news
LIGA ITALIA
Keberuntungan Juve Dimulai dari Tembok Depan Kiper
13 July 2019 13:23 WIB
berita
Matthijs De Ligt berharap segera dipermanenkan Juventus.-Topskor.id/istimewa-
TURIN – Direktur Olahraga Juventus FC Fabio Paratici terlihat di Continassa, Jumat (12/7). Dia mengawasi jalannya latihan pasukan Maurizio Sarri. Dia menyimpan misteri tentang kelanjutan operasi mercato Matthijs De Ligt.

Beberapa petunjuk mengindikasikan bek Ajax itu optimistis menjadi bagian dari Juve. Namun, kesesuaian antara permintaan dan penawaran belum  tercapai. Butuh waktu untuk menutup selisih tujuh juta euro (sekira Rp110 miliar) dari nilai proposal si Nyonya Besar (67 juta euro). Kabarnya ada pertemuan lagi di Milan antara perwakilan kedua klub, selain kontak lewat telepon.




Baca Juga :
- Verona Membangun Bungker Kuat di Seri A
- Skuat Napoli Akhirnya Setuju Melakukan Pemusatan Latihan




Berbeda dengan tim lain yang mengeluarkan dana besar untuk memperbaiki serangan atau lini tengah, I Bianconeri memutuskan untuk berinvestasi sangat besar untuk pemain yang tidak harus mencetak gol. Bisa dimaklumi kalau menilik dari perjalanan 120 tahun Juve, di mana klub membangun keberuntungan dimulai dari tembok di depan kiper.

De Ligt diharapkan dapat mengukir sejarah seperti para ikon area pertahanan. Pada era ’60-an, Juve punya Ernesto Castano yang dibeli dari Triestina dan Sandro Salvadore digaet dari AC Milan. Keduanya menjuarai Piala Eropa 1968.


Baca Juga :
- Misi Membajak Donnarumma
- Milan Berencana Melepas Tiga Pemain untuk Mendanai Operasi Mercato Ibra


Tidak ada yang baru, selalu berfungsi seperti ini: ada difensore Juve yang juga melindungi tim nasional. Kemudian ada Francesco Morini, seorang stopper murni yang tidak kenal rasa takut. Dia  tiba untuk mengawal Johan Cruijff, pahlawan timnas Belanda. De Ligt siap mengikuti jejak pemain bertahan kelahiran 12 Agustus 1944 itu.

Calon bek tengah Juve ini memiliki semangat yang luar biasa, dengan permainan elegan seperti Gaetano Scirea. Di I Bianconeri masa lalu, ada banyak pemain yang bisa ditiru tekniknya oleh De Ligt. Ketika harus menarik kostum lawan, dia cukup mempelajari Claudio Gentile, bintang lini pertahanan yang menjadi tokoh utama di Piala Dunia 1982.

Dalam 25-30 tahun terakhir, para bek berbakat datang silih berganti. Beberapa diantara mereka berasal dari luar Italia. Dimulai dari kiper FC Internazionale Julio Cesar, yang mengenal kerja keras Juergen Kohler, pemain asal Jerman. Tapi di mata Presiden Juve Andrea Agnelli, Paolo Montero tetap yang terbaik, di samping Lilian Thuram, bek sentral termahal dalam sejarah kubu Madama sebelum De Ligt.

Namun, untuk menyamai prestasi para senior yang brilian itu, jalan remaja 19 tahun tersebut masih sangat jauh. Dia perlu mengenal baik tugasnya dalam bertahan, belajar dari sejarah Andrea Barzagli-Leonardo Bonucci-Giorgio Chiellini meski sekarang hanya akan berbagi lapangan dengan dua huruf terakhir dari trio BBC.

Sehubungan dengan prioritas tim Continassa itu membangun tim dari sektor belakang, rupanya sejalan dengan prinsip Sarri. Pelatih tersebut sangat memerhatikan organisasi di lini belakang dari pergerakan dalam fase membangun permainan dan terus menggunakan bola. Karena itu, selalu ada penguasaan bola dalam menu latihan timnya setiap hari.

Untuk memahami pola Sarri, perlu mendengar testimoni dari Mirko Valdifiori, mantan anak buahnya. “Di Empoli FC dan SSC Napoli, selama beberapa hari pertama, kami menggunakan metode yang sama. Pada pagi hari terkadang pelatih bekerja dengan dua grup yang terpisah: di satu sisi bek, gelandang dan penyerang di sisi lain,” bek SPAL itu menjelaskan.

Drone dibutuhkan untuk untuk mengontrol bagaimana lini pertahanan bergerak, kapan para bek harus pindah posisi, kapan waktunya melakukan pergerakan tertentu. Sarri merekam semua, kemudian memperlihatkan kepada tim di ruang pertemuan.*** Dari berbagai sumber

loading...
X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news