TOP FEATURE FOOTBALL
Parris Terinspirasi untuk Bermimpi Besar dari Sterling
10 June 2019 12:23 WIB
berita
Nikita Parris (Timnas Wanita Inggris)/Istimewa
MEREKA dulu hanyalah dua anak yang saling menatap saat makan malam di pinggiran Liverpool, bertanya-tanya apakah impiannya akan terwujud. Kini, Nikita Parris duduk di meja teratas sepak bola Inggris, bersama sahabatnya yang juga bintang Manchester City FC, Raheem Sterling.

Sepekan lalu, ia merayakan caps ke-50 sebagai kapten timnas Inggris dalam semifinal Liga Negara-negara Eropa (LNE). Selang dua hari, giliran Parris pergi ke Prancis, berharap bisa membuat perbedaan untuk The Lionesses – julukan timnas wanita Inggris - di Piala Dunia Wanita 2019. Mereka satu grup bersama Skotlandia, Argentina, dan Jepang.


Baca Juga :
- Liga Primer Dituntut Lebih Tegas Memberantas Rasialisme
- Kontroversi Masih Menjadi Bumbu Penerapan VAR




Persahabatan di antara Parris dan Sterling mulai saat saudara lelaki Parris mengundang temannya, Sterling, untuk makan malam, dan sejak itu ikatan pun terbentuk. Dan, tali pertemanan mereka semakin kuat bulan lalu saat dua bintang Inggris itu memenangi penghargaan Pemain Terbaik Tahun 2018 dari Asosiasi Wartawan Sepak Bola Inggris.

Kali ini, Parris, seperti halnya Sterling 12 bulan lalu di Rusia, membawa harapan Inggris di pundaknya. “Kami sudah berteman bertahun-tahun, sejak Raheem di akademi Liverpool. Kami memiliki usia yang sama!” ujar Parris. “Raheem itu teladan yang hebat. Orang-orang melihatnya setiap hari dan dia mau tidak mau harus menghadapinya. Untuk saya, pada akhirnya, saya berada di lingkungan itu juga.”


Baca Juga :
- Prioritas Man. City Masih Liga Primer
- Van Dijk Calon Kuat Pemain Terbaik FIFA


Parris yang mengaku seorang Liverpudlian itu baru saja bertukar kaus Man. City dengan Olympique Lyon – juara Liga Champions – dan bintangnya sendiri sedang naik daun. Kecepatan dan kecakapan striker kelahiran Toxteth, Liverpool, 10 Maret 1994, di depan gawang menjadikannya ujung tombak yang sangat diandalkan pelatih Phil Neville.

Setelah nyaris gagal masuk seleksi Piala Dunia di Kanada empat tahun lalu, Parris ingin menebus waktunya yang hilang itu. Adalah mantan pelatih Mark Sampson yang membawanya ke tim sebagai pemain latih tanding, 10 hari sebelum Piala Dunia. Meski begitu Parris ingin memastikan semua pemain yang pergi, dalam kondisi siap tanding.

Alih-alih berangkat ke Kanada, Parris melarikan diri ke Mesir bersama keluarganya dan menonton turnamen itu di sana. “Saya dapat mengingat persis di mana kami menontonnya,” katanya, “Karena perbedaan zona waktu, kick off baru mulai pukul 1.30 pagi. Ibu saya yang akan membangunkan saya setengah jam sebalum permainan."

Parris, 25, menjalani musim terbaiknya – sebelum pindah ke Lyon – dengan mengoleksi 19 gol di Liga Super Wanita. Raihan itu yang membuka peluangnya sebagai striker utama Lionesses. Meski begitu, pencetak gol kemenangan Inggris atas Amerika Serikat di final She Believes Cup itu menyadari dirinya masih perlu lebih banyak mengasah diri.

“Kami memiliki harapan terhadap diri kami sendiri. Gadis-gadis di 2009 memenangkan perak, kini saatnya untuk emas. Dan, kami tidak berada di bawah ilusi tentang betapa sulitnya hal itu terjadi. Kami telah bekerja keras. Perjalanan kami tidak mudah tapi kami telah membuktikan diri di SheBelieves Cup. Kami siap bersaing menjadi juara.”*NURUL IKA HIDAYATI

I
Penulis
I Gede Ardy E
news