TOP OPINI FOOTBALL
Memerlakukan Tempat Duduk dengan Benar!
20 Januari 2018 04:20 WIB
berita
Drs. Supartono, M.Pd.

TEMPAT duduk dan kedudukan banyak diburu orang, setelah dapat, lupa bagaimana cara menghargai. Mengapa publik sepak bola nasional baik di media sosial, media cetak, maupun media elektronik, kini membincang aksi suporter yang bersikap tidak cerdas di dalam Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) saat menyaksikan laga timnas Indonesia lawan Islandia, pekan lalu itu?

Bahkan perbincangan mereka pun disertai bukti foto-foto dan perilaku penonton yang menunjukkan bahwa dirinya tidak cerdas dalam memerlakukan tempat duduk penonton? Sebelum laga Indonesia versus Islandia dimulai, SUGBK sebagai Stadion terbesar milik Indonesia setelah direnovasi dengan nilai Rp 769,7 miliar ini, suporter bahkan sudah mulai dipersilakan memasuki SUGBK melalui pintu masuk canggih. Kemudian petugas melakukan pemeriksaan barang bawaan.

Penonton masuk ke dalam stadion harus antre sesuai dengan gate yang tertera pada tiket yang dibeli. Sesudah itu, petugas penjaga tiket akan membantu penonton menempelkan tiket ke mesin barcode yang berwarna putih, barulah setelah itu bisa menuju bangku penonton sesuai nomor yang tertera dalam tiket.

Ada Sosilaisasi CCTV
Sayangnya, di awal SUGBK dibuka kembali dan diharapkan bisa dijaga usai direnovasi, namun di pergelaran perdana SUGBK menampung suporter, banyak penonton yang masih bandel dengan menginjak-injak kursi dan duduk di sandaran punggungnya. Minggu (14/1), publik pecinta sepak bola nasional ternyata bukan hanya menjadi saksi peresmian kembali SUGBK oleh Presiden Joko Widodo dan timnas Indonesia kalah 1-4, tetapi sekaligus menjadi saksi betapa masih lemahnya etika suporter Indonesia menjadi penonton sepak bola yang benar ketika berada di lingkungan dan di dalam Stadion.

Apalagi adanya fakta lemahnya kesadaran suporter untuk turut menjaga dan merawat seputar dan di dalam SUGBK yang kini sudah cantik dan modern. Padahal, SUGBK butuh waktu proses renovasi selama 16 bulan dan menghabiskan dana miliaran. Tapi apa yang dilakukan penonton kita saat menjadi saksi atas kemegahan SUGBK yang pertama kali? Di linimasa jejaring sosial Instagram, banyak foto-foto yang memperlihatkan ulah penonton yang tidak cerdas dengan menginjak-injak kursi penonton SUGBK.

Bukannya duduk manis, kebanyakan malah berdiri di atas kursi. Banyak akun media sosial  yang menggunggah foto seorang suporter asyik menonton dengan duduk di bagian sandaran punggung dan menginjakkan kakinya ke tempat duduk. Sementara foto-foto lain memperlihatkan seseorang berdiri di atas kursi untuk membentangkan syal bertuliskan Indonesia. Padahal jika dicermati, banyak kursi yang masih kosong sehingga tidak ada alasan terhalangi menyaksikan timnas sampai harus duduk di sandaran. 

Maka, tak ayal bila berbagai kecaman warganet berseliweran di media sosial dan mengumpat terhadap penonton yang tidak pakai otak. Mengapa? Waktu kurang lebih dua jam yang diberikan untuk penonton sudah memasuki SUGBK dan penonton dapat duduk di kursi sesuai nomor tiket, ternyata memang digunakan oleh pihak pengelola SUGBK sekaligus untuk melakukan sosialisasi etika duduk yang benar kepada penonton.

