INFOGRAFIS
INFOGRAFIS: Rahasia Rafael Nadal Juara Prancis Terbuka 12 Kali
11 Juni 2019 07:00 WIB
berita
Rafael Nadal
PARIS – Rafael Nadal mencatat prestasi gemilang dengan memenangi Grand Slam Prancis Terbuka untuk kali ke-12. Keberhasilan menaklukkan Dominic Thiem, 6-3, 5-7, 6-1, dan 6-1 di Lapangan Philippe Chatrier, Stade Roland Garros, Paris, Minggu (9/6), kian menegaskan statusnya sebagai Raja Tanah Liat atau King of Clay.

Semuanya rasanya sepakat, sangat sulit menundukkan Nadal di lapangan tanah liat.  Legenda tenis asal Inggris, Greg Rusedski, bahkan menyebut pencapaiannya itu akan jadi perbincangan dalam kurun waktu lama. Mampu meraih 12 gelar dalam satu ajang grand slam bakal sulit dipecahkan.


Baca Juga :
- INFOGRAFIS: Michel Platini Masuk Bui
- INFOGRAFIS: Tantangan Baru Buat Sarri




“Kebanyakan pemain tidak bisa melakukan itu (memenangi 12 titel dalam satu grand slam). Tapi, Rafa mampu menorehkannya di Roland Garros dan 200 tahun dari sekarang, orang-orang masih akan berbicara tentangnya dengan prestasinya tersebut,” kata Rusedski usai pertandingan.

Apa yang dikemukakan Rusedski bukan tanpa alasan karena Nadal memang berstatus petenis tersukses dalam satu turnamen grand slam. Dengan total 12 Coupe des Mousquetaires, sebutan untuk trofi Prancis Terbuka, yang sudah ia koleksi, belum ada yang mampu menandingi Nadal.


Baca Juga :
- INFOGRAFIS: Preview Persebaya Vs Madura United
- INFOGRAFIS: Yamaha Terdepan dalam Tes MotoGP di Katalunya


Petenis lain yang mendekati pencapaian itu adalah Roger Federer yang mengumpulkan delapan titel di Wimbledon. Nadal pun tak kuasa menahan air mata saat melambaikan tangan ke arah penonton di Phillipe Chatrier, usai mengalahkan Thiem yang juga digadang sebagai penerusnya itu. 

Dalam kesempatan sama, petenis asal Spanyol itu mengatakan tak terobsesi mengejar rekor Federer sebagai petenis putra dengan gelar grand slam terbanyak. Secara keseluruhan, Nadal telah mengoleksi 18 titel atau terpaut dua dari sang rival. Namun, itu bukan hal mustahil untuk Nadal.

Terlebih jika merujuk pada penampilan Federer yang mengalami penurunan. Tapi, Nadal menegaskan jika itu hanya motivasi dan bukan obsesi. “Perilaku dan antusias yang tepat adalah satu-satunya cara untuk saya bisa kembali (tampil prima). Itulah yang membawa saya ke posisi saat ini,” ujarnya.

Namun, petenis 33 tahun tersebut tak ingin terbawa euforia dan memilih fokus menatap Wimbledon, turnamen grand slam berikutnya. Demi tampil prima di All England Lawn Tennis and Croquet Club, London, 1-14 Juli, Nadal pun memilih absen di semua turnamen lapangan rumput.

Keputusan serupa juga diambil Nadal dalam dua musim terakhir. Sayang, hasilnya kurang menggembirakan karena pada Wimbledon 2017, dirinya hanya bertahan hingga babak keempat. Tahun lalu, Nadal terhenti di semifinal usai kalah dari Novak Djokovic, 4-6, 6-3, 6-7(11), 6-3, dan 8-10.

Meski demikian, Nadal optimistis hasil tahun ini akan berbeda. “Saya merasa kompetitif dalam beberapa tahun terakhir. Jadi, mengapa saya harus mengubahnya? Kesempatan (menang) akan lebih besar jika saya dalam kondisi bugar daripada bermain banyak di pertandingan sebelumnya,” ujarnya.

Berkaca dari statistik, prestasi Nadal di Wimbledon memang tidak lebih baik daripada Prancis Terbuka. Sejak debut dalam ajang ini, 2011 lalu, ia baru mengantongi dua gelar, masing-masing 2008 dan 2010 silam. Untuk yang terakhir, Nadal mengalahkan Tomas Berdych dengan skor 6-3, 7-5, 6-4 .

Nadal sudah lama mengalami paceklik di Wimbledon. Namun, sejumlah pengamat menilai, hasil dalam dua musim terakhir menunjukkan bahwa kekasih Xisca Perello itu sudah mampu beradaptasi dengan lapangan rumput. Utamanya setelah absen akibat usus buntu akut dan cedera lutut.

“Saya bermain hebat dan sangat dekat dengan gelar (Wimbledon), tahun lalu. Saya memang suka bermain di lapangan rumput tapi semua orang tahu, saya tak bisa main berturut-turut seperti 10 atau delapan tahun lalu. Jadi, saya harus benar-benar memperhatikan jadwal,” kata Nadal.*MUHAMMAD RAMDAN

L
Penulis
Lily Indriyani Sukmawati
news