KICK OFF
Napoli Bisa Fokus ke Seri A
08 Desember 2017 04:00 WIB
berita

BUKAN salah Josep Guardiola jika Napoli terlempar dari Liga Champions. Nasib I Partenopei memang sudah ditentukan sebelum laga lawan Feyenoord digelar. Bagaimanapun, masukan Maurizio Sarri menantang Feyenoord dengan kondisi yang rumit. Laga ini diwarnai dengan persiapan The Citizens menghadapi derby Manchester, lawan Manchester United (MU), akhir pekan ini. Laga ini menegaskan bahwa City sudah lolos sebelum putaran terakhir penyisihan grup digelar.

Jadi, bukan salah Guardiola jika mungkin pasukannya menyonsong pertandingan lawan Shakhtar Donetsk dengan sikap yang berbeda. Intinya, laga lawan Shakhtar tidak lagi penting bagi City. Yang paling utama adalah laga akhir pekan ini, menghadapi MU. Karena itu, sah-sah saja jika Guardiola menurunkan sebagian pemain yang berbeda. Sebut saja, pilihan pemain yang tidak biasa, bukan 11 pemain yang kompetitif alias biasa starter.

Napoli, seperti biasa bermain atraktif. Mereka mencoba memburu kemenangan dalam babak pertama. Pasukan Sarri tampil menyerang. Namun, tiba-tiba Napoli yang berbeda terlihat di babak kedua. Permainan mereka tidak bertenaga. Semua itu karena kabar dua gol yang diciptakan Shakhtar ke gawang City. Dengan kemenangan Shakhtar, praktis tidak ada tiket 16 besar bagi Napoli. Mereka harus menerima kenyataan, tampil di ajang Liga Europa.

Yang terlihat dalam Feyenoord vs Napoli adalah, pertandingan yang memang benar-benar dinilai dari hasil. Bukan dari penampilan. Gol Feyenoord pun terjadi dalam proses yang baik. Mereka kuat dan mampu memberikan perlawanan. Hanya, ini memang situasi yang sangat tidak tepat. Napoli berada dalam situasi yang salah ketika nasib mereka tidak lagi ditentukan oleh mereka sendiri. Ironisnya, Guardiola “tidak memberikan pertolongan” karena mereka pun memiliki prioritas yang lain.

Napoli adalah anomaly dalam sepak bola Italia. Untuk menjadi pemenang dalam ajang Eropa, mereka tim yang naif. Sarri dan pasukannya percaya kepada sportivitas. Namun, untuk sukses di Eropa, mereka juga perlu bermain sedikit “kotor”. Yang pasti, kegagalan di Liga Champions menjadi titik perubahan target bagi Napoli. Titik tolak untuk Sarri dalam membidik target dengan fokus yang menjadi lebih besar: scudetto. Ya, Napoli kini bebas untuk memburu scudetto, terlepas dari keterikatan untuk membagi perhatian di Liga Champions.

Sarri sendiri menegaskan dirinya tidak merasa dipermainkan oleh Guardiola. Dalam situasi ini, tentu sulit memotivasi tim. Pada kenyataannya Guardiola sulit untuk memacu timnya bermain maksimal, menjadikan laga lawan Shakhtar sebagai laga hidup mati. Karena mereka tidak lagi memiliki kepentingan di laga ini. Berbeda dengan Sarri, dia sempat menyatakan bahwa dirinya tidak perlu memengaruhi psikologis pemainnya dalam menghadapi laga tertentu, khususnya pertandingan seperti ini.

Di satu sisi, kalah atau terlempar dengan cara seperti ini memang menyakitkan. Meski demikian, Napoli harus bangkit. Mereka bisa berkonsentrasi ke Seri A. Menata kembali setelah pekan lalu kalah dari Juventus. Momen itu bisa dimulai dengan laga pekan ini lawan Fiorentina. Apalagi, kegagalan Napoli di Liga Champions memang sudah bisa ditebak. Pertama karena barisan lini depannya yang kehilangan ketajamannya. Dries Mertens, sudah lima laga terakhir tidak lagi menorehkan gol.

Cukup melihat data bahwa Napoli dalam fase menurun. Sebelum laga ini, hanya 19 gol yang mampu diciptakan trio lini depan Napoli (Mertens, Jose Callejon, dan Lorenzo Insigne). Itu jumlah yang terlalu sedikit. Lalu, Napoli hanya menorehkan tiga gol dalam empat pertandingan terakhir Seri A. Atau, rata-rata hanya menorehkan 0,75 gol per pertandingan. Napoli memang tidak krisis, tapi bisa dibilang mereka justru mengkhawatirkan. Kegagalan Napoli terjadi sejak mereka memberikan 6 poin kepada City, 3 kepada Shakhtar.*Irfan Sudrajat

n
Penulis
nana sumarna