Fasilitas CCTV (Closed Circuit Television) yang tersebar di setiap sudut SUGBK seharusnya sangat mujarab memberikan sosialisasi sekaligus edukasi kepada suporter untuk duduk di bangku penonton sesuai etika yang benar. Faktanya, CCTV di dalam SUGBK langsung dapat menyorot dan menayangkan hingga meng-close-up di layar besar penonton-penonton yang duduk tidak semestinya.

Saat CCTV menangkap penonton yang tidak memperlakukan kursi penonton dengan benar, layar besar langsung menayangkan dan seketika suporter di SUGBK meneriaki penonton yang terkena sorot CCTV. Berkali-kali CCTV menangkap dan layar besar menayangkan perilaku penonton yang tidak etis, ternyata tetap saja tidak menyadarkan sebagian penonton lain yang tetap mengabaikan soosialisasi dari CCTV dan layar besar.

Pertanyaannya, model suporter macam apakah penonton macam ini? Harus ada aturan dan regulasi tegas dari pihak pengelola SUGBK untuk mengedukasi dan menindak penonton, agar hasil renovasi yang miliaran rupiah itu, tidak dengan semena-mena dirusak oleh oknum penonton yang belum cerdas otak, sekaligus mempersipkan penonton cerdas tuan rumah Asian Games di segala stadion berlangsungnya arena pertandingan.

Sisi Lain SUGBK
Catatan paling menyita warganet tentang pembukaan kembali SUGBK untuk laga timnas memang tentang perilaku penonton yang tidak etis memperlakukan tempat duduk, karena bangku SUGBK kini sudah memenuhi standar rekomendasi/regulasi yang tertuang dalam Safety of Sports Ground Act 1975 dan The Football Spectators Act (1989), salah satunya berisi maklumat stadion-stadion harus memiliki tempat duduk (single seat) untuk masing-masing penonton yang bertiket.

Namun, ada catatan lain yang juga wajib publik sepak bola nasional dan pengelola SUGBK ketahui, selain menyoal tempat duduk yang menjadi keprihatinan kita semua. Sepanjang pengamatan saya turut menjadi saksi dibukanya kembali SUGBK, pertama tentang pembelian tiket, penukaran tiket online di lokasi SUGBK, penjualan tiket langsung di SUGBK harus benar-benar tersosialisasi dengan baik ke publik.

Fakta yang terjadi, masih banyak penonton yang kebingungan mencari tempat penukaran tiket online dan membeli tiket langsung. Padahal tempat penukaran tiket online hanya disediakan di satu area. Begitupun menyoal pembelian tiket langsung. Letak loket dadakan yang dibuka panitia ternyata juga membuat kebingungan penonton mencari lokasinya. Belum lagi penonton yang hadir melalui berbagai pintu masuk di seputar SUGBK, akhirnya para penonton hilir mudik sekadar mencari lokasi penjualan dan penukaran tiket.

Kedua, sebelum penonton berjuang untuk menukarkan tiket online maupun membeli tiket langsung, penonton yang membawa kendaraan bermotor, juga harus berjuang mencari tempat parkir. Ironisnya, banyak kendaraan yang dapat parkir seenaknya di dekat petugas berseragam, karena katanya koleganya. Namun, suporter umum, untuk parkirpun harus berjuang.

Ketiga, sebelum masuk ke ring seputar SUGBK, penonton juga harus berjuang. Saya dan mungkin sebagian dari penonton pasti turut merasakan dongkolnya antre masuk ke SUGBK , mengikuti berbagai proses pemeriksaan badan dan barang hingga akhirnya masuk ke area check in. Masuk ke mesin pemindai barang. Prosedur keamanan macam masuk ke bandara ini belum tersosialiasi dengan baik ke suporter. Sehingga cukup merepotkan petugas sendiri dan membuat antrean mengular.

