LIGA ITALIA
Allianz Stadium Lebih Menghasilkan Ketimbang San Siro
10 Januari 2018 16:40 WIB
berita
skyscraperCity

MILAN – Hanya ada sedikit stadion yang masih menarik disambangi tifosi sepakbola Seri A. Allianz Stadium yang modern, San Siro dan Olimpico yang sarat dengan sejarah.

Bagi Juventus, Allianz Stadium merupakan salah satu mesin pendulang uang. Struktur bangunan kokoh dan modern dilengkapi berbagai fasilitas, plus prestasi mengilap I Bianconeri, membuat suporter rajin datang ke sana.

Di luar tiket, pendapatan Juve dari aktivitas niaga di stadium meningkat secara bertahap. Menurut situs Calcio e Finanza, klub milik keluarga Agnelli itu meraup 4,2 juta euro (sekira Rp 67,3 miliar) musim 2011/12 atau sesaat setelah dibuka untuk umum. Rinciannya 2,7 juta euro dari sektor komersial, termasuk tur stadion dan museum. Sekira 1,5 juta euro dari penyewaan area stadion untuk aktivitas lain di luar laga.

Musim berikutnya, terjadi lonjakan pemasukan hingga 78 persen. Bisnis mulai lesu antara 2013 dan 2016.  Kendati demikian tetap terjadi kenaikan income 5-10 persen per tahun.

Pendapatan Juve merekah lagi setelah mereka memastikan lolos ke final Liga Champions. Per musim 2016/17, klub mengeruk 15,7 juta euro (komersial 10 juta euro, aktivitas non pertandingan 5,7 juta euro). Terlihat pertumbuhan 58 persen dari periode sebelumnya.

Sementara itu, San Siro yang menjadi markas dua klub meraup pendapatan rata-rata di atas 10 juta euro. Namun grafiknya fluktuatif tergantung sejauh mana prestasi tim. Dalam kurun waktu 2011-2017, pendapatan paling tinggi tercatat pada musim 2015/16, menyentuh 15,7 juta euro. Pendapatan mereka terdongkrak karena menjadi tuan rumah final Liga Champions.

Income untuk pengelola San Siro, di luar aktivitas sepakbola, berasal dari toko resmi klub, museum dan tur, sponsor, pengembalian biaya operasi, dan penyewaan stadion. Distribusi selebaran dan penyewaan fasilitas outdoor ditiadakan dua tahun terakhir.

Musim lalu San Siro hanya mendapat 13,8 juta euro, terjadi penurunan 11 persen. Pemindahan museum ke Casa Milan dan pembukaan toko di sana, turut memengaruhi selain berkurangnya animo sponsor mempromosikan produknya di stadion dengan nama resmi Giuseppe Meazza itu.

 

X
Penulis
Xaveria Yuanita