TOP OPINI OLIMPYC
Saatnya Marquez Hengkang dari Honda
11 Desember 2017 04:21 WIB
berita
Hendry Wibowo

SEMUA penikmat MotoGP rasanya sepakat Marc Marquez telah menjadi ikon baru di olahraga ini. Indikasinya cukup dengan melihat titel juara dunia yang ia raih di kelas tertinggi Kejuaraan Dunia Balap Motor. 

Naik kelas ke MotoGP sejak 2013, Marquez sudah merasakan gelar terbaik sebanyak empat kali. Artinya, dari lima musim tampil, ia hanya sekali gagal menjadi juara dunia yaitu di musim 2015. Fantastis.
 
Rekam jejak Marquez seakan mengingatkan kita terhadap masa keemasan Valentino Rossi di MotoGP yang dahulu dikategorikan di kelas 500 cc. Layaknya Marquez, Rossi juga sukses jadi juara dunia empat kali dalam kurun waktu lima musim pertama pada kelas paling bergengsi itu. 

Sosok pembalap seperti Rossi atau Marquez memang tidak lahir setiap tahun. Keduanya sangat spesial. Tidak hanya dibekali skill balap mumpuni, karena daya tarik yang keduanya miliki, Rossi maupun Marquez sama-sama punya basis fan besar. Memang, fan pun mengagumi performa keduanya sehingga menjadikan Rossi dan Marquez pujaan.
    
Berbicara soal fan, kini kelompok fan Rossi dan Marquez sedang berdebat siapa pembalap terbaik di antara keduanya. Semua tahu, awalnya fan dua pembalap ini begitu akur. Mereka seperti memahami bahwa dua pembalap pujaan berada di dua kotak yang berbeda.

Rossi dan Marquez memang punya hubungan yang sangat dekat. Maklum, sang junior sempat berkoar bahwa Rossi merupakan pembalap anutannya. Faktanya terbukti lewat sebuah foto. Kala itu, Marquez kecil, layaknya seorang fan, meminta sang idola untuk berfoto bersama. 

Itu dulu, saat Rossi merasa belum tersaingi hegemoninya oleh Marquez. Kejadian di GP Malaysia 2015 mengubah situasi. Hubungan Marquez-Rossi tidak pernah kembali seperti dahulu. Walau wafatnya pembalap Moto2, Luis Salom tahun lalu, ‘memaksa’ pembalap beda generasi ini saling memaafkan. 

Perseteruan Marquez-Rossi pun menjalar hingga akar rumput. Cukup menengok aktivitas kedua fan pembalap ini di media sosial. Hujatan atau saling memaki seakan hal yang sangat wajar. Terus bergulir dan kian meruncing. Utamanya, tiap usai lomba di musim ini.

Nah, pertanyaannya siapa yang terbaik di antara Marquez dan Rossi? Jujur saja sulit menjawabnya. Keduanya sama-sama punya skill istimewa. Keduanya juga sukses mendominasi persaingan MotoGP saat berada di puncak karier. 

Namun kita tidak bisa mengelak fakta, Rossi sudah masuk fase akhir di dalam kariernya. MotoGP 2017 diyakini kesempatan terakhir pembalap asal Italia itu menambah daftar titel juara dunia. 

Pembalap berusia 38 tahun itu diyakini akan pensiun tahun depan seandainya Yamaha gagal memberikan motor kompetitif. Mahkota juara dunia The Doctor pun terhenti di angka sembilan kali. Sekali di 125 cc, sekali 250 cc, dan tujuh kali 500 cc/MotoGP.

Sedangkan pada usia 24 tahun, Marquez sudah merasakan enam gelar terbaik. Sekali di 125 cc, sekali Moto2, dan empat MotoGP. Kariernya juga masih begitu panjang. Singkatnya, jangankan torehan gelar juara dunia Rossi, kakak dari pembalap Moto2 Alex Marquez itu juga berpotensi jadi pembalap dengan titel juara Kejuaraan Dunia Balap Motor terbanyak mengalahkan Giacomo Agostini (15 kali). 