Lebih dari itu, ternyata untuk mengantisipasi terjaminnya keamanan, sekitar 36 ribu suporter yang hadir ke SUGBK, hanya disediakan kurang lebih 3 pintu detektor badan dan barang di seputar SUGBK. Sangat tidak logis. Area seluas SUGBK harus ditempuh dengan berjalan kaki memutar mencari 3 titik pintu masuk detektor sebelum masuk pintu SUGBK yang juga ada pemeriksaan lagi.

Keempat, pengelola SUGBK harus konsisten dalam aturan penonton tidak boleh membawa makanan ke dalam Stadion. Kendati di dalam Stadion telah disediakan fasilitas mineral gratis dengan plastik tempat minum dan sedotannya, seperti halnya etika duduk, etika mengenai makanan juga tetap menjadi persoalan besar.

Sebelum masuk Stadion dengan tiket berbarcode, petugas di pintu masuk wajib memastikan penonton tidak membawa makanan ke dalam Stadion, penonton yang ketahuan menyimpan makanan dalam tasnya, pasti langsung meminta makanan dihabiskan dulu atau memabaginya ke penonton lain atau meninggalkannya di pintu masuk.

Sekilas proses ini cantik. Namun, di dalam Stadion ternyata masih ada penonton yang dapat mengeluarkan makanan dari tasnya dan makan serta meninggalkan sisa atau sampahnya nya di sekiling tempat duduknya. Saat jeda pertandingan, karena pada umumnya suporter masuk ke Stadion tidak dengan bekal makanan dan cemilan, karena menunggu pertandingan di atas dua jam, pastilah kelaparan.

Al hasil banyak penonton yang juga terpaksa memesan makanan di balik jeruji pintu masuk dan keluar stadion. Hebatnya, sudah tidak ada lagi petugas yang mengawasi. Hasilnya, sisa makanan dan bungkus makanan pun berserak karena penonton juga tidak lagi memikirkan etika kebersihan.

Harus dipikirkan, bagaimana agar penonton tidak kelaparan, gara-gara proses masuk ring stadion dan ke dalam Stadion yang sangat-sangat menguras tenaga dan waktu, namun di dalam Stadion juga tetap bebas dari sampah. Percuma Stadion megah dengan 7 fasilitas baru (kursi singe seat, deteksi wajah, rumput baru,pencahayaan baru, panel surya, papan skor berkelas, sound system berkelas) dan fasilitas lainnya hadir, namun tetap membuat penonton tidak nyaman gara-gara sudah kecapaian masuk seputar SUGBK.

Momentum Piala Presiden
Mumpung persoalan penonton yang tidak cerdas di SUGBK kini sedang hangat diperbincangkan publik sepak bola nasional, gelaran Piala Presiden yang kick-off 16 Januari hingga 17 Februari, harus menjadi momentum bangkitnya kecerdasan penonton. Semoga pengelola dan seluruh suporter yang hadir di Stadion Gelora Bandung Lautan Api-Bandung, Stadion Batakan-Balikpapan, Stadion Gelora Bung Tomo-Surabaya, Stadion Kapten I Wayan Dipta-Bali dan , Stadion Kanjuruhan-Malang dapat memberikan contoh menjadi suporter yang memperlakukan bangku penonton sesuai etika yang benar.

Dan harapannya, stasiun televisipun menyorot ke arah penonton yang tidak etis memperlakukan tempat duduknya plus diperkuat oleh host dan komentatornya untuk menghimbau agar penonton membiasakan diri beretika dengan baik.  Masih banyak hal yang harus diperbaiki di sepak bola nasional, namun menyoal tempat duduk penonton, rasanya juga menjadi persoalan yang sangat urgen, karena hal ini akan dapat dinilai dari tingkat kecerdasan bangsanya saat nanti tuan rumah Asian Games disandang Indonesia.
Ayo suporter, penonton Indonesia, pasti Anda bisa memperlakukan tempat duduk penonton dengan benar di semua stadion! Amin.

 

Drs. Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepak Bola Nasional


 

n
Penulis
nana sumarna