TOP OPINI FOOTBALL
Pertapaan Guardiola dan Stadion Manahan
10 Februari 2018 04:21 WIB
berita
Advent Tambun

MANAHAN jadi stadion yang kecil bila dibandingkan dengan Camp Nou. Stadion yang menjadi simbol kemegahan FC Barcelona terlalu besar sehingga ketika menonton di dalamnya kita harus duduk sangat dekat dengan lapangan agar bisa melihat wajah pemain. Jika tidak, maka kita butuh teropong kecil untuk memastikan apakah angka 7 atau angka 1 yang ada di punggung pemain tertentu. Manahan tak terbandingkan dan tak perlu membandingkan dirinya.
 
Tapi, tetap saja Manahan memiliki magis ketika bisa duduk di bangku utama stadionnya Wong Solo ini. Memberikan salam kepada tokoh aktual persepakbolaan nasional adalah sebuah kegembiraan tersendiri. Apalagi bisa bertukar pikiran sekejap dengan Luis Milla dalam bahasa Spanyol tentu sebuah loncatan kesempatan bagi penggembar beyond of the game seperti saya. 

Duduk tak jauh dari tokoh yang sedang menukangi masa depan persepakbolaan Nusantara memaksa saya mencari-cari padanan cerita indah dari ruang bawah tanah Camp Nou. Saya hanya pernah menonton di Camp Nou dan tidak tahu persis di mana letak ruang bawah tanah tersebut. 

Namun, ada spirit of the game yang lahir dari ruang bawah tanah tersebut. Dalam bahasa Nusantara kita, ruang bawah tanah itu ibarat gua, tepat orang bertapa dan bersemedi. Persis yang dilakukan oleh Josep “Pep” Guardiola ketika menjadi pelatih Barcelona. Di tangannya, Real Madrid kehilangan kepercayaan diri.

Berjuang  untuk tidak kebobolan gol saja, sudah sebuah kemenangan bagi Madrid. Pep seperti mengikis habis kemampuan para pemain Madrid sehingga kebobolan lima gol tanpa balas. Itu terjadi pada 29 November 2010. Hanya orang yang memiliki ilmu tingkat dewa dalam sepak bola sanggup menghujani Madrid dengan badai gol tanpa balas. 

"Saya mencintai pekerjaan saya," kata Pep ketika menerima Medalla de Honor dari Parlament de Catalunya pada September 2011. Sejatinya, ia tak semata-mata mencintai, tetapi adorar atau memujanya. Mungkin lebih tepatnya mengagungkannya. Bagi Pep, sepak bola itu adalah sarapan, makan siang, makan malam, mimpi buruk, dan mimpi indahnya. Sepak bola adalah napas hidupnya.  Kata memuja ia sebutkan beberapa kali dalam sambutan yang hanya kurang dari tiga menit.

Kunci keberhasilan Pep berawal dari dalam dirinya. Kita semua sepakat bahwa cinta mampu mengalahkan semua tantangan, sekaligus memberikan energi tak terkira untuk melaksanakan tanggung jawab yang diemban. Cinta itu melahirkan passion atau gairah positif. Pep sendiri mengakui bahwa dia memiliki passion terhadap pekerjaan yang ia lakukan. Pep memang berbicara untuk dirinya, tetapi pernyataan itu berlaku umum, timeless bagi semua profesi, dan bagi semua kegiatan di muka bumi ini. 

Jauh sebelum laga yang sesungguhnya, Pep telah melakuan pertandingan lebih besar dalam dirinya. Menutup diri dalam ruang kecil di bawah tanah, bak seorang pertapa yang berdoa untuk menerawang apa yang mungkin terjadi, jauh sebelum peristiwanya benar-benar terjadi. Visualisasi imajiner itu membantunya dalam mengantisipasi setiap kemungkinan yang akan terjadi pada laga sesungguhnya. Mungkin, pada saat-saat seperti inilah, ide brilian dalam meracik formasi pemain muncul.

