INFOGRAFIS
INFOGRAFIS: Sudah 26 Tahun Argentina Menunggu
11 June 2019 12:03 WIB
berita
Lionel Messi - TopSkor/Istimewa
SALVADOR – A terrivel maldicao da Argentina, kutukan yang mengerikan bagi Argentina. Lionel Messi akan memimpin rekan setimnya menghadapi tantangan di Brasil, mengakhiri perjalanan panjang tanpa gelar yang telah berlangsung selama 26 tahun, sejak kali terakhir Albiceleste—julukan timnas Argentina—meraih trofi ini pada 1993, di Ekuador. Setelah itu, Argentina tidak pernah lagi meraih gelar apapun. Bahkan, ditandai dengan kegagalan yang menyakitkan seperti takluk dari Cile dalam dua Piala Amerika terakhir secara beruntun (2015 dan 2016).

Bahkan, ini bukan hanya soal Piala Amerika melainkan deretan kegagalan dalam tahun yang berdekatan. Kalah di final Piala Konfederasi 2005, Piala Amerika 2004 dan 2007, serta tentu kekalahan dalam final Piala Dunia 2014 di Brasil. Dari semua final tersebut, empat yang terakhir bersama La Pulga. Ya, Messi menjadi saksi dari serangkaian kegagalan Tim Tango. Deretan kegagalan itu pula yang mengiringi perkembangan Messi, dari usia 18 tahun saat berdebut dengan timnas pada 2005 hingga kemudian menjelma menjadi bintang besar.


Baca Juga :
- Argentina Jungkalkan Prediksi Piala Dunia Basket
- Messi Dilarang Tampil Tiga Bulan Gegara Bilang Copa America Korup




Hampir semua gelar telah diraih di tingkat klub, tapi tidak satu pun di timnas senior. Kini, saatnya bagi kapten timnas Argentina ini untuk mengakhiri kutukan negerinya yang tanpa gelar selama 26 tahun tersebut. Dalam laga terakhir uji coba sebagai persiapan menghadapi Piala Amerika 2019 ini, Messi memperlihatkan dia masih sebagai pemain yang haus gelar. “Memenangkan gelar, setidaknya satu” demikian pernyataan salah satu pers Argentina, Clarin, terkait tantangan pasukan Lionel Scaloni ini di Brasil.

“Kami percaya diri terkait apa yang dapat kami perlihatkan dalam Piala Amerika ini,” kata Scaloni, setelah kemenangan 5-1 atas Nicaragua, Jumat (7/6) lalu itu. Pelatih 41 tahun tersebut menilai timnya dari sisi permainan yang ditampilkan pasukannya saat menggulung Nicaragua. Meski kemenangan tersebut diraih dengan cara yang mudah, menurut Scaloni, adaptasi pemain dengan strategi dan permainan yang biasa mereka perlihatkan berjalan dengan baik.


Baca Juga :
- Lukaku Bakal Bergabung jika Dybala Setuju ke MU
- De Rossi Berpeluang Debut dengan Boca Hari Ini


“Yang terpenting adalah pemain sudah memahami idenya pada pertandingan ini dan mereka tahu babhwa kami adalah sebuah tim,” kata Scaloni lagi menambahkan. Bermain sebagai tim, menjadi penekanan yang diinginkan dari Scaloni. Terkait strategi atau cara bermain, laga lawan Nicaragua memperlihatkan permainan bola-bola umpan pendek antarpemain. "Sulit untuk memulainya tapi pemain berhasil melakukannya. Skema permainan ini sudah lama kami coba terapkan dan akhirnya semua tampak mengerti,” kata Scaloni lagi.

Dengan pemain berkarakter menyerang yang dimiliki, Scaloni yakin bahwa mereka dapat selalu beradapatasi. “Kami punya pemain hebat dan kami percaya bisa meraih hasil yang bagus,” dia menegaskan. Scaloni pun memahami ekspektasi publik sepak bola Argentina yang ingin menyudahi penantian panjang tanpa gelar. “Argentina telah mencapai final, khususnya dalam dua Piala Amerika terakhir, dan itu sebuah tanda yang bagus,” katanya.

Tapi, keinginan tanpa metoda atau strategi yang tepat akan sulit untuk terwujud. Karena itulah, tampaknya, Scaloni telah mempersiapkan rencana tertentu. Baginya, Argentina sebuah tim yang mendapatkan keberuntungan karena memiliki Messi. Faktor inilah yang akan tetap dimaksimalkan. Di antaranya dengan menempatkan pemain berkarakter tertentu yang bisa mengimbangi permainan sang kapten mereka.

Messi-Lo Celso
Menghadapi Nicaragua, sosok Giovani Lo Celso, salah satu pertanda bahwa pemain Real Betis ini akan banyak berperan bermain di lini depan dengan Messi. Dalam laga tersebut, Scaloni menerapkan skema 4-2-3-1. Matias Suarez, Messi, dan Lo Celco sebagai tiga pemain yang berada di belakang Sergio Aguero sebagai penyerang tunggal. Kerja sama Messi dan Lo Celso sudah terlihat ketika Messi menorehkan gol pembuka ke gawang Nicaragua dengan memanfaatkan assist Lo Celso.

Gelandang 23 tahun ini tipikal pemain yang mengerti bagaimana menemukan posisi Messi dan memberikan umpan yang mudah baginya. Lo Celso boleh dibilang karakter baru dalam tim Argentina yang sebelumnya tidak memiliki pemain dengan tipikal “generator” di lini tengah. Sebelumnya, lini tengah Argentina lebih banyak memiliki pemain dengan tipikal yang kuat dan agresif namun minim talenta.

Sebagai perbandingan,  Lo Celso seperti Andres Iniesta dan Xavi Hernandez di timnas Spanyol. Toni Kroos di timnas Jerman, dan Paul Pogba di timnas Prancis. Atau di Belgia ada Kevin De Bruyne dan Kroasia memiliki Luka Modric. Di Argentina, sulit menemukan pemain seperti itu. Karena itu, kehadiran Lo Celso menjadi bagian terbaru dari kekuatan Argentina dalam Piala Amerika 2019 ini. Tapi, koneksi Messi-Lo Celso kemungkinan akan diuji dalam laga pertama, saat lawan Kolombia, dalam penyisihan Grup B, akhir pekan ini.*Irfan Sudrajat
 

n
Penulis
nana sumarna
news