TOP OPINI FOOTBALL
2018
24 Januari 2018 04:21 WIB
berita

TIDAK terasa kalender sudah menunjukkan pekan ketiga bulan januari 2018. Aktivitas yang padat memang seringkali membuat kita lupa bahwa tahun sudah berubah. Siang itu, mata terpejam tak sampai dua jam tiba-tiba seisi rumah bergetar. Gempa di siang bolong cukup lama sehingga saya terbangun, beberapa kejadian sebelumnya tak sampai membuat saya meninggalkan dunia mimpi.

Saya ambil napas dalam-dalam. Mencoba meraba lantai berharap tidak ada goyangan susulan dari perut bumi. Gempa singkat ini seakan melengkapi kisah di awal 2018 yang penuh dinamika, terutama di sepak bola. Mulai dari kepindahan sensasional Philippe Coutinho ke Barcelona hingga kabar sulitnya Evan Dimas berkarier di Malaysia setelah Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, mengutarakan keberatannya. Permasalahan yang kemudian dapat diselesaikan dengan baik, namun tak pelak membuat geleng-geleng kepala karena melihat bagaimana hal sederhana ini kemudian menjadi rumit untuk dipahami.

Tahun 2018 juga diisi dengan kegembiraan setelah Stadion Utama Gelora Bung Karno diluncurkan kembali usai direnovasi demi pagelaran Asian Games pada bulan Agustus nanti. Timnas Indonesia berkesempatan menguji peserta Piala Dunia 2018, Islandia, yang datang untung menyeleksi pemainnya yang berasal dari level U-23. Pasukan Luis Milla memang akhirnya harus akui kualitas lawan dengan skor 1-4, namun tak sedikit yang cukup bahagia melihat mental bertanding Septian David dan kawan-kawan yang dinilai tak mudah menyerah.

Ya, salah satu hal yang membuat Luis Milla dan timnas terus dibela adalah karena mereka menunjukkan sikap berbeda di lapangan. Sikap takut menang yang selama ini terlihat, perlahan mulai hilang di bawah sentuhan Milla. Tapi terkadang, hati ingin memaki pelatih asal spanyol ini juga, karena gagal membawa kita ke putaran final Piala Asia U-23. 

Vietnam yang kita tahan mati-matian di SEA Games nyatanya malah melaju ke babak final usai menumbangkan Qatar di empat besar. Saya membayangkan media sosial akan sibuk membicarakan keberhasilan Vietnam, lalu membandingkan dengan kondisi Indonesia yang selalu dipercaya memiliki bakat melimpah. Dengan fakta tambahan bahwa Vietnam hampir selalu "gerogi" bila berjumpa Indonesia di berbagai level usia, sehingga hampir selalu gagal menang.

Maka tak heran bila dalam beberapa hari ke depan PSSI akan sibuk untuk menenangkan hati ketika membaca kritikan di media sosial, tapi tentu saja ini hanya dugaan saya semata. Jika ada satu dugaan yang mungkin berpotensi menjadi kebenaran adalah makin seringnya kata "Pembinaan" muncul. Bukan rahasia jika PSSI selalu kesulitan berkilah bila tudingan mengenai ketidakseriusan dalam mengurus pembinaan pemain muda diapungkan.

Setiap timnas baik senior maupun level usia manapun bertanding serta kemudian kalah, maka PSSI akan dicaci tak becus membuat program, suka dengan hasil singkat, tak sepenuh hati, dan seterusnya. Benarkah? Jika PSSI saja susah untuk menjawabnya, apalagi kita yang cuma berstaus penikmat lapangan hijau.

Filosofi Indonesian Way
Tahukah pada beberapa saat lalu ada kabar Mario Gomez, pelatih baru Persib menyoroti fasilitas latihan timnya? Sebagai mantan pelatih JDT yang dikenal memiliki fasilitas mewah wajar saja bila ada keluhan. Salah satu tim terbesar di Indonesia tak memiliki fasilitas kelas wahid, yang kemudian bila dirunut lebih lanjut itulah realita hampir seluruh klub di Indonesia. Rata-rata klub Liga 1 tak memiliki fasilitas latihan tetap, apalagi bicara kualitasnya.

Melihat fakta ini, sesungguhnya tak heran bila pembinaan tak pernah benar-benar tersentuh. Jika fasilitas untuk tim utama tempat uang berputar saja tak pernah punya, bagaimana mereka punya tempat untuk membina pemain muda yang tergolong "bakar uang". Sungguh dibutuhkan kerja bersama dari seluruh pihak yang mengaku peduli sepak bola untuk turun tangan. Mengaplikasikan kata pembinaan termasuk para peserta liga yang memang memiliki kewajiban melakukan pembinaan usia muda sebagai salah satu syarat utama kalau mau disebut sebagai klub sepak bola sesungguhnya.

Saat ini PSSI telah mengeluarkan formula berjudul Filosofi Indonesian Way. Sebuah rumusan cara bermain sepak bola ala Indonesia, yang sesungguhnya tak sekadar mengubah teknik bermain tapi juga cara berpikir. Buku petunjuk harus bisa diserap oleh semua orang yang ingin memberikan sumbangsih kepada sepak bola, tidak sekadar memberikan kursus pelatih kepada mantan pemain saja.

Saya membayangkan di level klub peserta liga, Bhayangkara FC dan PS TNI (yang sekarang menjadi PS TIRA) rasanya bisa pemimpin di proyek ini. Di luar kehadiran kedua klub ini yang penuh kontroversi, namun ketidak sempurnaan catatan sejarah mereka setidaknya bisa tertutupi bila mereka berinisiatif untuk menjadi pionir filosofi Indonesian Way. Apa alasannya?

Jawabannya ada di atas, Fasilitas! Suka atau tidak, Bhayangkara dan PS TIRA yang berlatar belakang institusi kepolisian dan militer Indonesia, memiliki fasilitas latihan yang secara kuantitas berlimpah. Setidaknya di setiap ibukota provinsi, mereka bisa menggunakan fasilitas lapangan di Mapolda ataupun Makodam dengan bebas. Bandingkan dengan klub lain yang harus sewa lapangan setiap melakukan laga tandang.

Ketika klub lain sibuk mencari lapangan sebagai tempat latihan akademinya, baik Bhayangkara FC dan PS TIRA tinggal menggunakan fasilitas negara itu. Untuk kepentingan pembinaan, tidak mengapa kan menggunakannya? Kedua tim tersebut kini tinggal mencari titik tengah. Menarik pemodal lokal dan  mencari bentuk organisasi yang tepat untuk menjalankan akademi sepak bola ini tanpa melanggar undang-undang negara.

Para pelatih utama dari kedua tim dibantu dengan Direktur Teknik PSSI, bisa menularkan ilmu mereka kepada pelatih-pelatih lokal yang bertanggung jawab terhadap akademi. Bisa dibayangkan, baik Bhayangkara FC maupun PS TIRA bisa memproduksi ribuan pemain dari 33 provinsi yang ada setiap tahun.

Andaikan kedua tim ini mau menjadi contoh dan mengalihkan prioritas utama ke unsur pembinaan, rasanya sedikit demi sedikit telinga kita mulai berkurang gatalnya setiap dengan kata pembinaan. Bila ini berjalan, bisa jadi tahun 2018 akan menjadi tahun kebangkitan sepak bola sesungguhnya.* Bagus Priambodo

n
Penulis
nana sumarna