UMUM
PB PASI Belum Lihat Jalan Keluar soal Stadion Madya
10 July 2019 15:00 WIB
berita
Sejumlah atlet pelatnas atletik terlihat sedang beristirahat di sela-sela latihan di Stadion Madya, Jakarta.
JAKARTA - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mencoba menengahi masalah terganggunya pusat pelatihan nasional (pelatnas) atletik akibat berkandangnya tim Liga 1, Bhayangkara FC, di Stadion Madya. Dalam pertemuan yang difasilitasi Sekretaris Kemenpora Gatot Sulistyantoro Dewa Broto, Selasa (9/7) lalu, pihak Bhayangkara FC mengklarifikasi kalau Madya bukan homebase mereka.

Tim hukum Bhayangkara Susilo Edi mengatakan, laga-laga kandang Bhayangkara selama Stadion PTIK direnovasi adalah Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi. Namun, jika Patriot digunakan untuk kegiatan lain, barulah Bhayangkara menyewa Madya. Juara Liga 1 2017 ini juga memastikan tidak berlatih di Madya sehingga PB PASI leluasa berlatih di sana.




Baca Juga :
- Ini Alasan Gowes Nusantara Digelar di Tepi Danau Raja
- Peserta Gowes Pringsewu Diganjar Doorprize Sapi dan Kambing Hamil




“Sekarang ini ada anggapan Bhayangkara menjadikan Madya sebagai kandang. Padahal tidak. Bahkan ke depan, untuk menggunakan Madya, kami tentu akan berkomunikasi dengan Pengurus Pusat Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI),” ucap Edi.  

Namun begitu, Sekjen PB PASI Tigor Tandjung mengatakan, pertemuan kemarin tetap belum menghasilkan solusi nyata. Sebab, saat Bhayangkara bermain, Lalu Muhammad Zohri dan kawan-kawan harus mengungsi ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).


Baca Juga :
- Raden Isnanta Sebut Pembukaan Gala Desa di Bangka Tengah Spektakuler
- Update Klasemen Liga 1 2019, Sabtu Malam


SUGBK memang tidak jauh dari Madya. Namun, menurut Tigor, tetap saja barang-barang yang dibawa saat berlatih di venue berkapasitas 80.000-an penonton itu cukup banyak. Ia khawatir mood atlet terganggu karena harus pindah-pindah tempat latihan.

“Saya mengapresiasi Bapak Sesmenpora yang telah menginisiasi pertemuan ini. Di sini kami bisa menyampaikan fakta-fakta yang ada di lapangan. Namun untuk solusi nyata saya rasa belum,” kata Tigor.

Kendati begitu, Tigor menyatakan, dalam hal ini tidak ada yang salah. Sebab, Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno (PPK-GBK) berhak menyewakan Stadion Madya ke pihak lain. Memiliki status Badan Layanan Umum (BLU), PPK-GBK memang berfungsi meraup pemasukan negara dari sektor non-pajak.

Selain itu, meski mendapat fasilitas latihan gratis, PB PASI sebenarnya hanya boleh menyertakan atlet yang didanai anggara pemerintah pada pelatnas di Stadion Madya. Karena alasan pembinaan, saat ini, banyak atlet junior dan remaja yang dilatih di sana.

Menurut Tigor, pemerintah memberi saran agar daftar atlet muda yang ada di Stadion Madya dilaporkan ke Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Sebab jika tidak, hal itu berpotensi menjadi temuan.

Sedangkan, Gatot mengatakan, polemik Stadion Madya ini hanya masalah komunikasi saja. Untuk itu, ia berharap, PB PASI dan kubu Bhayangkara terus melakukan kontak. Itu agar kesalahpahaman yang terjadi akhir-akhir ini tak lagi terjadi.

Direktur PPK-GBK Winarto menyatakan pelatnas tetap menjadi prioritas. Sebab, ini menyangkut kepentingan negara di berbagai ajang besar. Untuk itu, selain digratiskan, kegiatan pelatnas di GBK tidak boleh terganggu dengan hal apa pun.*KRISNA C. DHANESWARA    

T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho