TOP OPINI FOOTBALL
PSSI: Antara Keberhasilan, Laporan, dan Evaluasi
08 Desember 2017 04:21 WIB
berita
Drs.Supartono, M.Pd.

Sepak bola nasional terus menggeliat, di akar rumput, usia dini dan muda, kompetisi usia 8 hingga 16 tahun khususnya di Jabodetabek terus bergulir dikelola oleh pihak swasta. Di kompetisi resmi gawean PSSI, Liga 1 tuntas. Liga 2 berkelas, bahkan hasil dari kompetisi Liga 2, kembali mengantarkan tiga tim bersejarah kembali masuk di kasta tertinggi sepak bola tanah air yaitu Liga 1. Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan PSIS Semarang, 

Kehadiran ketiga tim eks perserikatan yang pernah merasakan manisnya menjadi jawara kompetisi tertinggi, benar-benar menjadi uforia baru bagi persepakbolaan di tanah air. Aktifnya timnas U-16, U-19, U-22/23 serta timnas senior yang telah merengkuh jalur prestasi di kancahnya masing-masing, turut mendongkrak peringkat FIFA.

Suksesnya Kompetisi Liga 1 dan Kompetisi Liga 2, plus kembalinya Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan PSIS semarang, ke kasta tertinggi kompetisi PSSI, akan sangat signifikan untuk meraup sponsor. Bisa jadi sponsor-sponsor Liga 1 dan Liga 2 akan berebut mendapatkan kontrak dari PSSI sebagai sponsor utama. Demikian pun pihak stasiun televisi nasional, tentu akan saling bersaing mendapatkan hak siar kompetisi.

Sebagai catatan, Liga 1 tanpa Persebaya, PSMS, dan PSIS saja sudah sangat meriah, terutama dengan melihat dukungan suporter macam Persib Bandung, Persija Jakarta, Arema Malang, PSM Makasar, Bali United, dan Madura United. Kini, Liga 1 musim 2018 akan hadir suporter Bonek Persebaya, lalu SMeCK PSMS Medan, dan Panser Biru PSIS Semarang.

Selama ini daya magis dari ketiga tim asal perserikatan tersebut, tidak terbantahkan bila tim kasayangannya berlaga, dan ini sudah pasti akan menjadi satu di antara nilai jual yang akan memberikan keuntungan bagi siapa pun sponsor yang akan diberikan kepercayaan oleh PSSI menjadi pendukung kompetisi.

Laporan dan evaluasi
Suksesnya Liga 1 dan Liga 2, secara kasat mata, belum menjamin secara manajerial, PSSI dan Operator Liga dianggap sukses pula. Karenanya, sebagai sebuah program kegiatan yang tentunya didahului oleh rancangan proposal kegiatan, maka ketika kegiatan telah usai, maka laporan kegiatan pun wajib dibuat secara tertulis dan transparan.

Mengingat kepemimpinan PSSI di bawah komando Edy Rahmayadi, bisa dianggap sebagai periode transisi setelah PSSI mengalami keterpurukan, maka pemerintah masih memiliki hak untuk menagih laporan kegiatan PSSI. Maka, tidak salah bila dalam surat Menpora yang diterbitkan 9 November 2017 yang lalu, Imam menyayangkan kontroversi yang terjadi jelang penutupan musim Liga 1 dan Liga 2 2017. 

Berikutnya, Imam mendesak PSSI untuk memenuhi empat permintaan pemerintah. antara lain waktu itu meminta PSSI menggelar seluruh laga akhir kompetisi secara serentak, menyiarkan langsung, dan berhenti mengubah keputusan mendadak. Berikutnya, Menpora menunggu Ketua Umum PSSI menyampaikan laporan lengkap dan klarifikasi kepada pemerintah tentang penyelenggaraan Liga 1 dan Liga 2. 

Apa yang diminta Imam atas nama pemerintah, adalah sebuah kewajaran. Mengapa? Laporan kegitan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 yang bertabur sponsor, dari segi anggaran tentu perlu ada transparansi, terutama yang lebih proiritas adalah kepada seluruh Klub peserta Kompetisi Liga 1 dan 2, lalu kepada publik pencinta sepak bola nasional yang menjadi subyek mengapa sponsor mau mendanai kompetisi. Suporter sudah makin cerdas dan itu menguntungkan PSSI. Pasalnya, sponsor akan mudah masuk.

Jadi, bila seluruh hal terkait kerja sama dengan sponsor telah tuntas, maka hak dan kewajiban PSSI terhadap klub, pemerintah, dan suporter juga wajib dituntaskan dalam bentuk laporan. 

Laporan secara tertulis tentang seluruh kegiatan PSSI terutama terkait Liga 1 dan Liga 2, baik secara teknis maupun non teknis, sangat vital sebagai pijakan langkah untuk menggulirkan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 musim 2018. Dari laporan yang ada, maka akan dapat diidentifikasi, mana kelebihan dan kekurangan penyelenggaraan Liga 1 dan Liga 2 tahun 2017. Harus ada evaluasi, baru dapat menggulirkan Liga 1 dan Liga 2 mendatang dengan lebih baik, dengan lebih meningkat, dan semakin minimalis segala kekurangannya.

Piala Presiden
PSSI juga telah memastikan turnamen pramusim Piala Presiden 2018 akan digelar pertengahan Februari 2018. Piala Presiden akan menjadi ajang pemanasan untuk 18 klub yang berlaga di Liga 1 musim 2018, Sementara, waktu turnamen akan ditentukan setelah PSSI menghadap Presiden RI Joko Widodo, ungkap Edy dalam jumpa pers di Makostrad, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Ada lima visi dan misi dalam turnamen Piala Presiden kali ini. Di antaranya ada transparansi keuangan,hingga sarana pencarian pemain muda berbakat. Seperti dua edisi Piala Presiden sebelumnya, firma swasta PricewaterhouseCoopers akan digandeng sebagai auditor keuangan independen turnamen. Selain itu, sebanyak lima sampai enam orang akan duduk sebagai Organizing Committee (OC) mulai dari pihak kepolisian, mantan pemain, pelatih, hingga jurnalis senior.

Misi lainnya adalah menjadikan turnamen sebagai sarana prestasi agar ditemukan bakat-bakat terpendam yang bisa dipanggil timnas. Piala Presiden juga harus menjadi hiburan rakyat. Misi berikutnya, sesuai arahan Presiden turnamen ini harus bisa menggerakkan ekonomi kerakyatan. Pedagang kaki lima, ojek, hotel, transportasi, semua jadi lebih bergairah. Ini misi yang akan dijaga dalam gelaran edisi ke-3 Piala Presiden 2018.

Perlu publik ketahui, pada edisi perdana Piala Presiden yang digelar pada tahun 2015, Persib Bandung menjadi kampiun. Di laga final, Maung Bandung menang 2-0 atas Sriwijaya FC di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 18 Oktober 2018. Sementara di Piala Presiden 2017, Arema FC keluar sebagai juara. Tim Singo Edan menang telak 5-1 atas Pusamania Borneo FC pada laga final di Stadion Pakansari, 12 Maret 2017.

Piala Presiden memang dijadikan ajang pemanasan untuk klub-klub peserta kompetisi Liga 1 yang berjumlah 18, namun sifatnya tidak wajib dan tidak memaksa. Hadirnya Persebaya, PSMS Medan, dan PSIS Semarang, tentu akan semakin menyemarakkan gelaran edisi ke-3 Piala Joko Widodo ini. 

Menggeliatnya pembinaan dan kompetisi sepakbola akar rumput, mengilapnya timnas di semua level, tuntasnya gelaran kompetisi Liga 1 dan Liga 2, hingga naiknya peringkat FIFA Indonesia, hingga persiapan Piala Presiden edisi ke-3, serta membanjirnya sponsor dalam semua gelaran sepakbola nasional, adalah indikator dari keberhasilan program-program PSSI di bawah komando Edy.

Namun demikian, agar seluruh program mendatang dapat berjalan lebih berkualitas dan dipercaya publik, mengingat sepakbola nasional kini telah menjadi industri, maka laporan dan evaluasi menjadi hal yang wajib diprioritaskan, dituntaskan, sebelum kaki melangkah ke program lanjutan. Bravo PSSI. Berhasilmu terukur, ranking FIFA pun sebuah bukti.***


Drs.Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepakbola Nasional

n
Penulis
nana sumarna