Oke, mari berangan-angan, anggaplah Marquez bisa menyamai jumlah gelar milik Rossi. Tapi, apakah itu indikasi ia lebih baik dari seniornya? Masih belum, bila ia meraih semua gelar juara dunia bersama Tim Repsol Honda. Atau, dengan motor satu merek, dalam hal ini, ya Honda.

Fakta yang akan dialami Marquez bahkan sebaliknya. Dia bakal divonis tidak lebih baik dari Rossi, bahkan Casey Stoner. Adalah fakta Rossi dan Stoner berhasil merasakan titel juara dunia bersama dua pabrikan berbeda. 

Rossi meraihnya bersama Honda (2001) dan Yamaha (2002, 2003, 2004, 2005, 2008 dan 2009). Sedangkan Stoner lebih dahsyat lagi. Dia melakukannya di Ducati (2007), yang dikenal motor paling sulit ditaklukkan di MotoGP. Kemudian, pembalap asal Australia itu juga merasakan hal sama saat memperkuat Honda (2011).

Kesimpulannya, Marquez wajib pindah dari Honda bila ingin dianggap punya prestasi lebih hebat ketimbang Rossi. Kini, Marquez memang berada pada zona nyaman. Terlepas motor Honda RC213V masih memiliki kekurangan, motor ini memang diriset Honda khusus buat dirinya. Disesuaikan dengan gaya membalapnya.

Dia layak berterima kasih kepada rekan setimnya, Dani Pedrosa yang memang bukan tipe pembalap pembangkang. Coba bila partner Marquez adalah Jorge Lorenzo, ia tidak akan menerima tim memprioritaskan salah satu pembalap. 

Benar, Marquez merupakan tipe pembalap yang bisa menyembunyikan kelemahan RC213V. Dia bahkan pembalap yang mampu melaju lebih cepat dari motornya. Mungkin saking hebatnya, RC213V-lah yang harus bisa mengimbangi hasrat Marquez saat berada di lintasan.

Masalahnya, apakah ia bisa melakukannya di tim lain? Sebuah pertanyaan yang tak punya jawaban seandainya sang pembalap tidak berani keluar dari zona nyaman. Marquez memang harus pindah dari Honda. 

Persis seperti keberanian Lorenzo yang hengkang dari Yamaha ke Ducati. Menariknya, beberapa musim ke depan dinilai momen tepat untuknya pindah. Kebetulan kontraknya bersama Honda bakal habis pengujung musim 2018. 

Lantas ke tim mana Marquez berlabuh? Opsi pertama, seandainya Rossi pensiun dari MotoGP, sangat menarik tentunya bila Marquez sampai pergi ke Yamaha. Persis langkah Rossi 14 tahun lalu. Duet Marquez-Maverick Vinales di Yamaha sangat menarik untuk dilihat. Karena, Vinales juga pembalap yang kompetitif.
 
Masalahnya Honda tidak akan mengulang kesalahan saat melepas Rossi ke Yamaha. Oleh karena itulah, opsi kedua jadi paling mungkin yaitu hengkang ke KTM yang disponsori Red Bull yang juga berstatus sponsor Marquez. 

Jika opsi kedua terealisasi, dipastikan banyak yang mempertanyakan pilihan Marquez. Maklum KTM berstatus pabrikan baru di MotoGP 2017. Motornya saja tidak kompetitif. Bisa jadi Marquez dianggap konyol jika benar menunggangi KTM.

Namun, justru di sinilah Marquez bakal unjuk gigi. Lewat pengalaman, masukan plus kemampuannya, ia dituntut menyulap motor KTM yang tadinya biasa saja jadi luar biasa. Persis seperti yang dilakukan Rossi di Yamaha dahulu.
 
Kini pilihan ada di tangan Marquez. Apakah ia ingin meraih banyak gelar bersama Honda tapi dianggap tidak lebih baik dari Rossi atau hengkang ke tim lain dengan anggapan pembalap terbaik sepanjang masa ada di depan mata.***

 

Hendry Wibowo
Penulis adalah Wartawan Harian Olahraga TopSkor

n
Penulis
nana sumarna