INFOGRAFIS
INFOGRAFIS: Senegal Menggelegar
17 July 2019 09:21 WIB
berita
KAIRO - Pada 10 Februari 2002, tim nasional Senegal mengukir sejarah dengan tampil di final Piala Afrika untuk kali pertama di bawah pimpinan Aliou Cisse sebagai kapten. Kini, pria 43 tahun itu mengulang prestasi serupa sebagai pelatih. Dia berharap nasib The Lions of Teranga kali ini bakal lebih baik daripada 17 tahun silam.

Pada final Piala Afrika 2002, Senegal menelan kekalahan dari Kamerun lewat adu penalti setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit. Cisse jadi salah satu yang paling bertanggung jawab atas kekalahan itu. Tampil sebagai eksekutor terakhir The Lions of Teranga, dia berpeluang menyamakan skor jadi 3-3.


Baca Juga :
- Terungkap, Penyebab Mahrez Tidak Turun di Community Shield
- Usai Menjuarai Piala Afrika, Mahrez Rindu Leicester




Tapi, tendangannya melenceng sehingga The Indomitable Lions dipastikan menang 3-2 dan jadi juara. Kegagalan itu terus menghantui Cisse di sepanjang sisa kariernya sebagai pemain hingga gantung sepatu pada 2009. Tapi kini, mantan gelandang itu berpeluang menghapus mimpi buruk tersebut saat Senegal berhadapan dengan Aljazair pada final
Piala Afrika 2019 di Stadion Cairo International, Jumat (19/7) malam.

“Generasi saat ini lebih baik daripada saya pada 2002,” kata Cisse. “Para pemain pun telah menyampaikan kepada saya bahwa mereka akan melakukan yang lebih baik
daripada yang pernah kami buat di masa lalu dan mereka membuktikannya.”


Baca Juga :
- Ismael Bennacer, Pemain Terbaik Piala Afrika 2019
- Calon Gelandang AC Milan Jadi Pemain Terbaik Piala Afrika 2019


Benarkah Senegal di era Sadio Mane, Idrissa Gueye, dan Ismaila Sarr lebih baik daripada di era Cisse, El Hadji Diouf, dan Henri Camara? Jawabannya masih bisa diperdebatkan. Yang pasti, Mane dan kawan-kawan kini punya kesempatan untuk meraih apa yang gagal dicapai para pendahulu mereka yaitu memenangi Piala Afrika untuk kali pertama.

Sejak awal, Senegal memang telah diprediksi bakal lolos ke final Piala Afrika 2019. Tapi, perjalanan mereka menuju laga pemuncak tidak semulus ekspektasi sebelumnya. The Lions of Teranga bahkan sempat kalah 0-1 dari Aljazair di fase grup serta hanya menang tipis, 1-0, atas tim-tim di atas kertas jauh lebih lemah, Uganda di 16 besar dan Benin di perempat final.

Senegal juga sempat kesulitan menghadapi perlawanan sengit Tunisia pada laga semifinal, Minggu (13/7) lalu. The Lions of Teranga bahkan butuh gol bunuh diri bek tengah The Eagles of Carthage, Dylan Bronn, pada menit ke-100 untuk memastikan kemenangan.

Masalah Senegal lainnya adalah mereka belum sepenuhnya terlepas dari momok penalti. Pada Piala Afrika 2017 di Gabon, The Lions of Teranga lagi-lagi kalah lewat adu penalti dari Kamerun di perempat final. Ketika itu Mane bernasib seperti Cisse.

Sebagai eksekutor terakhir, dia gagal mencetak gol sehingga timnya tersingkir. Mane juga dua kali gagal mencetak gol dari titik penalti di Piala Afrika 2019, lawan Kenya pada laga terakhir di fase grup dan versus Uganda di 16 besar. Beruntung,  serangkaian kegagalan itu tidak berakibat fatal karena Senegal berhasil memenangi kedua pertandingan itu.

Tapi, kegagalan tersebut cukup untuk meruntuhkan kepercayaan diri Mane sehingga dia mundur sementara dari tugas sebagai eksekutor penalti utama Senegal. Tugas itu kemudian diambil alih oleh Henri Saivet saat The Lions of Teranga mendapatkan hadiah penalti pada menit ke-75 lawan Tunisia di semifinal.

Tapi, gelandang serang Newcastle United itu ternyata tidak lebih baik daripada Mane. Eksekusinya berhasil diblok kiper Tunisia, Mouez Hassen. Meski begitu, dewi fortuna lagi-lagi berpihak kepada Senegal karena kemudian mereka tetap jadi pemenang dan lolos ke final untuk kali kedua dalam sejarah.

Ini bukan buah pertama yang dipetik oleh Senegal di bawah asuhan Cisse. Sebelumnya, mantan pemain Paris Saint Germain (PSG) itu juga berhasil membawa The Lions of Teranga lolos ke Piala Dunia 2018. Ini hanya kali kedua negara itu lolos ke turnamen akbar tersebut setelah partipasi mereka pada 2002.

Jika Senegal bisa memuncaki performa impresif sepanjang setahun belakangan ini dengan gelar Piala Afrika 2019, itu bakal menyempurnakan reputasi negara itu sebagai salah satu pemasok pemain sepak bola terbesar di dunia. Dengan populasi hanya 15 juta jiwa, Senegal terbilang sangat produktif melahirkan pesepak bola.

Menurut laporan terkini CIES Football Observatory, ada 203 pemain sepak bola asal Senegal yang sekarang berkiprah di 147 liga di seluruh dunia. Angka ini menempatkan negara itu di peringkat ke-16 dalam daftar pengekspor pemain terbesar di dunia.***RIJAL ALFURQON DARI BERBAGAI SUMBER

T
Penulis
TSM
news