news
LIGA 2
Bermodal Rp 650 Juta,
16 July 2019 13:55 WIB
berita
Pelatih Persewar Waropen Carolino Ivakdalam/Foto: Noval Luthfianto
TIDAK sulit bagi Persewar Kabupaten Waropen untuk menarik hati masyarakat Kota Pasuruan, Jawa Timur. Sejak awal Mei 2019 tim asal Papua ini memang memutuskan berkandang di Stadion Untung Suropati, Kota Pasuruan, sekaligus jadi markas Batalyon Zipur 10 Gading Rej.

Prestasi mentereng mereka dalam lima laga hingga kini memuncaki klasemen Liga 2 2019 Wilayah Timur, benar-benar mencuri perhatian warga Pasuruan. “Apalah kami ini dibanding 22 tim Liga 2 lainnya, terutama Wilayah Timur. Modal kami pas-pasan hanya Rp 650 juta, mes apa adanya di barak militer,” kata Carolino Ivakdalam, pelatih Persewar, kepada TopSkor, Senin (15/7).




Baca Juga :
- Permain dan Ofisial Persiraja Diarak dan Disambut Hangat Warga Aceh
- Penantian Panjang Persita Tangerang dan Persik Kediri Akhirnya Tertuntaskan




“Julukan tim kami adalah Tuan Anak Kampoeng yang artinya tim yang sederhana. Hanya tim dari pesisir pantai mangrove atau hutan bakau di Kaputen Waropen, Papua,” ujar Carolino, merendah. Meski demikian, ia tetap mau berbagi soal rahasia sukses timnya menguasai klasemen sementara Wilayah Timur.

“Kami punya modal kuat ikatan batin sebagai satu keluarga untuk bermain sepak bola dengan satu tujuan, menuju prestasi membanggakan. Baru lima laga, masih jauh perjalalan kompetisi Liga 2 ini, masih harus kerja keras dan banyak berbenah,” Ino, sapaannya, menuturkan.


Baca Juga :
- Sriwijaya FC Belajar dari Dua Kekalahan melawan Persita Tangerang
- Laga Persik vs Persiraja bagaikan Final Kepagian


Setelah kehilangan tim kebanggaannya Persekap Kota Pasuruan yang kini justru terdampar di Liga 3 Jawa Timur, masyarakat Kota Pasuruan seakan mendapat gantinya. Mereka begitu bersahabat dengan Oktavianus Maniani dan kawan-kawan.

Meski memiliki julukan Mautiara Bakau atau Tuan Anak Kampoeng, publik Pasuruan lebih sreg memberi jukukan 'Warkop” atau Waropen Kota Pasuruan. Di bawah tangan dingin Ino, gelandang bertahan Persipura Jayapura 1993-1995 dan asistennya Elie Aiboy yang juga eks penyerang Mutiata Hitam, Persewar Waropen menjelma jadi kuda hitam.

“Okelah lima laga dengan hasil bagus dan kini di puncak klasemen. Kunci sukses ada dalam semangat kami semua. Bermain dengan hati demi kemuliaan berkah Tuhan. Hampir 90 persen pemain kami berasal dari Papua, ini sangat memudahkan kami para pengurus dan pelatih menyatukan visi dan misi tim,” Ino menuturkan.

Dukungan menurutnya tidak hanya dari masyarakat Waropen, melainkan juga Bupati Yeremias Bisaim. “Beliau sangat peduli dengan sepak bola, bahkan beliau turun langsung bersama tim saat latihan dan ikut bermain bersama di lapangan. Ini juga kunci penyemangat kami menuju prestasi,” ujar Ino, yang juga Kadispora Kabupaten Waropen, Papua itu.

Ditambahkannya, tim yang bermarkas di Kota Botawa, ibukota Kabupaten Waropen itu, memang sedang diperhatikan oleh Pemkab Waropen. Dalam hal ini Bupati Yermias untuk mengangkat kembali prestasi olahraga lewat sepak bola. Maklum, “Tanah Bakau Waropen” hanya berpenduduk 35 ribu jiwa.

“Tidak apa kami dijuluki tim Anak Kampoeng, tapi yang penting kami main tidak kampungan, kan? Kami tidak membebani target muluk ke pemain. Jalani saja semua laga seperti air mengalir dan nothing to lose saja. Antara kami pelatih dan ofisial dengan pemain ada kedekatan kekeluargaan di luar lapangan,” ucap Elie, menimpali.

Selama di Pasuruan, jika libur latihan atau pertandingan, agar tidak jenuh, menurut Elie Kevin Joshua Scheunemann dan kawan-kawan sering bernyanyi bersama. “Main kartu remi atau play station di mes, atau refreshing jalan-jalan ke Malang dan Surabaya. Itu yang kami sebut sebagai bagian dari tradisi,” Elie mengungkapkan.*Noval Luthfianto

loading...
news
Penulis
Kunta Bayu Waskita
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id
news
news