LIGA INTERNASIONAL
Inggris sampai Semifinal, Neville Tetap Dinilai Gagal
05 July 2019 07:58 WIB
berita
Pelatih timnas putri Inggris Phil Neville dinilai salah menerapkan strategi melawan Amerika Seriat sehingga tersingkir di semifinal Piala Dunia Wanita.
LYON - Kekalahan 1-2 tim nasional putri Inggris dari Amerika Serikat pada semifinal Piala Dunia Wanita 2019 di Parc Olympique Lyonnais, Selasa (2/7), telah banyak diprediksi sebelumnya. Maklum, yang dihadapi Lionesses adalah juara bertahan sekaligus tim favorit pada turnamen di Prancis ini.

Meski begitu, pelatih Phil Neville tetap menuai kritik lantaran dinilai telah melakukan kesalahan dalam menerapkan strategi. Komentar negatif ini tak terhindarkan mengingat Inggris kalah dengan skor tipis dan mereka gagal memanfaatkan peluang menyamakan skor di menit-menit akhir saat eksekusi penalti Steph Houghton diblok kiper Alyssa Naeher.


Baca Juga :
- Barcelona Rekrut Bocah Ajaib dari Timnas U-16 Inggris
- Tidak Hanya Makin Cantik, Bando Pink Alex Morgan Punya Arti Mulia




Pernyataan soal kesalahan strategi Neville dilontarkan oleh mantan striker timnas putri Inggris, Eni Aluko. Perempuan 32 tahun yang mencetak 33 gol dalam 32 laga bersama Lionesses dan tampil di tiga edisi Piala Dunia Wanita ini menyebut mantan gelandang Manchester United itu gagal memaksimalkan kepiawaian Nikita Parris dan Beth Mead sebagai penyerang.  

“Semua ini dimulai dengan pernyataan Neville jelang pertandingan soal mata-mata di hotel dan peluang Lucy Bronze memenangi Ballon d’Or. Saya merasa pernyataan ini memecah konsentrasi tim,” tulis Aluko dalam kolomnya di harian The Guardian. “Mungkin, dia terlalu menikmati sorotan media.”


Baca Juga :
- Juara Dunia, Timnas Putri AS Menuntut Kesetaraan Bayaran
- Karena Perebutan Peringkat Ketiga Hanya Pertandingan Omong Kosong Bagi Inggris


Aluko yang kini memperkuat klub Italia, Juventus FC Women, kemudian membahas perombakan taktik Neville yang disebutnya gagal total. Pasalnya, pelatih 42 tahun ini memasang Parris di belakang Ellen White sebagai ujung tombak sementara Mead ditempatkan di tengah lapangan berduet dengan Jill Scott dalam formasi 4-4-1-1.

“Saya tidak tahu apa yang memotivasi Neville untuk membuat perombakan terhadap skema dan komposisi pemain. Tapi, sebagai pemain saya merasa jengkel,” kata Aluko. “Saya tidak mengerti kenapa pemain seperti Parris dipasang di posisi yang tidak familiar sehingga dia harus berpikir lebih dulu sebelum bertindak, bukan di posisi biasanya di mana segalanya terjadi secara alami.”

Aluko menyebut Parris sebagai salah satu penyerang terbaik yang dimiliki Inggris dan dia tampil luar biasa di sayap kanan lawan Norwegia di perempat final. Menurutnya, Lionesses telah bermain impresif dengan skema 4-3-3. Karenanya, keputusan Neville mengubahnya menjadi 4-4-1-1 lawan AS sangat tidak beralasan.

“Sejauh yang saya tahu Parris tidak pernah bermain sebagai ‘Nomor 10’ hingga Neville menempatkannya di posisi itu lawan AS di Lyon,” ujar Aluko. “Parris pemain yang luar biasa dan berpengaruh, tapi dia jarang menyentuh bola di babak pertama. Beth Mead juga terlalu ke belakang. Dengan skema asing menghadapi lawan yang agresif, para penyerang Inggris, kecuali Ellen White, jadi tidak efektif lantaran kurang ke depan.”

Aluko menduga, Neville terlalu banyak bereksperimen soal formasi yang membuat permainan Inggris jadi tidak seimbang. “Di babak kedua, dia kembali menerapkan skema 4-3-3. Ini membuat saya heran. Jika tahu skema ini akan kembali dipakai saat dalam kesulitan, kenapa tidak sekalian saja memakainya sejak awal pertandingan?” ujar Aluko.*RIJAL ALFURQON DARI BERBAGAI SUMBER

 

T
Penulis
Tri Cahyo Nugroho
news