Dalam suasana sepi dan tenang inilah melintas ide menempatkan pemain yang biasa di posisi A dipindah ke posisi B.  Kejeniusan metafisik inilah yang alpa dari banyak orang. Inspirasi datang dari sang Ilahi. Pencerahan yang muncul dari mata tertutup adalah rahasia alam yang terkadang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dalam kesunyian ruang bawah tanah, ia melihat terang-menderang laga yang akan berlangsung. Strategi-strategi kejutan Pep, muncul dalam keheningan ruang kerja bawah tanahnya. Baginya, waktu tenang itu adalah sesuatu yang sangat berharga. 

Kata sambutan Pep mengalir begitu saja tanpa teks dengan daya persuasif tingkat tinggi layaknya seorang motivator ulung. Sebagai penutup, Pep mengatakan bahwa para profesional, apakah itu dokter, perawat, guru sekolah, atau bahkan tukang kayu sekali pun seperti ayahnya, akan berhasil dalam melakukan tugasnya bila didasari dengan cinta pada apa yang dikerjakan. 

Bersama Pep, sepak bola tidak semata-mata berhenti di titik kemenangan atau kekalahan. Sepak bola adalah ekspresi hidup, sama seperti sebuah karya seni atau karya teknik. Semua karya itu membutuhkan cinta dan proses pencarian ide kreatif yang tak pernah berhenti. Cinta akan memberikan semangat tanpa habis, anehnya ide kreatif akan muncul dari “kesunyian aktif”. Apakah kita memiliki waktu hening untuk diri sendiri? Ini jadi pertanyaan reflektif bagi semua orang yang ingin tetap menatap masa depan yang lebih baik.

Tentu pertanyaan yang sama layak juga ditujukan kepada para pemain dan pelatih sepak bola yang akan beradu fisik di kancah lapangan hijau. Partai semifinal Piala Presiden masih menjadi batu ujian bagi empat tim tanggung Nusantara. Siapakah yang benar-benar mencintai dan memberikan ruang keheningan aktif untuk menemukan strategi taktis untuk menekuk lawan. Pekan ini, kita semua akan menyaksikan siapakah yang layak tampil sebagai pembuka pertandingan resmi di Camp Nou-nya  Indonesia yaitu Stadion Utama Gelora Bung Karno. 

Kita memang tidak memiliki dan sepertinya tak perlu bermimpi memiliki Pep. Namun, kita memiliki Pep kecil, Luis Milla dan timnya. Ide sepak bola Spanyol telah masuk dan merasuk dalam jiwa-jiwa anak muda Nusantara. Kesederhanan, ketegasan yang kebapakan, taktik berevolusi adalah bagian-bagian yang akan mengendap dalam diri para calon bintang bola tanah air. Luis Milla telah menebar benih yang pernah hidup dalam diri Pep Guardiola selama masih dalam candradimuka pembentukan sepak bola Spanyol. 

Spirit kesunyian Pep itulah yang diharapkan menjadi roh Piala Presiden yang kini sedang memasuki babak semifinal. Stadion Manahan untuk kedua kalinya menjadi tuan rumah. Sebelumnya untuk perempat final yang tergolong sukses. Laga yang telah memberikan pelajaran yang sangat berharga, bukan saja bagi pelatih, tetapi juga semua profesi dalam kehidupan ini.

Bukan kebetulan bahwa Manahan adalah stadion dari kota yang sudah melahirkan tokoh nasional sekelas Jokowi. Tokoh yang juga gemar mencari kesunyian di suasana sulit negara dan bangsa ini. Selamat menonton partai semifinal dan final, semoga siapa pun yang menerima la copa del Presidente adalah pemenang sejati yang merajai kompetisi sebagai spirit sepak bola nusantara baru.*


Advent Tambun
Inisiator Sinabung Jazz, Pemerhati olahraga 

n
Penulis
nana sumarna