir, telah dikeluarkan dana hampir mencapai 2 miliar dolar (sekira Rp27,9 triliun) untuk komisi para manajer dalam transfer pemain. Terlihat lonjakan tajam dari 241 juta dolar ke 548 juta dolar dalam periode 2014-2018.


Baca Juga :
- Dybala Primadona
- Lazio Bidik Liga Champions


Ini hanya transfer internasional yang diawasi melalui Transfer Matching System (TMS ) yang menekankan klub untuk memberikan informasi yang berhubungan dengan penengah yang digunakan untuk operasi penjualan dan pembelian pemain dengan negara asing. Sebanyak 19,5 persen dari operasi ini, dimulai dari 2013, terjadi dengan dihadiri setidak-tidaknya seorang penengah.

Resminya, ada tiga pihak yang terlibat dalam negosiasi transfer pemain: pemain, klub pembeli dan (jika pemain masih berada di bawah kontrak) klub penjual. Masing-masing bisa memilih seorang atau lebih penengah. Siapapun bisa menjadi perantara negosiasi.

Secara tak sengaja terbentuk hierarki di kalangan agen. Yang paling tinggi adalah manajer super yang mampu mempengaruhi pilihan klub dan takdir karier seorang pemain, memiliki hak kepemilikan kepada diri sendiri atau yang biasa disebut Third Party Ownership. Tapi ini merupakan sistem yang sering kali menguntungkan klub, sebagai contohnya operasi ketika pemain lepas kontrak: beberapa bulan lebih awal mencapai kesepakatan dengan pemain yang akan lepas kontrak, menghemat harga 'kepemilikan' dan akan mendapat komisi.

Para agen ini juga bisa jadi dewa penolong saat situasi mendesak. Contohnya: klub yang harus menjual pemain karena alasan neraca atau tidak lagi menjadi bagian dalam rencana pelatih. Perantara ini bisa memanfaatkan relasinya untuk menemukan solusi terbaik.* Dari Berbagai Sumber

X
Penulis
Xaveria Yunita
news