LIGA INTERNASIONAL
Pantai Gading Akan Rusak Rekor Aljazair
11 July 2019 13:05 WIB
berita
Penyerang Aljazair Riyad Mahrez mengepalkan tangan ke udara setelah mencetak gol ke gawang Guinea, Rabu (7/7).
SUEZ - Pantai Gading siap menghentikan rekor sempurna Aljazair di Piala Afrika. Kesempatan itu ada saat Les Elephants menghadapi The Desert Foxes pada laga perempat final di Stadion Suez, Kamis (11/7).  

Aljazair bukan hanya selalu menang dalam empat pertandingan yang sudah dijalani di Piala Afrika kali ini. Tidak hanya menang, The Desert Foxes pun tidak pernah kemasukan dalam keempat laga tersebut. Mereka pun menjadi tim ketiga yang menorehkan rekor sempurna ini dalam sejarah Piala Afrika setelah Kamerun pada 2002 dan Pantai Gading sendiri pada 2012.


Baca Juga :
- Daftar Juara Piala Afrika, Aljazair Akhiri Penantian 29 Tahun, Mesir Masih Terbanyak
- Aljazair Juara Piala Afrika 2019, Riyad Mahrez Kalahkan Sadio Mane




Sebaliknya Pantai Gading. Les Elephants mengalami kesulitan di fase grup dengan menelan kekalahan 0-1 dari Maroko. Tapi, mereka mulai menunjukkan kekuatan dalam dua laga terakhir dengan memukul Namibia 4-1 dan menekuk Mali 1-0 di 16 besar. Winger Wilfried Zaha jadi salah satu pemain kunci dengan mencetak masing-masing satu gol dalam kedua pertandingan itu.

Tapi, tugas yang dihadapi Pantai Gading malam nanti akan jauh lebih berat dibanding laga-laga sebelumnya. Dengan performa tidak terkalahkan dan tanpa kebobolan, Aljazair menjadi satu dari hanya segelintir tim favorit yang tersisa.


Baca Juga :
- Gol Kilat Bounejah Bawa Aljazair Juara Piala Afrika 2019
- Sebelum Koscielny, Pemain-Pemain Ini Juga Pernah Jadi Antagonis bagi Klubnya


Rekor belum pernah kemasukan ini juga menjadi motivasi tersendiri bagi Aljazair. Kamerun menjadi juara pada 2002 setelah mencetak rekor tersebut. Sedangkan Pantai Gading menjadi runner-up pada 2012.

Secara keseluruhan, Aljazair tidak kebobolan selama 360 menit di Piala Afrika 2019. Tapi, ini bukan clean sheet terpanjang yang pernah dibuat The Desert Foxes di turnamen ini. Mereka pernah mencatatkan rekor clean sheet selama 464 menit pada Piala Afrika 1984 di Pantai Gading.

Ketika itu, Aljazair tidak kebobolan dalam keempat laga pertama (tiga di fase grup dan satu di semifinal saat mereka kalah adu penalti dari Kamerun setelah bermain imbang 0-0 selama 120 menit). Rekor itu terhenti setelah gawang The Desert Foxes yang saat itu dikawal kiper Mehdi Cerbah, dibobol oleh penyerang Mesir, Magdi Abdelghani, dari titik penalti di menit ke-76 pada laga perebutan peringkat ketiga.

Aljajzair bukan hanya kokoh dalam bertahan, tapi tajam saat menyerang. Tim asuhan Djamel Belmadi ini telah mencetak sembilan gol dalam empat laga dengan Adam Ounas sebagai top scorer dengan tiga gol. Tapi, bintang utama The Desert Foxes adalah Riyad Mahrez yang jadi motor di lini tengah dan telah menyumbangkan dua gol.

Meski begitu, pelatih Pantai Gading, Ibrahim Kamara, mengingatkan para pemainnya untuk mewaspadai ancaman Aljazair sebagai sebuah tim bukan hanya Mahrez. “Aljazair tim hebat. Mereka bukan cuma Mahrez. Jika hanya Mahrez yang diandalkan, para pemain lain mungkin tinggal di ruang ganti. Kami akan menghadapi tim yang sulit ditaklukkan,” ujar Kamara.

Merujuk pada sejarah pertemuan kedua tim di Piala Afrika, Pantai Gading layak optimistis. Pasalnya, The Elephants mendominasi rekor head-to-head melawan Aljazair di turnamen ini dengan tiga kali menang, dua kali imbang, dan hanya dua kali kalah dalam delapan pertemuan. Terakhir, Pantai Gading mengalahkan The Desert Foxes 3-1 pada laga perempat final Piala Afrika 2015.

Tapi, Belmadi tidak mau terlalu memikirkan rekor tersebut. “Kami sudah berada di fase baru dan akan menemui banyak kesulitan. Jadi, kami harus waspada,” katanya. “Para pemain sudah bertekad untuk mengerahkan segalanya untuk membuat rakyat Aljazair bahagia. Kami harus memberikan reaksi bagus jika kebobolan, sebuah skenario yang hingga saat ini belum pernah kami alami di turnamen ini.”*RIJAL ALFURQON DARI BERBAGAI SUMBER

 

T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho
news