news
LIGA ITALIA
Emansipasi Timnas Putri Italia, Cinderella Menuntut Kesetaraan
01 July 2019 12:59 WIB
berita
Tim nasional Italia putri berharap perbaikan kesejahteraan.-Topskor.id/istimewa-.
IMPIAN Cinderella pupus di Stade du Hainaut. Italia tersingkir di perempat final Piala Dunia Wanita 2019, menyusul kekalahan 0-2 dari Belanda. Tangisan, emosi dan rasa bangga serta merta tertumpah di lapangan.

Tak ada yang menyangka Le Azzurre bisa melaju hingga perempat final. Alih-alih didukung lantaran sukses menembus babak utama setelah absen dua dekade, mereka malah dicibir dan dipandang sebelah mata. Kini skuat asuhan Milena Bertolini berhasil membuktikan mampu mengukir prestasi yang mengesankan. “Tidak ada yang percaya kepada kami. Orang-orang bahkan menyebut kami Cinderella, tapi kami berhasil sampai di sini,” ujar Alia Guagni.




Baca Juga :
- Italia 75 Persen Lolos ke Knockout Piala Eropa 2020
- Dicabik-cabik Italia, Pelatih Armenia Siap Mundur




Misi pertama meningkatkan animo publik terhadap sepak bola putri berhasil. Terbukti dari kenaikan penonton pertandingan di televisi. Berdasarkan catatan Rai1 dan Sky Sport, saat duel Italia versus Belanda, tercatat rekor baru, yakni 6 juta 109 ribu pemirsa, dengan share mencapai 44,35 persen. Jumlahnya dua kali lipat dibanding ketika Le Azzurre bersua Cina di fase 16 besar.

Kendati demikian, mereka belum puas. Tim putri menuntut agar FIGC memberi perhatian sama seperti yang didapat timnas putra. Sebab selama ini, mereka belum dianggap atlet profesional.


Baca Juga :
- Gli Azzurri Bersama Venezia
- Italia Lolos ke Perempat Final Piala Dunia U-17 2019


“Sekarang para pemain sadar dengan kualitasnya, tidak ada satu pun dari mereka yang pernah bermain di Piala Dunia. Bagaimanapun ini baru sebuah awal dan kami telah meletakkan fondasi untuk masa depan. Saya harap ada perubahan regulasi yang membuat pesepak bola putri profesional di Italia. Mereka harus punya kesempatan yang sama seperti koleganya di luar negeri. Saya melihat perbedaan besar ketika kami masuk ke delapan grup terbaik di dunia,” Bartolini menandaskan.

Disparitas gaji sangat jelas antara pesepak bola putri dan putra. Seorang pemain top wanita, seperti ikon Juventus FC, Sara Gama maksimal meraup 30.658 euro (sekira Rp493,2 juta) kotor per tahun. Tak sedikit yang mendapat penggantian biaya 61 euro untuk periode hari terbatas. Mereka tidak dilindungi kontrak karena hanya teken dokumen perjanjian berbasis ekonomi yang berlaku maksimal tiga tahun. Bandingkan dengan perlakuan yang diterima Cristiano Ronaldo, yang mengantongi gaji 30 juta euro dan menggenggam kontrak empat tahun.

“Para pemain pria mendatangkan uang, kami tidak, ini faktanya, tidak ada yang mengklaim kesetaraan kompensasi,” mantan pelatih Le Azzurre periode 2000-2005, Caroline Morace, mengungkapkan. “Harus ada perubahan aturan tertenti, kalau tidak, kami tidak akan pernah berkembang. Dengan sistem sekarang, sulit menarik pesepak bola putri brilian ke Italia dan tanpa integrasi kami tidak pernah berkembang. Karier pemain tidak lama, dengan gaji 2.500 euro per bulan, lalu mereka gantung sepatu di usia 35-36 tahun, tanpa uang pensiun dan tidak ada apa-apa, mereka mau melakukan apa?”

Perbedaan perlakuan bukan hanya pada gaji. Stok Kostum dan sepatu minimal lebih sedikit dari pemain putra. Ini terkait dengan sponsor. Perjuangan para pesepak bola putri tersebut menuju kesetaraan masih sangat panjang.* Dari Berbagai Sumber

loading...
X
Penulis
Xaveria Yunita
news
news