ONE CHAMPIONSHIP
Kemenangan di Malaysia, Petarung Indonesia Ini Ingin Angkat Ekonomi Keluarga
09 July 2019 16:32 WIB
berita
Abro Fernandes, kemenangan di Malaysia lebih dari sekadar misi pribadi
JAKARTA - Kemenangan atas bintang India Gurdarshan “Saint Lion” Mangat pada ajang ONE: MASTERS OF DESTINY akan menasbihkan Abro “The Black Komodo” Fernandes sebagai pesaing kuat di kelas flyweight.

Dalam ajang yang diadakan di Axiata Arena di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (12/7) nanti, kemenangan ini akan mempertajam rekornya menjadi delapan kemenangan dari sembilan laga mixed martial arts (MMA) profesional yang ia jalani.


Baca Juga :
- Saya Ingin Jadi Juara Antargender 1! Petarung Pria Ini Tantang Juara Kelas Terbang Wanita
- Brutal! Pertarungan Perry dan Paiva Paling Mengerikan, Hidung Patah Jadi Huruf Z




Tetapi, jika menang, hal ini akan menjadi lebih dari sekadar angka bagi Abro, yang merupakan tulang punggung keluarga dengan jumlah anggota tak kurang dari 13 orang. Catatan kemenangan ini akan mendekatkan dirinya untuk meraih mimpinya menjadi juara dunia. Abro bertekad mempersembahkan gelar ini demi mengangkat derajat dan ekonomi keluarganya.

Atlet berusia 29 tahun ini merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara. Orang tua Abro merupakan pasangan sederhana yang menggantungkan hidup dari bertani di Luro, Timor Leste. Saat ini, sebagai suami dan ayah dari seorang putri, Abro juga menjadi tumpuan keluarga kecilnya.


Baca Juga :
- ONE Championship Siap Selenggarakan Turnamen eSports, Ini Gim yang Dipertandingkan!
- Daria Nirkova, Petarung Wanita Cantik MMA Siberia Tanpa Darah


Sebagai anak tertua, Abro ingin memberi akses pendidikan yang luas bagi adik-adiknya dan sebagai bentuk rasa terimakasih pada orang tua yang telah banyak berkorban demi perjalanan kariernya. “Kami merupakan keluarga sederhana. Orang tua saya adalah petani beras dan jagung,” ujarnya.

“Penghasilan orang tua hanya cukup untuk [kehidupan] sehari-sehari, karena kami di kampung tidak banyak kebutuhan, maka segala sesuatunya dicukupkan.”

Abro kecil sudah menggemari bela diri, dimana ia terinspirasi oleh idolanya Bruce Lee. Ia mulai belajar silat dan kempo saat ia berusia 10 tahun, dan bertanding dalam sebuah turnamen di Dili, Timor Leste.

Abro juga getol mempelajari tinju dan gulat, yang ternyata menjadi modal kuat ketika ia mulai bertransisi menjadi atlet MMA. Demi memperdalam ilmu bela dirinya, Abro merantau dari kampung halaman menuju Solo di Jawa Tengah pada tahun 2011.

“Sebelumnya [warga Timor Leste] tahunya tinju saja. Atlet MMA belum ada. Jadi saya pergi ke Solo berlatih MMA,” tutur Abro.

Abro selalu teringat akan pengorbanan yang diberikan orang tuanya. Ia pun berharap suatu saat dapat membayarnya. Hal ini menjadi motivasi Abro dalam mengejar mimpinya.

Di Solo, Abro melanjutkan pendidikan dengan mendaftar di Universitas Tunas Pembangunan dan mengambil jurusan olah raga. Disinilah Abro pertama kali bertemu dengan Yohan “The Ice Man” Mulia Legowo, atlet MMA veteran asal Indonesia yang kini menjadi pelatih serta mentornya.

Pertemuan keduanya menjadi awal perjalanan Abro menjadi atlet MMA, sampai ia mampu unjuk gigi di ajang kelas dunia ONE Championship.

Di Han Academy pula Abro menemui tambatan hatinya, yang juga merupakan seorang praktisi bela diri. Ia mengawali karier dengan mulus di dunia MMA tanah air, dia menjadi juara kelas bantam nasional di turnamen lokal.

Saat itulah mimpi Abro untuk meningkatkan derajat keluarga mulai menjadi nyata. “Saya ingin membantu ekonomi keluarga dan membuka jalan bagi adik-adik saya untuk sekolah dan menjalankan bisnis,” ungkap Abro.*

news
Penulis
Suryansyah
news